Showing posts with label Writing. Show all posts
Showing posts with label Writing. Show all posts
Allianz Explorer Camp dan Kesempatan Indah Merumput Ke Eropa

Waktu kecil dulu, kalau ditanya apa olahraga favorit saya, jawabannya pasti sepak bola. Mungkin karena dari kecil saya memang terbiasa bermain di luar rumah dan bermain sepak bola menjadi salah satu kegiatan rutin saya dan saudara-saudara saya. Saya masih ingat bagaimana saya dan papa begadang bersama untuk menyaksikan final Piala Champion antara Manchester United dan Bayern Munchen pada tahun 1999 silam, atau saat saya dan ketiga saudara saya merengek minta dibelikan jersey tim kegemaran masing-masing. Mungkin kalau dulu kesempatan menjajal sekolah sepakbola di Indonesia lebih mudah, bisa jadi saya sudah menjadi pemain sepak bola profesional sekarang.

Sayangnya itu buka takdir dan keberuntungan saya, berbeda dengan keberuntungan yang didapatkan para peserta Allianz Explorer Camp yang belum lama ini proses seleksinya diselenggarakan di Jakarta. Ya walaupun saya tahu kalau Allianz merupakan salah satu sponsor utama klub sepak bola dunia, yaitu Bayern Munchen, cukup kaget juga saya saat tahu bahwa Allianz memiliki satu wadah yang memberikan kesempatan bagi anak-anak muda Indonesia, yang memiliki minat di bidang olahraga sepak bola untuk bisa merumput langsung di Eropa.

Ajang Merajut Mimpi
Usut punya usut, ternyata ini bukan tahun pertama seleksi pelatihan sepak bola ini dilakukan oleh Allianz, 2019 menjadi tahun ke delapan diselenggarakannya kegiatan ini. Dulu namanya bukan Allianz Explorer Camp, tetapi Allianz Junior Football Camp yang berjalan sejak tahun 2010. Satu kegiatan yang diperuntukan bagi remaja usia 14-16 tahun untuk bisa melakukan eksplorasi terhadap minat dan bakat mereka khususnya bagi mereka yang memiliki minat di bidang olahraga sepak bola. Sejak pertama kali diadakan di tahun 2012 hingga saat ini, kegiatan ini diikuti oleh 18.000 orang remaja Indonesia, yang 53 di antaranya telah mengikuti pelatihan langsung di Munchen dan juga berpartisipasi dalam kompetisi Asia Camp.

Tahun 2019, namanya berubah tapi isinya tidak berubah malahan lebih seru. Andai saya masih di usia belasan tersebut, sudah pasti saya bakal ikutan program ini pastinya. Program Allianz Explorer Camp ini merupakan bentuk dukungan penuh Allianz Indonesia terhadap upaya penanaman nilai-nilai yang penting dimiliki oleh generasi muda, seperti sportivitas.

Jadi dari bulan April sampai dengan Juni 2019 tercatat sebanyak 2.000 remaja usia 14-16 tahun telah mendaftar Allianz Explorer Camp dan lebih dari 1.300 remaja terpilih mengikuti seleksi fisik yang diselenggarakan pada 22-23 Juni 2019 lalu. Akhirnya terpilih 8 penjelajah muda yang akan mewujudkan mimpi mereka, yaitu Adinda Dwi Citra P. dan Fariz Fadilla yang akan terbang ke Munich Camp di Jerman pada 22-27 Agustus 2019, serta Azrazifa Kayla, Bayu Tegar Saputra, M. Faiz Fahriza, Nur Yufa, Ravel Jerico, dan Zahra Naqiyyah Primadi yang akan berangkat Asia Camp di Singapura pada 23-26 Juli 2019 mendatang. Ini yang terbang ikutan pelatihan di Munichnya ada perempuan loh! Damn GIRL, GIRL POWER!

Joos Louwerier - Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia

Kegiatan ini memang menitik beratkan kepada sepak bola, tapi fokusnya gak melulu ke sepak bola melainkan terhadap perkembangan minat dan bakat anak-anak yang ikutan campnya nanti. Alhamdulillah kalau dari camp ini bisa lahir bintang sepak bola dunia asal Indonesia, tapi gak ketutup juga kemungkinan seorang model kelas dunia juga bisa lahir dari ajang ini. Bidang apapun yang nantinya mereka tekuni tidak jadi hambatan kok buat ikut serta di dalamnya."Kegiatan ini sekaligus untuk menggali minat dan bakat anak dan remaja serta mendukung pengembangan diri mereka,” jelas Joos Louwerier, Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia dalam Press Conference Allianz Explorer Camp.

Bertemu Pemain Bintang dan Pergi Ke Eropa
Mau tahu selain pergi ke Eropanya apa yang paling bikin saya ngiri sama anak-anak yang berhasil menang dalam seleksi Allianz Explorer Camp ini? KETEMU PEMAIN BAYERN MUNCHEN nya langsung dong' mereka nanti! Ini super iri sih, aselik sodara-sodara!!! Doraemon mana Doraemon, coba tolong pinjem mesin waktunya.

