Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Movie Review: Milly & Mamet, a Movie That Young Couple Can Relate

Photo Source: www.google.co.id

Setelah sekian lama saya musuhan sama tempat yang namanya bioskop, akhirnya kemarin saat libur Natal saya menyempatkan diri mampir ke bioskop. Awalnya saya heboh dengan film Marry Poppins yang baru saja naik, tapi adik saya kekeh mengajak nonton film Milly & Mamet yang juga kebetulan baru naik di layar lebar. Jujur, awalnya saya sempat skeptis dengan film ini, karena banyak yang bilang jalan ceritanya biasa aja. Beruntung, adik saya lumayan kekeh ingin nonton film yang merupakan spin off version dari film Ada Apa Dengan Cinta? ini.

Secara jalan cerita, film besutan Ernest Prakasa ini memang berbeda dengan film Ada Apa Dengan Cinta?, begitu juga genre yang dipilihnya. Jika AADC? bergenre drama, film ini bisa dikategorikan sebagai drama komedi. Well, lebih banyak komedinya mungkin, karena saya puas tertawa sepanjang film ini diputar.

Oh iya, bagi kalian yang membayangkan bahwa film ini adalah alur mundur kisah Mamet dan Milly, kalian salah besar. Film ini justru berkisah tentang perjalanan cinta Mamet dan Milly setelah mereka menikah. Lika-liku kehidupan pasangan muda di perkotaan. Yang galau memilih untuk menjadi ibu bekerja atau rumah tangga. Konflik-konflik yang hadir juga adalah konflik yang biasa dialami oleh pasangan muda. So, I guess young couple nowadays will relate a lot to this story, and you guys also can learn how to solve couple problem from them.

Seperti biasa, dalam film-filmnya Ernest selalu memberikan porsi bagi para stand up komedian, tapi menariknya dari film ini adalah kehadiran Dinda Kanya Dewi dan Isyana Sarasvati. Kalau biasanya (dulu) saya melihat Dinda Kanya Dewi berakting di layar kaca, baru kali ini saya melihat perempuan cantik dengan nuansa wajah antagonis ini berakting di layar kaca dan memerankan karakter wanita cantik, galak, tapi ngelawak. Sementara si cantik Isyana yang memang memiliki karakter clumsy di kehidupan sehari-harinya sukses memerankan perannya sebagai sekretaris yang aneh dan jenaka.

Scene yang lumayan hilarious bagi saya adalah dia pamit untuk pulang karena si Anjing sakit akibat digigit si Monyet. Si Anjing adalah nama kucing peliharaannya, sementara si Monyet adalah nama Anjing peliharannya. Belum lagi saat ia berbincang intim dengan ikan mas koki (yang juga) peliharaannya. It's so complicated yet hilarious.

Walaupun kisah cintanya Mamet dan Milly ini kurang bukan kisah romantis, tapi film ini cukup menghangatkan bagi saya. So guys, please come and watch this movie. Come with your wife, husband, boyfriend, girlfriend, and family. This isn't kind a movie that you should watch together with people that you love. Overall score is 7,75 out of 10.

 

Movie Review:
The Martian
"Petani kentang Sukses di Planet Merah"

Photo Source: www.google.com
Setelah film Armageddon yang naik di tahun 1998 bagi saya belum ada satu pun film bertema astronot yang mampu mengalahkan hebatnya film tersebut. Satu pasukan astronot dadakan yang diberi perintah untuk menyelamatkan peradaban manusia dari hantaman asteroid yang tengah melaju kencang ke bumi.