Eh tapi kemarin saya seneng juga kok, karena dapat kesempatan bertemu dengan Martin Demichelis, Allianz Explorer Camp Asia 2019 Ambassador yang juga merupakan pemain legenda FC Bayern Munchen Legend. Tidak hanya sebagai ambassador, Martin juga datang sebagai salah asatu pengajar untuk coaching clinic di seleksi Allianz Explorer Camp. "Saya disambut dengan hangat di sini, lebih baik daripada sambutan di negara saya sendiri'" ujar Demichelis saat itu. 

Martin Demichelis - Legend Player of Bayern Munchen FC
Ia juga sempat berbagi kisah mengenai perjuangannya dari kecil hingga bisa menjadi pemain kelas dunia dan bermain di salah satu klub sepak bola terhebat di dunia yaitu Bayern Munchen. Baginya bakat bukanlah kunci utama, melainkan ketekunan dan semangat belajar yang tinggi. "Saya tidak menyangka para remaja ini bermain sangat bagus dan memiliki potensi yang luar biasa, mereka juga sangat antusias mengikuti kompetisi ini. Saya berharap para remaja ini dapat menjadi inspirasi teman-teman mereka di luar sana untuk terus berusaha meraih mimpi mereka,” komentar pemain yang juga merupakan teman satu timnas Lionel Messi ini.

Dipikir-pikir kegiatan ini seru banget sih, apalagi di zaman serba digital gini yah. Tantangan banget pasti bagi para orang tua buat memberikan didikan dan juga pengalaman yang lebih beragam mengenai dunia di luar layar ke pada anak-anaknya. Seperti apa yang sempat dijelaskan oleh Karin Zulkarnain, Chief Marketing Officer, Allianz Life Indonesia. “Jika sebelumnya program ini fokus pada kegiatan on pitch atau bermain sepak bola di lapangan, pada Allianz Explorer Camp kali ini, sebagai pengembangan program sebelumnya, juga memberikan kegiatan off pitch yang akan mengeksplorasi topik-topik di luar sepakbola seperti kegiatan pengembangan diri, kepemimpinan yang dikemas menarik untuk remaja," jelasnya. Oleh karena itu Allianz juga berharap bahwa para remaja dapat memiliki keseimbangan dalam mengeksplorasi minat dan bakatnya dengan baik saat mengikuti Allianz Explorer Camp ini.

Seru yak! Tahun lalu katanya Allianz sempat menghadirkan astronot loh di pelatihannya. Merumput di Eropa, ketemu pemain idola, dan segudang kegiatan seru lainnya, wah kalau saya yang jadi finalis camp ini sih, jelas saya akan memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin!

Good luck buat adik-adik yang akan berangkat. Semoga nanti bisa benar-benar ikut mengharumkan nama bangsa ya. AAMIIN!!! 


Joos Louwerier - Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia





Para Pemenang Allianz Explorer Camp


The Legend Player


Baca Juga:

Movie Review: Milly & Mamet, a Movie That Young Couple Can Relate

Photo Source: www.google.co.id

Setelah sekian lama saya musuhan sama tempat yang namanya bioskop, akhirnya kemarin saat libur Natal saya menyempatkan diri mampir ke bioskop. Awalnya saya heboh dengan film Marry Poppins yang baru saja naik, tapi adik saya kekeh mengajak nonton film Milly & Mamet yang juga kebetulan baru naik di layar lebar. Jujur, awalnya saya sempat skeptis dengan film ini, karena banyak yang bilang jalan ceritanya biasa aja. Beruntung, adik saya lumayan kekeh ingin nonton film yang merupakan spin off version dari film Ada Apa Dengan Cinta? ini.

Secara jalan cerita, film besutan Ernest Prakasa ini memang berbeda dengan film Ada Apa Dengan Cinta?, begitu juga genre yang dipilihnya. Jika AADC? bergenre drama, film ini bisa dikategorikan sebagai drama komedi. Well, lebih banyak komedinya mungkin, karena saya puas tertawa sepanjang film ini diputar.

Oh iya, bagi kalian yang membayangkan bahwa film ini adalah alur mundur kisah Mamet dan Milly, kalian salah besar. Film ini justru berkisah tentang perjalanan cinta Mamet dan Milly setelah mereka menikah. Lika-liku kehidupan pasangan muda di perkotaan. Yang galau memilih untuk menjadi ibu bekerja atau rumah tangga. Konflik-konflik yang hadir juga adalah konflik yang biasa dialami oleh pasangan muda. So, I guess young couple nowadays will relate a lot to this story, and you guys also can learn how to solve couple problem from them.

Seperti biasa, dalam film-filmnya Ernest selalu memberikan porsi bagi para stand up komedian, tapi menariknya dari film ini adalah kehadiran Dinda Kanya Dewi dan Isyana Sarasvati. Kalau biasanya (dulu) saya melihat Dinda Kanya Dewi berakting di layar kaca, baru kali ini saya melihat perempuan cantik dengan nuansa wajah antagonis ini berakting di layar kaca dan memerankan karakter wanita cantik, galak, tapi ngelawak. Sementara si cantik Isyana yang memang memiliki karakter clumsy di kehidupan sehari-harinya sukses memerankan perannya sebagai sekretaris yang aneh dan jenaka.

Scene yang lumayan hilarious bagi saya adalah dia pamit untuk pulang karena si Anjing sakit akibat digigit si Monyet. Si Anjing adalah nama kucing peliharaannya, sementara si Monyet adalah nama Anjing peliharannya. Belum lagi saat ia berbincang intim dengan ikan mas koki (yang juga) peliharaannya. It's so complicated yet hilarious.