Pertama kali melihat trailer film The Martian saya sempat merasa wah akhirnya ada juga film bertema astronot yang sepertinya bagus. Belum lagi film ini menggadang Matt Damon sebagai pemeran utama. Berbeda dengan Armageddon, film The Martian yang dikeluarkan oleh studio Genre Films, International Traders, Mid Atlantic Films, Scott Free Productions, dan Twentieth Century Fox Film Corporation berkisah tentang misi penjemputan kembali seorang astronot bernama Mark Watney yang terpisah dari timnya saat tiba-tiba satu badai pasir besar melanda Mars. Kala itu mereka tengah menunaikan misi meneliti kondisi tanah Planet Merah. Misi tersebut di beri nama Ares 3. Saat keluar dari hub (tempat tinggal yang dirancang untuk menopang kehidupan para astronot di Mars), Watney terhempas satu benda yang terbawa angin kencang. Benda tersebut ternyata menancap di tubuh Watney dan menghancurkan sistem komunikasi vitalnya dengan tim. Meyakini bahwa Watney telah meninggal dalam badai pasir tersebut, anggota Tim lainnya akhirnya meminta kepada sang Kapten untuk segera meninggalkan Planet tersebut dan kembali ke Hermes, pesawat induk mereka.

Nampaknya kematian belum mau menjemput Watney, dirinya selamat dari maut walaupun perutnya mengalami luka parah akibat tusukan benda yang menghantamnya. Sadar dirinya selamat, Watney yang ternyata seorang biologis ini pun tahu bahwa tugas terbesarnya sekarang adalah mencari tahu bagaimana ia bisa bertahan hidup dan memberi tahu pada Bumi bahwa ia masih hidup. Dengan segala peralatan yang tertinggal dan ilmu biologi yang dimilikinya Mark Watney akhirnya menjelma menjadi seorang petani kentang sukses di Mars. He uses his own shit to grow potatoes in Mars. Singkat cerita, Watney berhasil mengirimkan sinyal ke bumi bahwa ia masih hidup. Nasa memutuskan untuk menjemput kembali dirinya walaupun itu mengharuskan Watney menunggu hingga empat tahun kemudian. Tim Ares 3 pun didepak untuk menjemput kembali anggotanya yang tertinggal. Banyak hambatan yang mereka temukan, namun akhirnya Watney berhasil kembali ke Bumi dengan selamat. Sesimpel itu kah jalan ceritanya? Too bad I have to say, yes it was that f*ckin simple.

Terlepas dari hebatnya konsep cerita di mana Mark Watney bisa menanam kentang di atas Mars, hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana negara Cina memberikan bantuan kepada Amerika dengan mengorbankan satu-satunya proyek luar angkasa lanjutan yang akan mereka jalankan demi untuk membawa pulang seorang Astronot berkebangsaan Amerika ke bumi. For me, if Chinese willing to help America in order to save their citizen, this is mean the beginning of world peace. So that's good isn’t it right? Dari segi plot cerita, film ini seperti kehilangan klimaksnya, semua datar saja hingga selesai, kecuali perubahan bentuk badan yang dialami oleh Matt Damon. Saya akui bahwa Matt Damon benar-benar sukses menjalani perannya dalam film ini. Namun sayangnya sisi heroik yang biasanya selalu muncul dalam film bertema penyelamatan ini tidak terlalu terasa. Kepulangan Watney ke Bumi memang disambut gembira oleh para penduduk Bumi. Jujur saya mengharapkan scene mendaratkan pasukan Ares 3 di bumi, dan scene yang mengkisahkan pertemuan Watney dengan kedua orangtuanya, mengingat Watney sempat menitipkan pesan khusus untuk disampaikan kepada mereka. Scene penutup yang menggambarkan suksesnya pelepasan misi Ares 5 ke Mars kurang begitu mengena bagi saya. So, the score is 7 out of 10. If you have time, watch it. But if you don’t have that's okay to not watch it.



Movie Review:
Predestination: Mesin Waktu ala Ethan Hawke


Awalnya tidak ada niatan sama sekali untuk menyaksikan film yang satu ini. Semua terjadi karena saat itu tidak ada lagi film yang saya dan sahabat saya Arinda ingin tonton. Berbekal dengan tanda bintang banyak di poster film akhirnya kita memutuskan untuk menonton film Predestination. Buat saya pribadi saya memang berharap film ini bagus, mengingat sudah cukup lama juga saya tidak melihat Ethan Hawke berlaga di layar lebar. Film yang menceritakan kisah perjalanan lintas waktu yang dilakukan oleh seorang agen yang mempunyai misi untuk menghentika serangan seorang teroris yang kerap disebut dengan nama "Fizzle Bomber". Bomb berhasil dihentikan namun sayangnya sang agen mengalami cedera hebat dan pelaku berhasil melarikan diri. Hal ini menyebabkan dia harus kembali ke masanya untuk melakukan perawatan dan proses operasi plastik terhadap wajahnya. Sembuh dari cedera yang dialaminya ia lalu mendapat tugas yang disebut sebagai "Final Assignment". Pekerjaan ini mengharuskan dia melakukan lompatan waktu ke masa lalu, diceritakan bahwa ia harus melompat ke tahun 1970 dengan menggunakan kotak biola yang berfungsi sebagai mesin waktunya (oke mulai berasa Doraemon). Di sini ia menyamar sebagai seorang bartender yang akhirnya ia bertemu dengan seorang pelanggan yang berprofesi sebagai penulis. "Unmarried Mother" adalah nama yang ia gunakan dalam karyanya. Ia pun menceritakan kisah cintanya ya termasuk aneh, dimana pria itu mengatakan bahwa dahulu ia adalah seorang wanita.

Selesai menceritakan kisah cintanya yang terhitung trafis, sang bartender mengatakan bahwa ia berjanji bisa membuatnya bertemu dengan sang pria yang telah menyakiti hatinya dahulu. Syaratnya hanya satu, ia mau mengikutinya melakukan lompatan waktu ke masa lalu. Merasa dipermainkan sang penulis sempat menolak, namun ia memutuskan untuk mengikuti sang bartender setelah sang bartender membuka data diri sang penulis yang ia ketahui, bingung pastinya mengingat mereka belum pernah bertemu sama sekali.

Setuju mengikuti lompatan waktu, sang penulis kaget karena ternyata wanita yang ia temui dan patah hati adalah dirinya sendiri di masa masih menjadi seorang perempuan. Kemarahan dan kebingungan berkecamuk di hati sang penulis, ia menemui sang bartender dan memintanya untuk menjelaskan semua yang terjadi. Sang bartender hanya memintanya untuk melakukan satu kali lompatan dan ia akan mengetahui semuanya karena ia akan mengantikan posisinya sebagai seorang agen rahasia tersebut.

Entah apa sebenarnya yang ada dipikiran sang penulis Michael Spierig & Peter Spierig saat mereka menulis jalan cerita film ini. Satu pertanyaan besar (duileee) juga berkecamuk di kepala saya. Koq bisa kepikiran ya bikin jalan cerita macam gini. It was brilliant and insane at the same time. Kondisi dua jalan cerita yang berasal dari dua tokoh yang berbeda namun pada akhirnya semua hanya berpusat pada satu cerita. Kisah hidup yang diceritakan orang lain ternyata adalah masa lalunya sendiri.

Dari segi wardrobe dan faktor pendukung lainnya Spierig bersaudara tampaknya benar mengerjakan film ini dengan serius, setiap perpindahan masa selalu diikuti dengan perubahan penggunaan wardrobe yang terbilang cukup detail. Bahkan dalam filmnya mereka menyisipkan pernyataan bahwa untuk menyamar jadilah seperti orang kebanyakan, menyatu dengan sekitar dan jangan mencolok. Satu-satunya hal yang garing bagi saya malahan penggunaan kotak biola sebagai alat mesin waktunya.