Walaupun kisah cintanya Mamet dan Milly ini kurang bukan kisah romantis, tapi film ini cukup menghangatkan bagi saya. So guys, please come and watch this movie. Come with your wife, husband, boyfriend, girlfriend, and family. This isn't kind a movie that you should watch together with people that you love. Overall score is 7,75 out of 10.

 
Asuransi Millenial dengan Gaya Millenial

Belakangan ini entah kesambet apa, saya jadi mulai peduli akan perencanaan keuangan saya ke depan. Beberapa waktu yang lalu, hal tersebut sudah saya mulai  dengan melakukan pembelian investasi pertama dan sedang berpikir untuk menyegerakan pembelian Asuransi yang teman saya tawarkan sejak beberapa tahun silam.

Lahir di kurun tahun yang membuat saya katanya tetap masuk menjadi generasi millennial, mungkin menjadi alibi saya kenapa saya kurang peduli terhadap masalah remeh temeh keuangan dan juga perencanaannya. Bagi saya pribadi hal itu terlalu ribet dan njlimeti ALIAS RIBET..hahahaha. Alhamdulillah saya akhirnya sadar dan mulai belajar untuk menata masalah perencanaan keuangan saya. Well, some said that money can’t buy happiness, but financial freedom is feeling so great! 

Balik ke masalah asuransi, sebenernya seorang teman sudah menawarkan kepada saya masalah yang satu ini. Sempat terlintas niatan untuk membeli sejak lama, tapi kok rasanya pengeluaran untuk membayar preminya terhitung mahal ya. Ternyata oh ternyata ini bukan alasan dari saya saja, 52 % anak-anak millennial juga berpikir hal yang sama terkait pembayaran premi tersebut. Well, kasarnya uang segitu mending buat kongkow di kafe terbaru or travelling, apalagi kalau yang bersangkutan sudah memiliki asuransi diri dari tempatnya bekerja.


The Life Changer
Beruntung beberapa waktu lalu saya memiliki kesempatan mengikuti community gathering dan seminar yang diselenggarakan oleh Allianz Indonesia, salah satu provider asuransi jiwa terbaik yang ada di Indonesia. Acara yang diadakan di BUSS HQ Neo Soho Jakarta Barat (kantor asuransi rasa start up company, cucmew paraaaah) ini bertajuk Allianz Life Changer. Kenapa diberi judul life changer, karena dalam acara ini menjelaskan tentang program yang bisa menjadi “Life Changer” bagi para generasi millennial, cara bagaimana supaya para generasi millennial Indonesia bisa menjadi seorang wirausahawan yang mandiri terutama di bidang jasa keuangan asuransi.

Dengan model bisnis yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya, program Allianz Life Changer ini terbilang cukup menarik. “Allianz menyadari bahwa perlindungan asuransi maupun perencanaan keuangan yang baik merupkana bagian penting dalam upaya mengubah diri sendiri maupun orang lain secara finansial.” ujar Joos Louwerier, Country Manager & Presiden Direktur Allianz Life Indonesia. Ia juga menjelaskan baha melalui program Life Changer ini Allianz memberikan kesempatan kepada bagi millennial untuk melakukan perubahan positif tersebut. Baik untuk diri kita sendiri atau pun orang-orang di sekitar kita.

Digitalisasi Asuransi
Sejujurnya saya lumayan kagum dengan eksistensi anak-anak millennial ini, yang bisa sedemikian rupa memaksa berbagai lini kehidupan untuk membarikan ruang khusus bagi eksistensi mereka. Saya millennial? Hahaha…saya masih mencoba menginkari itu, tapi satu waktu saya disodorkan oleh teman saya mengenai timeline generasi dan saya ada di dalam kurun waktu anak-anak millennial tersebut. Generasi yang sangat sarat dan dekat dengan dunia maya atau lebih dikenal dengan sebutan digital.


Nah, lekat dengan dunia digital ini juga menjadi salah satu nilai lebih yang dimiliki oleh program Life Changer-nya Allianz Indonesia. Dijelaskan oleh Ginawati Djuandi, Chief Agency Officer Allianz Indonesia bahwa Allianz sendiri telah mempersiapkan langkah stratrgis terkait hal tersebut. Life Changer hadir dengan proposisi produk tepat dan layanan berbasis digital. Klaim asuransi tidak hanya bisa dilakukan secara offline saja, tapi juga bisa melalui platform digital. Hmmm…menarik. Bisa mengurangi perihal urusan "njlimeti” yang selama ini saya hindari.

Kenapa si “njelimeti” itu bisa hilang. Karena oh karena, ternyata Allianz telah memiliki platform klaim asurasni digital yang diluncurkan 3 tahun yang lalau aplikasi yang bisa diunduh gratis melalui Google Play dan AppStore secara gratis ini akan membuat hal menjadi lebih mudah. Salah satunya adalah proses klaim asuransi. Dulu yang saya tahu untuk klaim asuransi itu setidaknya membutuhkan waktu sekitar 10 hari kerja dan dilakukan secara offline. Tapi di eAZy claim katanya cukup mengunduh file registrasi, masukan nomer polis yang dimiliki dan unggah struknya secara online. Proses akan dilakukan selama 2 hari, jika lewat dari seminggu dana kita belum cair juga maka nantinya dana akan cair berikut bonus-bonus tambahan seperti voucher belanja. Waduh seru juga, pilihannya adalah mereka harus tepat waktu atau kita dapet bonus..hahaha.