Saat film ini selesai, orang-orang satu studio (yang saat itu hanya berisi lima orang tepatnya) hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala, termasuk saya dan sahabat saya. Sahabat saya mengatakan bahwa film ini mirip seperti Interstellar, sayangnya saya pribadi belum sempat menonton film yang sempat heboh itu. Mengesampingkan semua kepusingan yang saya alami saat menyaksikan film ini, saya rasa film ini layak mendapatkan paling tidak satu penghargaan di salah satu festival film dunia. Oh iya, saran terbaik jangan menonton film ini pagi hari dan dalam kondisi lapar, Anda hanya akan kesal saja dibuatnya. 




"Night at Museum 3: The Secret Tomb"
Saat Museum (kembali) Hidup

Sumber Foto: www.google.com
Yuhuuuuuu...akhirnya prequel film yang satu ini keluar juga. Jeda yang cukup lama, mengingat sequelnya sendiri muncul pada tahun 2009 silam. Buat saya pribadi film ini selalu menarik untuk ditonton, ya mungkin karena saya termasuk orang yang cukup menyukai sejarah. Jadilah film kehidupan malam museum ini selalu menyita perhatian saya. 

Film ketiga yang juga di sutradarai oleh Shawn Levy ini mengambil latar belakang di dua museum yang terletak di dua benua, yaitu American Museum of Natural History di kota New York, Amerika Serikat dan British Museum of Natural History di kota London, Inggris. Para pemain yang bermain di dalam film ini juga masih sama dengan film sebelumnya, yaitu Ben Stiller (Larry), Robin Williams (Theodore Roosevelt), Owen Wilson (Jedediah), Steve Coogan (Octavius), Rami Malek (Ahkmenrah), Pattrick Gallagher (Atilla the Hun), Mizuo Peck (Sacagawea) dan Ricky Gervais (Dr. McPhee). Oh iya hampir saya lupa, aktor kawakan Hugh Jackman juga hadir menjadi cameo kali ini.

Permasalahan yang diangkat oleh film ketiga ini juga tidak jauh berbeda dengan dua film sebelumnya, yaitu tentang the tablet of Ahkmenrah benda yang mampu menghidupkan seluruh museum saat malam hari tiba. Kali ini the tablet of Ahkmenrah tiba-tiba berkarat dan berubah menjadi hijau, hal ini juga membuat seisi museum mulai kehilangan kekuatannya untuk "hidup". Ahkmenrah mengatakan bahwa hanya sang Ayah yang mengetahui rahasia kekuatan tablet tersebut, dan sang Ayah berada di Bristish Museum of Natural History. Larry dan "para petinggi" museum pun akhirnya terbang ke London untuk menemui Merenkahre (ayah Ahkmenrah) dan menanyakan bagaimana cara mengembalikan tablet itu seperti sedia kala.

Keseruan terjadi saat seisi museum di London itu akhirnya "hidup" untuk pertama kalinya, di tengah-tengah kesulitannya menghadapi kehidupan baru museum tersebut, Larry bertemu dengan Sir Lancelot, ksatria yang berasal dari zaman Raja Arthur membantu mereka. Ksatria yang akhirnya malah membuat mereka menghadapi kesulitan terbesar nantinya.

Seperti biasa, film ini menawarkan efek grafis yang luar biasa, terutama saat scene dimana rasi bintang Orion muncul, di saat kerangka tulang Tyrex bermain bersama dengan kerangka tulang Triceratops, saat patung Xiangliu mahluk mitologis ular berkepala sembilan dari negeri Cina membuat salah satu kepalanya menjadi simpul ikatan mati atau saat empat buah patung metal Singa berukuran raksasa menjadi hidup dan bermain-main di tengah kota. Well, saya pribadi tidak pernah merasa dikecewakan oleh efek-efek yang dihadirkan oleh film yang di produksi oleh 1492 Pictures ini.

Film ini sangat ringan dan "ketebak" jalan ceritanya, dengan nuansa ending yang sedikit berbeda dengan dua film sebelumnya. Walaupun diberi label R (Remaja) oleh bioskop setempat, namun saya rasa film ini sangatlah cocok untuk disaksikan bersama dengan keluarga Anda, saya pastikan Anda sekeluarga akan tergelak-gelak di dalam Bioskop sana.
 
Sumber Foto: www.google.com

"Pendekar Tongkat Emas"
Film Silat Kolosal Besutan Anak Negeri 

Bangga rasanya saat tepuk tangan bergemuruh di dalam studio tepat setelah credit title film ini muncul di layar. Semua penonton (tampaknya) puas dengan film Indonesia yang satu ini, ya paling tidak saya salah satunya. Jujur saja semenjak judul film ini mulai ramai dibicarakan dimana-mana saya cukup penasaran, bagaimana tidak satu film Indonesia tiba-tiba hadir dengan judul Pendekar Tongkat Emas. Awalnya saya kira film bertema pendekar ini berasal dari negeri Tirai Bambu, namun saat nama para pemain juga mulai keluar saya baru sepenuhnya sadar bahwa film ini benar-benar film anak negeri. Film garapan rumah produksi milik Mira Lesmana dan Kompas Gramedia ini mendepak beberapa nama besar dalam jajaran film nasional seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Nicholas Saputra dan Reza Rahardian. Di dukung pula dengan beberapa nama baru yang menjanjikan bagi dunia film Tanah Air seperti Eva Celia, Tara Basro dan juga Aria Kusumah.

Mengambil latar belakang tentang kisah dunia persilatan pada zaman kolosal, film yang mengambil lokasi syuting di daerah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur ini mengangkat dan mengeksplorasi berbagai nilai kehidupan seperti pengkhianatan, kesetiaan, dan juga ambisi. Berawal dari kisah pengkhianatan yang dilakukan oleh  Biru (Reza Rahardian) dan juga Gerhana (Tara Basro) yang tidak terima saat sang guru Cempaka (Christine Hakim) mewariskan tongkat emas milik perguruan silat Tongkat Emas kepada Dara (Eva Celia). Cempaka membawa Dara dan Angin (Aria Kusumah) pergi untuk mewariskan ilmu terakhir milik perguruan tersebut. Sayangnya, ia akhirnya dibunuh oleh kedua muridnya Biru dan Gerhana sebelum ilmu tersebut sempat ia turunkan. Tongkat kebesaran perguruan akhirnya jatuh ke tangan yang salah, dan kekacauan pun terjadi di dunia persilatan.

Sumber Foto: www.google.com
Berbicara mengenai para pemain secara keseluruhan, tidak diragukan lagi kemampuan akting para pemainnya, totalitas semua pemain sangat terasa dalam film ini. Namun, ada satu karakter yang cukup menyita perhatian saya. Adalah, tokoh Langit yang diperankan oleh Aria Kusumah. Tokoh pendekar kecil yang irit bicara namun hadir sebagai tokoh yang disegani dalam cerita ini. Tokoh Langit mengajarkan tentang nilai kesetiaan, keberanian dan juga tanggung jawab yang harus ada dalam menjalani kehidupan. Saat dimana ia lebih mendahulukan keselamatan orang lain dibanding keselamatan diri sendiri, satu hal yang sungguh jarang bisa dilakukan oleh orang banyak.

Entah ide dari siapa, namun film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah ini jelas sukses menghadirkan pesona alam Sumba Timur yang didominasi oleh langit biru dan juga hamparan rumput yang luas. Belum lagi pantai dan juga pemandangan tebing curam yang ada di sana. Juaranya ada saat scene matahari terbenam yang terlihat sangat indah, well I'll be so happy if I able to see that kind of sunset every single day. Alam perawan yang sangat indah, lokasi yang juga saya yakini akan segera menjadi salah satu destinasi favorit wisata dalam waktu dekat ini.

Tidak hanya para pemain dan juga sutradara serta penulis naskah, hasil kerja seluruh tim produksi dalam film ini patut mendapatkan acungan jempol. Semua detail mulai dari kostum para pemain, tata rias dan rambut serta properti di lokasi tampak di kerjakan dengan sepenuh hati. Unsur-unsur kedaerahan tempat dimana syuting tersebut dilakukan pun diangkat kedalamnya. Perhatikan detail tenun khas Sumba yang melekat di setiap kostum para pemain, tenda-tenda yang didirikan saat penduduk desa harus pindah dari rumah mereka menjadi salah satu properti favorit saya.