Kalau begini mudahnya mungkin sudah saatnya saya menyambut tawaran teman saya terkait asuransi di Allianz tersebut. Tapi kalau gak punya teman yang jadi agen Allianz jangan khawatir, coba cek di situs resmi Allianz Indonesia, www.allianz.co.id/lifechanger untuk informasi lengkapnya.




Baca Juga:
Miniso Dan Serbuan Perabot Rumah Imut Asal Negeri Sakura

Jepang, negara kepulauan indah yang terletak di Asia Timur merupakan salah satu negara yang selalu menjadi pusat perhatian dunia. Berbagai hal yang datang dari negeri sakura ini biasanya selalu menarik diikuti atau paling tidak untuk sekadar diintip.

Keahlian orang Jepang yang mampu membuat beragam barang dengan kualitas yang mumpuni juga sudah tidak terelakan lagi. Barang-barang produksi negara asal Geisha dan Yakuza ini mendunia sebagai produk yang ringkas dan tahan lama. Belum lagi kontrol kualitas mereka yang juga tidak main-main, membuat produk asal Jepang juga terkenal menjadi barang berkualitas tinggi.

Gerai-gerai toko asal Jepang di negara mana pun selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung. Tak heran jika berbagai perusahaan Jepang datang dan mengembangkan bisnisnya di negara lain. Sebut saja gerai pakaian ready to wear UNIQLO yang beberapa tahun belakangan ini memutuskan untuk melebarkan sayapnya di Tanah Air. Dengan harga yang terbilang tidak murah, namun rasanya gerai ini tidak pernah sepi dikunjungi oleh pembeli. Satu merk asal Jepang lainnya, DAISO, yang hadir dengan berbagai barang rumah tangga juga sukses membuka banyak cabang di Indonesia.

Hal ini mungkin yang akhirnya membuat MINISO, salah satu fast fashion designer brand asal Jepang memutuskan untuk turut meramaikan kancah dunia bisnis Tanah Air. Dengan filosofi mereka sebagai brand yang mengedepankan moto "Sederhana, Natural, dan Berkualitas", MINISO hadir dengan produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari peralatan rumah tangga yang sederhana namun ringkas dan dengan desain yang menggemaskan, seperti peralatan dapur, peralatan tulis, dan juga perlengkapan ruang tidur. MINISO juga memiliki produk fashion siap pakai harian, serta produk yang bersinggungan dengan teknologi. Sukses membuka tiga gerainya di bilangan Jakarta, belum lama ini MINISO akhirnya membuka gerai keempat di kota tetangga Ibukota, yaitu Depok.

Berlokasi di lantai UG, Margo City Depok, gerai MINISO di sini berukuran sedang. Dengan dominasi warna putih di bagian interior toko dan desain sederhana serta ringkas yang nampaknya memang sudah menjadi trademark brand-brand produk asal Jepang. Kondisi toko saat saya berkunjung terbilang lumayan ramai, sudut dengan setumpuk topi-topi lucu pun menarik perhatian saya dengan segera. Ini memang kali pertama saya mengunjungi gerai MINISO, awalnya saya kira toko ini memiliki konsep seperti DAISO, yaitu dengan menerapkan sistem satu harga untuk semua barang. Ternyata saya salah. MINISO menawarkan berbagai macam produk dengan harga yang variatif, mulai dari 29.900 hingga ratusan ribu rupiah untuk produknya.

Walaupun tidak hingga koleksi pakaian ready to wear-nya diboyong ke Depok, namun barang-barang yang dijual di sini terbilang lumayan lengkap. Mulai dari aksesoris fashion, container untuk merapihkan barang-barang di rumah, tempelan magnet untuk kulkas, topi-topi lucu, peralatan lukis dan tulis, gantungan jilbab, dompet dan pouch untuk kosmetik, travel pillow, usb drive, headphones, power bank, dan masih banyak lagi.


Perabot Lucu, Ringkas, dan Sederhana
Seperti perabot ala Jepang yang banyak dijual di pasaran sebelumnya, karaktek ringkas, sederhana namun tetap dengan desain atau motif serta bentuk yang lucu nampaknya menjadi ciri khusus perabot asal Jepang. Selain karakter tersebut biasanya perabotan dari negeri sakura memiliki terobosan berbeda dengan kebanyakan perabot yang sudah ada. Karakter ini juga yang membuat saya jatuh hati dan terkadang bahkan terheran-heran dengan cara pikir ala orang Jepang.

Di bagian depan gerai, rak dengan berbagai aksesoris fashion tampak berjejer rapih, sedikit masuk ke bagian dalam Anda akan menemukan rak dengan tumpukan topi menggemaskan dan lucu. Di bagian dalam toko, saya menemukan jejeran tempelan magnet kulkas warna-warni berbagai bentuk. Sementara berbagai peralatan dapur di tawarkan di bagian belakang gerai dan tumpukan kotak makan berbahan kaca yang tahan panas menggoda saya untuk dibawa pulang.