Ingat pepatah tiada gading yang tak retak, begitu juga dengan film ini. Ada beberapa scene yang kurang memuaskan bagi saya. Salah satunya adalah adegan dimana Gerhana berkelahi dengan Dara. Bagi saya, adegan ini seharusnya menjadi salah satu adegan utama yang bisa dimaksimalkan, dan seharusnya perkelahian mereka tidak dilakukan di dalam ruangan yang sangat gelap. Saya hampir tidak bisa melihat adegan perkelahian yang mereka lakukan. Yes, I do expect more from this scene.

Anyway, saya pribadi berharap semoga film ini ada kelanjutannya. Dan semoga kedepannya film Indonesia bisa terus meningkat mutunya, seperti film ini contohnya. This is a worth to watch movie, enjoy!!

Film: Laskar Pelangi 2 : Edensor


Laskar Pelangi 2: Edensor. Yep, film ini adalah lanjutan dari Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, yang diadaptasi dari buku Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kali ini giliran buku ketiga dari tetralogi ini yang di filmkan.

Jujur saya juga bingung kenapa judulnya Laskar Pelangi 2, padahal ini film ketiga dari buku ketiga. Dua film sebelumnya sendiri berjudul Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2010) *yangfilmkeduanyaskipgaketonton*. Berhubung judulnya macam itu, jadi adalah wajar kalau saya dengan semangatnya ngajak mama nonton lanjutannya Laskar Pelangi yang taunya film ketiga..wakwaaaw..

Mungkin itu juga sebabnya saya rada skip sama ceritanya (oke saya ngaku, saya gak baca bukunya semua, cuma mentok di buku 1 *dikeplak*) koq ini mereka tau-tau udah dewasa cetar membahana semua, mana zaman ABG nya...hehehe..

Sekilas Tentang Film:

Di film ini diceritain kalau Ikal sama Arai akhirnya sukses mencapai mimpi mereka buat pergi kuliah di salah satu kampus di Prancis. Dua anak kampung dari Belitong akhirnya bisa muterin separuh dunia dan mulai mengejar mimpi-mimpi mereka. Namanya juga ngejar mimpi, biasanya jalannya gak gampang sob, ada aja halang rintangannya. Mulai dari mereka ditolak di dormitory mereka karena kelalaian mereka sendiri, berujung Ikal harus kedinginan di pinggir jalan berselimutkan dedaunan. Kata Arai, dulu tentara Rusia pake daun buat selimutan makanya mereka bisa survive dari hawa dingin.

Tinggal di negeri orang sebagai mahasiswa beasiswa dengan keuangan pas-pasan yang memaksa mereka untuk juga tetap bekerja sambil kuliah, Ikal dan Arai mengambil semua cara (halal) untuk bisa menambah kocek bulanan mereka sekaligus mengirimkan penghasilan mereka kepada keluarga di Belitong. Bukan hanya masalah uang saja, masalah kehidupan kampus pun menjadi dilema bagi dua anak manusia ini.

Arai, dia terus berkutat dengan pelajaran dan pekerjaan sambilannya, menurut Arai dari awal dia datang ke Prancis bukan hanya untuk dapat nilai pas-pasan, tapi untuk menjadi salah satu yang terbaik. Sementara Ikal, dia sesaat hanyut dengan kehidupan percintaannya, berhasil memikat hati mahasiswa cantik yang merupakan kembang di Kampusnya membuat dia sedikit kehilangan arah, mulai dari nilai anjlok dan pertengkaran dengan Arai sahabat terbaiknya.

Disini juga ikal masih terjebak dengan cinta masa kecilnya Aling, yang ternyata juga tinggal di Perancis. Ikal kaget saat mendapat kiriman setumpuk surat yang merupakan surat dari Aling untuknya, surat yang bertahun-tahun ia tunggu itu ternyata disembunyikan oleh orang tua Aling. Di suratnya Aling berkata bahwa ia akan berusaha melupakan Ikal, karena sepertinya Ikal juga sudah tidak perduli padanya. Pencarian akan dimana Aling berada pun terjadi di sini.

Best Part of Movie:

Ada beberapa scene yang saya suka di film ini, yaitu:
1. Tau tradisi gembok cinta, yup ada scene dimana Ikal dan Arai datang ke lokasi tersebut, mereka mengaitkan gembok cinta mereka disana. Arai bilang, disini bukan hanya tempat untuk cinta pasangan, tetapi juga ada tempat untuk persahabatan.

2. Kak Roma vs Adam Smith, Ikal yang dari kecil terobsesi dengan rhoma irama ini ternyata membawa gambar sang Idola ke negeri perancis sana. Discene ini diceritakan bahwa ia (berhalusinasi) bercakap-cakap dengan (poster) rhoma irama dan Adam Smith. This is just so epic scene.

3. Scene percakapan Ikal dan Arai di jembatan malam hari, saat Ikal meminta maaf pada Arai. Ada satu quotes dari Arai yang saya suka "gantungkan mimpimu setinggi langit, karena Allah akan memeluk mimpi yang setinggi langit itu"

Worst Part of The Movie:

Call me detail people, tapi sumpah ada beberapa detail dari film ini yang bikin saya kesel sendiri, buat saya ini mungkin salah orang artistiknya atau penata detail. Ada beberapa kesalahan yang sangat menganggu mata saya.

1. Di scene awal film, ada satu adegan di Kampus yang memperlihatkan papan pengumuman di Kampus yang bertuliskan .............. 2013 (saya lupa nama bulannya, kalau tidak salah SEPTEMBRE).

2. Di scene di tempat tinggal kekasih Ikal, tepat di kanan pintu masuk terdapat rak buku, salah satu buku tersebut jelas-jelas bertuliskan 2013, walaupun tidak secara keseluruhan tapi saya yakin itu tertulis 2013.

3. Di sini Ikal dan Arai disebutkan sebagai mahasiswa yang merantau dari negeri belitong ke Perancis dengan modal pas-pasan, jadi rasanya kalau mendadak Ikal pake ADIDAS SUPER STAR dan Arai dengan kemeja DCSHOECOUSA keluaran terbaru, tas laptop model jaman sekarang dan juga laptop dengan logo windows terbaru muncul sungguh itu menganggu buat mata saya. Belum lagi beberapa kaus Arai yang jelas-jelas keluaran brand besar.

4. Para petugas Kantor Pos di Belitong sana, ehmmm...logikanya tahun saat (ceritanya) Ikal di Perancis Belitong itu masih pedalaman, ya kali itu mbak-mbak petugas Kantor Pos rambutnya model Bob Nungging semua plus salah satu pengunjung kantor posnya pake BEHEL...sekali lagi BEHEL..yekali zaman Timah masih eksis behel udah sampe sana.

Overall:

Well, since I like Lukman Sardi (he's a very good actor) film ini cukup bagus, jujur jalan cerita yang dituangkan di film ini terkesan terlalu datar buat saya. Apa iya buku edendor hanya menceritakan itu saja? tidak ada letupan-letupan cerita khas Andrea Hirata yang dituangkan disini menurut saya, atau mungkin saya harus membaca bukunya juga ya, jangan-jangan memang seperti ini isi edensor, tapi saya ragu Andrea hanya menulis cerita "sekedar" ini saja dalam bukunya.

So, skor film ini buat saya 6.5 over 10 point. Maybe they need to think to bring back trio Riri Riza, Mira Lesmana and Salman Aristo untuk film terakhir dari tetralogi ini.

Adios.. ^-^