Satu rak yang paling menarik perhatian saya adalah jejeran travel pillow warna-warni yang menggemaskan. Warna-warna pastel travel pillow jelaaaaas menggoda jiwa dan raga saya untuk membeli masing-masing satu buah bantal. Beruntung self kontrol saya hari itu cukup baik. Setelah puas melihat-lihat seluruh barang saya ternyata kalap di bagia peralatan tulis. Belum lama saya memang mencari spidol warna dengan ujung bentuk kuas. Spidol tersebut masih lumayan sulit di cari dan yang pasti kalau ada harganya masih mahaaaaal. Beruntung ternyata MINISO menjualnya dengan harga promo 29.900 untuk 3 buah spidol (harga normal 29.900/ buah masih termasuk murah menurut saya, soalnya susah carinya). Warna-warna yang ditawarkan juga sangat beragam, mulai dari warna-warna primer hingga warna pastel yang lembut.

Saya juga sempat melirik rak yang memajang berbagai jenis headshet dan earphone yang lumayan menggiurkan, baik bentuk maupun warnanya. MINISO juga menjual berbagai jenis powerbank dan kabel data. Secara menyeluruh harga yang mereka tawarkan masih masuk akal dan lumayan bersahabat di dompet. Tapi tetap saya sarankan, bacalah doa sebelum masuk gerai MINISO, karena kemungkinan untuk kalap belanja lumayan tinggi di sana.


















Nama Toko: MINISO
Alamat: Jl. Margonda Raya No. 358, Kemiri Muka, Beji, Kemiri Muka, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424, Indonesia

Jam Buka: Senin - Minggu, Pukul 10 Pagi - 10 Malam
Map:

Baca Juga:

Red Sun, Tongkrongan Baru Para Pecinta Kuliner Korea Selatan
Food Street Korea yang Ramah di Dompet


The Beauty Of Mecca, The Center Of Earth

Mekkah, kota ini memang hanya memiliki luas sekitar 720 km persegi yang terletak di region Hejaz, Saudi Arabia. Namun, Milyaran penduduk muslim dunia tak pernah putus bertandang ke kota ini setiap harinya. Mekkah, yang merupakan kota tersuci bagi umat Islam ini pun dipercaya sebagai poros sumbu dunia. Beruntung beberapa waktu yang lalu saya akhirnya memiliki kesempatan untuk mengunjungi kota ini.

Perjalanan dari Madinah ke Mekkah ditempuh sekitar 8 jam via darat. Saya dan rombongan menggunakan moda transportasi bus. Sebelum meninggalkan kota Madinah, Pak Ustadz selaku kepala rombongan pun mengatakan bahwa perjalanan ke kota Mekkah hanya akan dihiasi oleh gurun pasir dan mengingat kami berangkat di saat hari sudah menjelang sore beliau pun menyarankan agar semua rombongan beristirahat saja, mengingat setibanya di Tanah Haram kami akan segera melakukan ibadah Umroh di Masjidil Haram.

Selang satu jam bus berjalan, hampir seluruh rombongan terlelap termasuk saya. Namun beruntung saya terbangun di saat yang tepat, saat sang surya mulai berpamitan untuk menerangi belahan bumi lainnya. Bagi saya pemandangan kala matahari terbenam merupakan salah satu pemandangan terindah di muka bumi. Jika berpergian kesatu tempat, saya pun kerap menyisihkan waktu untuk menikmati pertunjukkan alam yang satu ini. Namun menyaksikan matahari terbenam di antara gurun pasir sembari duduk di atas bus yang melaju cukup kencang tentunya menjadi pengalaman pertama bagi saya.

Senja Di Gurun Pasir
Pijaran bola api yang perlahan merangkak turun dari langit dikelilingi oleh gundukan gunung pasir, pancaran warna jingga yang membuat langit nampak membiru dengan semburat merah muda indah di sekitarnya. Di ujung ufuk, pelangi pun turut turun melengkapi keindahan yang ada. Awan-awan saling berlomba menghiasi cakrawala dengan berbagai bentuknya. Rasanya pengalaman menikamati matahari terbenam di tengah gurun pasir ini menjadi kenangan yang tidak akan saya lupakan.

Dalam perjalanan bus sempat berhenti satu kali di tempat istirahat, semula kami berniat untuk melaksanakan ibadah sholat magrib, namun melihat kondisi lokasi yang kurang mendukung akhirnya niat tersebut kami urungkan. Pak Ustadz mengajak kami untuk sekalian saja menggabungkan sholat magrib dengan isya saat tiba di Mekkah. Di bagian perempuan, kondisi kamar mandi dan tempat mengambil air wudhu sangat sesak karena keduanya digabung menjadi satu. Kembali peristiwa berdesak-desakan dan saling teriak pun saya temukan di sini. Padahal jika mau tertib dan sabar rasanya tidak perlu buang-buang tenaga untuk berebutan menggunakan kamar mandi dan juga tempat berwudhu. Perjalanan dari lokasi istirahat menuju Mekkah ternyata masih lumayan jauh. Menghabiskan waktu sekitar 4 jam lagi akhirnya saya dan rombongan pun tiba di Mekkah. Tanah haram yang menjadi impian umat islam untuk dikunjungi.

Kehidupan 24 Jam Di Kota Berbatu
Kota ini jauh berbeda dengan Madinah yang tampak tenang di setiap waktu. Benar juga kata Pak Ustadz bahwa gunung batu memang mendominasi pemandangan kota Mekkah. A rocky city I may called this city. Jika Madinah sudah mulai terlelap menjelang tengah malam, berbeda dengan Mekkah. Rasanya kehidupan di kota ini berlangsung selama 24 jam sehari 7 hari seminggu tanpa henti, khususnya kegiatan para peziarah dan bidang perniagaan. Saya dan rombongan sampai di hotel sekitar pukul 10 malam dan seluruh pertokoan disekitarnya masih buka tanpa terkecuali. Mulai dari kedai makanan, toko oleh-oleh, toko pakaian, kedai kopi, bahkan mini market. Gemerlap dan ramainya suasana kota ini pun sekejap mengingatkan saya pada kota Jakarta yang juga tidak pernah tidur.

Penduduk Kota Mekkah Dan Jamaah Menuju Masjidil Haram
Disaat langit sudah terang keesokan harinya dari kejauhan terlihat belasan menara raksasa yang sedang dibangun, katanya itu adalah bangunan hotel mewah dengan menara kembar sebelas. Tampak juga pembangunan jalan penghubung dari menara tersebut ke gedung di seberangnya yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota Mekkah. Diperkirakan sekitar tiga tahun lagi kesebelas menara hotel mewah tersebut akan siap untuk melayani para tamu dan jamaah yang berkunjung ke kota Mekkah. Sementara itu, di sisi kanan tidak jauh dari hotel terparkir berbagai peralatan dan kendaraan berat untuk meratakan gunung batu. Mereka sepertinya sedang membangun jalan akses menuju bagian di balik gunung. Kata Pak Ustadz mungkin beberapa belas tahun ke depan gunung batu tersebut juga akan rata dengan tanah, entah dijadikan hotel atau mungkin pemukiman penduduk. Katanya lagi, salah satu gunung batu terbesar yang ada di sekitar Masjidil Haram malahan sudah hilang bertahun-tahun yang lalu.

Selain Masjidil Haram dan Ka'bah ada satu bangunan yang sejak masih berupa rencana sudah digadang-gadang sebagai salah satu ikon lambang kota yang juga di kenal dengan sebutan Ummu Al-Qura ini. Bangunan tersebut adalah Abraj Al Bait atau lebih dikenal dengan nama Zam-Zam Tower. Merupakan bangunan yang dibangun di atas tanah bekas gedung Ajyad Fortress yang dirubuhkan pada tahun 2002 oleh pemerintah Arab Saudi. Gedung tersebut juga digadang-gadang sebagai gedung yang menghabiskan biaya pembangunan termahal sebesar 15 Milyar Dollar Amerika, bangunan ini juga merupakan bangunan tertinggi keempat di dunia dengan tinggi 601 meter.

Bangunan megah ini terdiri dari pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, dan juga hotel-hotel bintang lima. Lokasinya benar-benar dekat dengan Masjidil Haram, jika Anda kebetulan menginap di salah satu hotel di dalam Zam-Zam Tower maka jarak antara tempat Anda menginap dengan hotel benar-benar hanya beberapa kali koprol dari lantai dasar tower.

Disekitar lingkungan Masjid tidak jauh dari pintu juga terdapat banyak pusat perniagaan yang kebanyakan adalah kedai makanan dan minuman. Hal yang menarik dari Mekkah adalah tidak peduli semahal apapun hotel tersebut bangunan di bagian bawahnya pasti terdapat kedai-kedai makanan dengan harga yang sangat terjangkau.

Terpana Pada Megahnya Ka'bah
Di Mekkah saya tinggal di hotel yang berjarak sekitar 15 - 20 menit berjalan kaki dari Masjidil Haram. Lokasi ini sudah merupakan lokasi yang cukup baik, mengingat seluruh hotel yang berada sangat dekat dengan Masjidil Haram merupakan hotel berbintang 5 dengan tarif yang pastinya sangat mahal. Kembali lagi hukum ekonomi pastinya berlaku di mana-mana. Kali ini saya menempati satu kamar hanya berdua dengan adik perempuan saya, sementara kedua orangtua saya menempati kamar di sebelah kamar kami. Bentuk kamar tidak jauh berbeda dengan penginapan kami di Madinah, hanya lebih kecil karena hanya memuat dua orang tamu perkamarnya.

Suasana Ka'bah Di Malam Hari
Setelah selesai bersih-bersih saya dan rombongan kembali berkumpul di lobi untuk segera menunaikan ibadah umroh. Saat itu sekitar pukul 11 malam, satu jam menjelang tengah malam. Sempat saya kira bahwa jumlah jamaah yang beribadah di jam ini mungkin lebih sedikit. Namun ternyata perkiraan tersebut salah. Sebelum berangkat kami pun dibekali berbagai nasihat oleh Pak Ustadz untuk selalu sabar dan ikhlas dalam menjalani ibadah ini. Tiba di hadapan masjid saya terhenyak dengan kemegahan dan keindahan Masjidil Haram. Puji syukur kepada Allah SWT saya pun saya panjatkan.
Energi yang saya rasakan di dalam bangunan masjid terbesar di dunia ini sangat lah kuat. Terlebih lagi energi yang dihasilkan di sekeliling Kabah. Bangunan tersuci milik umat muslim di dunia ini. Bangunan berlapis kain beludru yang mengeluarkan aroma harum ini sontak membuat saya terpana dan terharu. Setiba di dalam masjid saya dan rombongan melakukan ibadah umroh yaitu Tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, yang dilanjutkan dengan sai dari Bukit Safa ke Bukit Marwah juga sebanyak 7 kali bolak balik, dan ditutup dengan tahalul potong rambut. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Bagi saya pribadi di antara seluruh kegiatan umroh tersebut, sai adalah yang terberat padahal fasilitas yang disediakan untuk sai sudah berupa bangunan tertutup full pendingin ruangan dengan lantai marmer. Terbayang bagaiamana rasanya dahulu saat fasilitas belum sebaik ini, ibadah yang dilakukan pasti jauh lebih berat.

Jamaah Bersiap-siap Menunggu Waktu Sholat
Rasanya tidak ada waktu dimana kita bisa melihat Masjidil Haram dalam kondisi sepi, mengingat setiap waktu jamah terus-menerus datang untuk melakukan ibadah di sana. Jelang waktu sholat jika ingin melakukan ibadah di bagian dalam masjid, saran saya datanglah sekitar dua jam sebelum Adzan dikumandangkan. Karena satu jam menjelang adzan biasanya pintu masuk ke dalam sudah mulai di tutup karena padatnya jumlah jamaah di bagian dalam. Belum lagi jalanan terdekat meunju masjid juga biasanya sudah ditutup aksesnya mendekati waktu sholat, sehingga jamaah harus berputar sedikit lebih jauh untuk mencapai masjid.

Jika bukan termasuk orang yang nyaman melakukan ibadah tanpa alas apapun, jangan lupa untuk membawa sajadah. Mengingat banyak bagian di dalam yang diperuntukkan untuk sholat namun tidak memiliki alas, terutama di bagian tempat orang melakukan ibadah Sai. Hanya berupa lantai marmer yang dengan rapih dipasang mengarah langsung ke Ka'bah.

Berbeda dari Masjid Nabawi yang memiliki banyak akses gerbang masuk, Masjidil Haram hanya memiliki beberapa akses gerbang masuk, dan biasanya jamaah akan langsung masuk ke dalam masjid melalui pintu terdekat dari gerbang utama. Mengakalinya saya masuk dari pintu sebelah kiri dari arah masjid dana masuk dari sisi kiri masjid. Entah mengapa pintu masuk dari sisi tersebut cenderung lebih sepi menurut saya.

Sama seperti di Masjid Nabawi, di Masjidil Haram juga disediakan bertangki-tangki air zam-zam. Malah bukan hanya berupa tangki besar namun juga berupa pancuran keran air dengan jumlah yang cukup banyak. Namun jangan keliru, jika di tembok pancuran hanya bertuliskan drinking water maka itu bukan air Zam-Zam tetapi air mineral biasa. Maklum banyak juga penduduk yang menggantungkan kebutuhan airnya hariannya kepada masjid. Banyak yang datang membawa galon-galon ukuran kecil dan sedang untuk mengambil air di sana. Jika ingin pasti air zam-zam sebaiknya minum dari tangki besar yang selalu diletakkan di bagian dalam masjid dekat tempat melakukan sholat.


Menanti Pagi Ala Mekkah
Kegiatan di Mekkah tidak berbeda jauh dengan saat berada di Madinah, sekitar pukul 4 semua orang sudah mulai bergerak menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Jika di Madinah selesai subuh biasanya saya mencari segelas kopi hangat di gerai kopi pojok Masjid Nabawi kali ini saya duduk-duduk di tangga depan kedai makanan sembari menikmati segelas kopi atau teh susu hangat dan beberapa potong makanan ringan dari kedai setempat. Sesekali saya memilih untuk menikmati es krim atau minuman ringan bersoda. Menu yang sedikit random tetapi menyenangkan.

Awalnya saya sempat bingung saat melihat bahwa orang-orang di sini senang sekali ngampar dan makan bersama di mana pun mereka berada. Satu saat papa akhirnya penasaran untuk mencoba menikmati makan ala warga setempat. Seems like what people said that If you wanna be local, do what local do is right. Breakfast was SUPER FUN!! Ternyata seru juga, tidak hanya bisa menghabiskan waktu lebih bersama keluarga saya juga bisa melihat berbagai macam kegiatan pagi hari yang berlangsung di kawasan sekitar masjid. Salah satunya para pedagang kaki lima yang berjualan sambil kejar-kejaran dengan keamanan setempat.

Mayoritas pedagang kaki lima di kota Mekkah bukanlah penduduk setempat. Melainkan orang-orang yang sepertinya berasal dari Afrika. Merka berjualan dengan membawa satu buntalan besar yang berguna sebagai kantung barang dagangan sekaligus alas untuk mereka berdagang. Entah bagaimana tetapi mereka seperti sudah hafal tanda-tanda jika ada petugas keamanan mendekat. Dalam hitungan detik semua pedagang kaki lima hiilang seketika berikut barang dagangannya. Saat saya berada di sana trend "om telotet om" tengan melanda dunia, dan kota ini pun tidak lepas dari trend tersebut. Beberapa padagang kaki lima terdengar menawarkan dagangannya sembari berujar "Telolet Om Telolet, Hamsah Riyal...Hamsah Riyal". Saya pun tergelak mendengarnya.
 
Belanja Di Tanah Suci
Bohong jika saya bilang tidak berbelanja apa pun saat berada di Mekkah. Sesekali selesai dari masjid saya juga menyempatkan diri untuk melihat toko-toko yang ada. Barang-barang yang dijual di sini kurang lebih sama dengan yag dijual di kota Madinah, namun di sini Anda sebaiknya jangan menawar terlalu jauh dari harga yang mereka tawarkan. Para pedagang di sini lebih "galak" dalam hal menawarkan. Jika memang hanya ingin sekadar melihat-lihat sebaiknya saat masuk ke dalam toko katakan dulu bahwa hanya ingin melihat-lihat dulu dan belum tentu membeli. Di sini juga ada toko serba 2 Riyal, namun hati-hati beberapa barang tidak benar-benar seharga 2 Riyal. Sebaiknya tanyakan lagi harga barang yang ingin dibeli.
Belantara Beton Di Sekitar Masjidil Haram
 
Berlokasi cukup jauh dari Benua Asia ternyata tidak membuat kota ini terhindar dari barang-barang buatan Cina. Jangan kaget saat hijab atau selendang yang sedang dilihat tertulis jelas MADE IN PRC, atau baju koko bahkan kosmetik bermerk Arab namun saat dibaca di bagian label tercetak MADE IN CHINA. Buatan Cina bukan berarti jelek, justru harganya malah lebih ekonomis, tapi masalah kualitas ya bisa ditakar sendiri lah.

Barang-barang yang dijajakan di gerai-gerai sepanjang jalan sudah barang tentu bukan barang bermerk. Salah seorang teman saya berkata bahwa ada beberapa barang yang memang lebih murah di beli di Mekkah. Jika memang berminat mencari, silahkan masuk dan berkeliling di dalam Zam-Zam Tower. Bagi perempuan lebih baik jangan berbelanja sendiri, selain karena seluruh pramuniaga setempat adalah kaum adam, belum lagi ada beberapa toko yang menerapkan peraturan bahwa hanya bisa masuk ke dalam toko jika bersama keluarga. Bagi para penggemar kopi Amerika alias Starbucks seperti saya gerai Starbucks di Mekkah berada di dalam Zam-Zam Tower lantai 2. Berbeda dengan gerai Madinah yang antrian dijadikan satu, gerai Mekkah membuah dua antrian yang berbeda untuk perempuan dan laki-laki. Hal yang menyenangkan adalah antrian perempuan lebih diprioritaskan di sini.
 
Uji Kesabaran Di Tanah Haram
Berbeda dengan Madinah yang walaupun banyak dikunjungi oleh orang dari berbagai negara namun dominasi penduduk asli masih kental terasa di sana. Berbeda dengan Mekkah yang terasa lebih beragam. Bagi saya Mekkah memiliki rasa Jakarta, dengan berbagai keberagaman suku bangsa dan juga bahasanya. Banyak orang dari berbagai penjuru dunia yang datang mengadu nasib ke kota ini. Mencoba mencari rezeki halal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di sini juga saya menemukan pembelajaran bahwa mungkin benar yang dibilang bahwa kesabaran itu memang seharusnya tidak ada batasnya. Entah karena udara kota yang terbilang selalu panas atau bagaiaman tetapi tingkat kesabaran seseorang di sini bisa sangat teruji. Jangan heran jika sedang mengantri rapat untuk keluar dari gerbang majid tiba-tiba ada orang yang seenaknya berehenti untuk mengakat telfon dan mengobrol tanpa mempedulikan antrian di belakangnya. Atau jika tiba-tiba ada yang "menyeruduk" padahal jelas-jelas mereka yang salah jalur.

Kursi roda nampaknya menjadi salah satu alat transportasi utama di sini, tapi sayangnya tidak semua pengguna dan pendorong kursi roda peduli terhadap orang lain. Walaupun prioritas namun bagi saya bukan berarti bisa seenaknya melindas kaki orang lain. Dan kasus terlindas roda kursi roda bukan hanya sekali dua kali saya temukan. Sabar, karena belum tentu juga yang melindas tersebut akan meminta maaf, bisa jadi malah dia yang marah karena merasa terhalangi jalannya. Saya pun tidak heran karena jauh-jauh hari sudah banyak yang menasehati saya supaya banyak bersabar jika berada di kota ini.

Pergi Untuk Kembali
Perjalanan saya di kota Mekkah memang hanya berlangsung selama 5 hari saja, namun kota ini meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi saya. Banyak pelajaran hidup yang saya bisa petik di kota ini. Toleransi dan kesabaran adalah dua hal di antaranya.

My Lovely Parents
Saya pun pergi dari kota ini namun berjanji untuk kembali. Semoga doa ini bisa terkabul dan saya bercita-cita untuk kembali dengan seluruh anggota keluarga. Semoga kami semua diberikan umur panjang dan juga kenikmatan untuk sama-sama belajar di kota Mekkah ini. Amin.











Baca Juga: