City Tour ala Jakarta, kata kuncinya: SABAR


Called me norak, or whatever you want but I freakingly happy when finally able to try the double decker bus city tour Jakarta..yeaaaaaaaaaaaaaah!! Semuanya bermula dari jadwal long weekend minggu lalu, tanggal merah di hari sabtu secara menggembirkan berarti bahwa kelas bahasa Korea yang saya ikuti setiap hari Sabtu juga libur. Berbekal perasaan jenuh dengan kunjungan ke (berbagai) pusat perbelanjaan yang rutin saya dan teman-teman lakukan setiap akhir minggu akhirnya kami memutuskan untuk mencoba fasilitas wisata baru di Jakarta.

Bus City Tour Jakarta yang disediakan oleh pemerintah kota Jakarta ini rasanya baru berumur kurang dari satu tahun. Satu kemajuan pastinya, akhirnya Ibu Kota Indonesia bisa mempunyai satu fasilitas wisata keliling kota yang layak bahkan bisa dibanggakan (kondisinya saat ini). Saya beserta keempat teman saya, Sri, Kiki, Danti dan Ratna menunggu bus tersebut dari depan halte bus yang berada tepat di depan gedung Sarinah di jalan Jenderal Sudirman. Setengah jam berlalu, kami masih asyik mengobrol menunggu, satu jam berlalu mulai berisik protes, satu setengah jam berlalu akhirnya kami memutuskan jika dalam tempo setengah jam lagi bus tidak datang maka kami akan langsung ke Monas saja.

Setengah jam kemudian,
Tampaknya hari itu memang rejeki kami untuk menjajal bus city tour Jakarta, bus tingkat berwarna ungu dan kuning berhenti di halte bus Sarinah. Serta merta kami pun naik ke lantai dua bus ini. Kesan pertama saat pintu bus ini dibuka adalah ramah. Petugas bus menymabut seluruh penumpang dengan senyuman lebar dan membantu seluruh penumpang yang akan naik ke dalam bus. Ada beberapa peraturan yang berlaku selama kita berada di dalam bus ini, yaitu dilarang lari-larian di dalam bus, dilarang makan dan minum, dilarang berdiri. Senangnya saat saya menyadari bahwa seluruh tampaknya mematuhi seluruh peraturan tersebut. Interior bus terlihat sangat bersih dan terjaga, tidak ada jejak vandalisme yang biasanya ada di dalam bus-bus umum di Jakarta.

Jalur yang dilalui oleh bus city tour Jakarta ini adalah Bundaran HI - Pasar Baru - Monas, sampai kemarin saya naik tarifnya adalah gratis. Kabarnya nanti ke depannya akan dikenakan biaya setiap naik bus tersebut, tapi entah kapan. Bus ini tudak bisa berhenti di sembarang tempat, bus hanya berhenti di halte-halte tertentu yaitu Monas Merdeka Barat, Balai Kota, Sarinah, Bundaran Hotel Indonesia, Museum Nasional Merdeka Barat, Pecenongan, Pasar Baru Gedung Kesenian Jakarta, Mesjid Istiqlal dan Monas Merdeka Utara. Para penumpang bisa turun di beberapa titik yang menjadi lokasi wisata seperti Museum Nasional, Pasar Baru, Masjid Istiqlal dan juga Monumen Nasional. Total waktu yang kami butuhkan untuk berkeliling kota menggunakan bus ini hanya 15 menit, mungkin juga karena lalu lintas Jakarta yang sangat bersahabat di kala weekend tiba. Kalau dihitung-hitung waktu menunggu lebih lama dibandingkan lamanya waktu naik bus, ya mungkin memang kata SABAR menjadi kunci saat ingin mencoba fasilitas yang satu ini. Semoga ke depannya jalur keliling kota ini diperbanyak begitu juga dengan armada busnya. Amin.

Menikmati pemandangan ibu kota belum lengkap rasanya tanpa mengabadikannya, berikut beberapa gambar yang berhasil saya abadikan sore itu.


The Weekenders!!
Enjoy Jakarta!!
Gedung Filateli Jakarta
Patung Kuda di Jl. Medan Merdeka
Dari seberang Menara Cakrawala

Gereja Katedral Jakarta

Istana Kepresidenan


The Famous, Monumen Nasional

Adios... ^_^


Article on HELLO! Indonesia, Edisi Maret 2015. Ary Kirana
RINDU BERNYANYI
ARY KIRANA
SEGERA LUNCURKAN SINGLE BARU


Napak tilas Ary Kirana (36) di dunia menyanyi profesional dimulai saat ia mengikuti audisi ajang pencarian bakat Indonesian Idol season ke-2. Alih-alih terus ikut di dalam acara tersebut dirinya malah dipertemukan dengan sosok Selly yang menawarkannya untuk mencoba keberuntungan dalam audisi pencarian penyanyi bersuara alto yang diadakan oleh grup Warna. Gayung pun bersambut, Ary akhirnya resmi bergabung dengan Warna menggantikan posisi Nina Tamam. Namun belakangan setelah aktif menjadi penyiar radio di Hard Rock FM, gaung Ary dari balik studio rekaman menjadi tidak terdengar lagi. Kini kerinduan untuk menyanyi menghampirinya. Ary pun akhirnya menargetkan untuk melunasi semuanya di tahun 2015 ini. Pada suatu siang yang cerah ia bercerita kepada HELLO! Indonesia tentang kesibukannya mempersiapkan single terbarunya.

Apa kegiatan Anda sehari-hari?“Kegiatan saya di pagi hari siaran, kadang-kadang menjadi MC di berbagai acara. Sepanjang hari juga sibuk mempersiapkan ASI untuk putra pertama saya yang baru berusia tiga bulan. Belakangan ini mulai disibukkan dengan persiapan single solo terbaru saya. Syukurlah proses rekamannya sudah selesai, tinggal menunggu proses mixing saja,”

Melihat ke masa lalu, kapan Anda mulai terjun ke dunia musik?“Karier bermusik saya itu awalnya dimulai dengan menjadi wedding singer dan penyanyi kafe. Lalu sekitar sepuluh tahun lalu saya terjun ke dunia menyanyi profesional,”

Kalau di dunia siaran radio?“Sekitar delapan tahun lalu. Saya siaran itu awalnya juga karena Warna. Saat itu kami sedang promo di Cosmopolitan FM, lalu ada tawaran untuk sesekali menjadi penyiar pengganti. Ternyata pekerjaannya menyenangkan dan terus berlanjut hingga sekarang. Saya mulai aktif menjadi penyiar itu sekitar enam tahun lalu, karena dua tahun pertama masih lebih sibuk menyanyi. Tapi empat tahun berikutnya keadaan berbalik. Karena itu juga akhirnya belakangan ini lebih dikenal sebagai penyiar dibandingkan sebagai seorang penyanyi.. hahaha...”

Apa itu menjadi alasan Anda ingin segera meluncurkan single terbaru?
“Iya, saya sudah kangen untuk kembali segera menyanyi. Kebetulan juga single solo saya ini akan dikeluarkan berdekatan dengan peluncuran single terbaru Warna,”

Sejak kapan comeback ini mulai direncanakan?
“Wah! Sudah cukup lama, tetapi memang tertunda akibat kesibukan saya yang lain. Karena sudah terlalu lama saya pun membulatkan tekad untuk berkonsentrasi penuh agar paling tidak bisa mengeluarkan single baru tahun ini. Rencananya bulan Maret, akan keluar single pertama, dilanjutkan produksi untuk single selanjutnya,”

Hanya single saja? Bagaimana dengan album baru?
“Saya baru berani menargetkan single saja, semoga kalau materinya cukup bisa dijadikan mini album. Kalau album saya merasa terlalu muluk, mengingat belum lama ini saya baru saja melahirkan dan harus mengurus anak saya. Membagi waktunya saja cukup membuat kepala rasanya mau pecah, hahaha..”

Dengan siapa Anda bekerja sama di single terbaru ini?
“Saya bekerjasama dengan beberapa orang dari satu manajemen. Untuk lagu saya dibantu oleh Iva, aransemen oleh Bowo dan musiknya di bantu oleh Ava. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja sama dengan mereka di dalam teater musikal Bawang Merah dan Bawang Putih yang digelar oleh Good Housekeeping

Lagunya masih bertema tentang cinta?“Iya, tetapi bukan kisah cinta patah hati. Kebetulan saat mengerjakan single ini saya sedang hamil dan senang sekali mendengarkan lagu jatuh cinta yang berbunga-bunga. Jadilah lagunya bernuansa berbunga-bunga. Saya itu selalu ingin menyanyi dari hati, jadi jika suasana hati sedang senang, agak susah untuk menyanyikan lagu patah hati. Kalau pekerjaan lain saya bisa berkompromi, misalnya saat siaran sedang pusing atau kondisi hati sedang tidak begitu baik tapi saya masih bisa mengakalinya dengan tertawa atau bercanda. Sementara menyanyi adalah hal yang paling jujur, so I don’t feel like compromising. If I don’t like singing a sad song, I’ll sing a happy song,”

Setelah menjadi ibu, penyanyi dan juga penyiar radio. Apa mimpi terbesar yang Anda miliki saat ini?
“Selain kembali aktif di dunia musik, saya ingin kembali terlibat dalam produksi pertunjukan musikal yang besar. Kalau di dunia siaran, saya sudah cukup menikmati keadaan yang ada sekarang. Sementara itu sebagai ibu, banyak sekali hal yang ingin saya capai, salah satunya saya ingin segera hamil kembali. Ingin bisa punya satu anak lagi, supaya anak saya punya teman mainnya,”

Last question, gambarkan sosok Ary Kirana dalam tiga kata?
 “Optimis, posesif dan penuh harapan. Optimis karena mungkin beberapa orang melihatnya saya ada di tahap yang sudah terlambat untuk mengembangkan karier, belum lagi dengan peran baru saya sebagai ibu. Kebanyakan orang melihatnya sebagai satu hambatan tersendiri. Tapi banyak orang yang baru mendapatkan kesuksesannya di usia tua. Saya yakin kalau memang itu sudah jalannya Tuhan, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk menerima berkat yang sudah disiapkan olehNya. Kalau posesif, terbukti saya tidak mau berbagi bayi saya walaupun hanya dengan baby sitter-nya. Penuh harapan, saya selalu percaya bahwa untuk meraih segala sesuatu, pasti selalu ada jalannya.”

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: SAEFFIE ADJIE BADAS
PENGARAH GAYA: BUNGBUNG MANGARAJA
TATA RIAS: @MEICAMAKEUP (081791111989)
TATA RAMBUT: MARIA LIM (081381099177)
BUSANA: HALSTON HERITAGE

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, March 2015 Edition


Article on HELLO! Indonesia, Edisi Maret 2015. Tamara Geraldine
PERPISAHAN YANG MENGUBAH HIDUP
TAMARA GERALDINE
DAN KEMANTAPANNYA MENATAP
MASA DEPAN

“Tak sehelai pun benang tersebut dirajut oleh minat masa lampau atau aspirasi masa depan. Karena ikatan ini berada di antara dua orang yang juga tidak dibesarkan bersama-sama oleh masa lalu dan juga bukan masa depan, dan yang mungkin juga tidak bisa dipersatukan oleh masa depan,” (Surat cinta Kahlil Gibran untuk May Ziadah)

Potongan surat cinta Kahlil Gibran untuk May Ziadah di atas, yang pernah dikirimkan oleh Tamara Geraldine kepada belahan jiwanya inilah yang secara tidak langsung menjadi pembuka percakapannya dengan HELLO! Indonesia. Perempuan cantik asal tanah Batak ini sukses menorehkan namanya di kancah dunia selebritas Indonesia. Pada satu sore yang tenang di sebuah kafe di bilangan Jakarta Pusat, kepada HELLO! Indonesia Tamara pun berkisah tentang perpisahan yang telah mengubah hidupnya, dan juga kemantapannya menatap masa depan. 
JELANG SEBELAS TAHUN USIA PERNIKAHAN
Lama menghilang dari dunia layar kaca banyak yang bertanya-tanya kemana gerangan aktris yang kerap berpenampilan sporty ini. Dirinya seakan tenggelam menjauhi dunia keartisan dan menyibukan diri dengan dunia lain yang juga dicintainya, yaitu menulis dan berbisnis. Kehidupan pribadinya hilang dari radar awak media, hanya sedikit sekali berita tentangnya yang naik ke permukaan. Kabar tentang rumah tangganya pun tidak banyak beredar, semua berpikir bahwa rumah tangga perempuan yang pernah menggagas kompetisi Liga Basket Mahasiswa ini baik-baik saja. Sampai di pertengahan tahun 2014 lalu diketahui bahwa kini dia sudah berstatus janda, dan rumah tangganya dengan sang suami Thin Tien Pham, lelaki Warga Negara Vietnam, ternyata sudah kandas sejak tahun 2011 lalu. “Kalau ditanya kapan pastinya perpisahan itu terjadi, saya tidak ingat tanggalnya. Hal itu tidak menarik untuk diingat. Tetapi yang pasti sedikit lagi kami akan merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-11. Namun, memang perpisahan itu sudah dimulai sejak tahun 2010,” ujar Tamara membuka perbincangan sore itu. 
Baginya pernikahan seperti membuat perusahaan, dimana kedua belah pihak memiliki saham yang sama besar dan wajib menjalankan peran dalam porsi dan tempo yang sama. Namun sayangnya semua tidak berjalan sesuai dengan rencananya. “Saya merasa jadi pengusaha sendiri di sana, saya yang mengusahakan ini, mengusahakan itu dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Tetapi sayangnya saat tidak ada komunikasi yang terjalin maka perusahaan itu akan punya titik berhenti juga,” tuturnya lagi. 
Tamara mengatakan bahwa alasannya berpisah dengan sang suami adalah satu alasan yang dulu membuatnya ingin menikah dengannya. Latar belakang Thinh yang sudah berjuang mempertahankan diri sejak usia 13 tahun membuat Tamara jatuh hati. Ia sampai pada kesimpulan bahwa dirinya ingin mendirikan “perusahaan” dengan lelaki ini. “Saat itu juga saya mengajaknya untuk menikah,” ujarnya Tamara tersenyum. Jawaban Thinh hanya “Jangan repot-repot melamar saya, karena itu sebetulnya adalah tugas saya untuk melamar kamu,” tutur Tamara menirukan perkataan Thinh. Tamara dan Thinh pun menikah pada September tahun 2000 setelah dua bulan perkenalan dan tujuh bulan masa persiapan pernikahan mereka. 
Pada masa awal pernikahan semuanya berjalan dengan baik dan bergerak dalam laju yang sama. Bagi Tamara, Thinh adalah suami yang sangat baik, tidak pernah mempermasalahkan pakem-pakem pasca pernikahan yang biasanya ada dalam kehidupan pasangan yang telah menikah. “Dia selalu memberikan comfort zone, membiarkan saya tetap menjadi diri sendiri. Hal yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah prinsip bahwa dia tidak ingin memiliki seorang istri yang anteng di rumah tetapi istrinya malah menjadi ‘gila’,” cerita Tamara lebih lanjut. Bagi Thinh, Tamara adalah sosok perempuan yang perlu bereksplorasi dan berekspresi setiap harinya. “Karena dia tahu bahwa sebebas- bebasnya, saya tidak mungkin akan pulang jam dua pagi setiap hari. Dia tahu dan percaya bahwa Tamara ini tahu batasan yang dia miliki,” ujarnya lagi. 
SAAT DIAM MENJADI CARA BERKOMUNIKASI
Waktu perkenalan yang singkat membuat Tamara lupa akan masalah konsep yang dibawa oleh individu tentang pernikahan. “Nah, yang saya missed waktu itu adalah fakta bahwa dia tumbuh sendirian tanpa bimbingan siapa pun. Menjadi pengungsi di usia muda, Thinh tidak sempat melihat bagaimana ayah dan ibunya menyelesaikan dan menghadapi masalah keluarga,” tutur ibu dari seorang putri cantik bernama Tjazkayaa Pham ini. 
Kondisi Thinh yang tumbuh tanpa bimbingan ayah dan ibu membuatnya terjebak dalam satu kebingungan besar. “Perubahan perilakunya di tahun pertama dan kedua pernikahan memang tidak terlalu kelihatan, namun memasuki tahun ketiga mulai terlihat ekstrem dan saya tidak bisa menerima hal itu,” papar Tamara. “Ekstremnya dimulai dari hal kecil, seperti saat kita harus datang ke acara keluarga. Dia tidak mau bercengkerama dengan keluarga saya dan saya merasa dikecewakan. Padahal saya selalu berusaha untuk bercengkerama dengan keluarganya saat berkunjung ke Vietnam. Akhirnya, banyak kemarahan dia yang tidak bisa saya pahami tetapi juga tidak bisa saya cegah,” ujarnya. 
Tahun ketiga pernikahan menjadi titik awal mereka berhenti berkomunikasi satu sama lain, banyak hal yang akhirnya ditakutkan bisa memicu pertengkaran jika dibicarakan. “Saat itu Thinh keukeuh dengan pendapatnya bahwa ‘bukan saya orang yang tepat buat kamu’, tidak lama setelah itu dia pergi menghilang dari rumah,” ujar Tamara sendu. “Hilang, benar-benar hilang. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi,” lanjutnya lagi. “Sebelumnya memang saya pernah bertanya tentang apa yang dicarinya, saya menyarankan agar dia mencarinya dan beritahu saya kembali jika telah menemukan jawabannya. Setelah itu dia menghilang. Namun saya selalu yakin bahwa tidak akan ada jawaban apa pun di luar sana selain kembali kepada saya,” cerita Tamara. 
“Hidup bersama free spirit seperti Thinh yang terbentuk karena usahanya untuk bertahan membuat hari-hari saya menjadi penuh dengan amarah meskipun hanya di dalam hati. Ketidakmampuan Thinh untuk berubah dan merasa selalu bersalah karena tidak mengerti bagaimana cara untuk mengimbangi konsep rumah tangga yang saya bawa dan gambaran kehidupan suami- istri yang tidak pernah dilihat dan dipelajari memberikan rasa marah pada dirinya sendiri,” tuturnya. “Intinya kami sama-sama marah, marah dalam bentuk yang tidak pernah diselesaikan dengan saling berkomunikasi. Dan ternyata satu-satunya di dunia ini yang diambil oleh anger is happiness,” lanjutnya lagi. 
Dua tahun tidak menerima kabar apa pun darinya, Tamara tetap setia menunggunya. Piring-piring makan milik Thinh pun tidak pernah absen disiapkannya setiap waktu makan tiba. Namun di satu waktu Tamara akhirnya memutuskan untuk berhenti menunggu. “Saya berpikir, akan kemana ini ujungnya. Saya sudah berada di titik yakin bahwa dia tidak akan kembali, itu realitanya dan saya harus segera menyusun rencana hidup yang lain. Di satu malam, saya berdoa kepada Tuhan, bahwa saya ingin ‘menyingkirkan’ semuanya sekarang. Tetapi hamba mohon diberikan pengganti yang memiliki matanya, kulitnya dan juga rambutnya,” ujar Tamara lagi. Doa Tamara pun seketika dikabulkan oleh Tuhan, tepat keesokan harinya Baby K (nama panggilan Tjazkayaa hingga usia 7 bulan-red) muncul membawa lentera baru hidupnya. 
PERI KECIL ITU BERNAMA TJAZKAYAA 
Di satu pagi, bulan Oktober tahun 2004 Tamara mendapatkan satu telepon yang mengatakan seorang peri kecil siap menerangi kehidupannya. “I didn’t plan for it, I didn’t search for it, dia datang dengan caranya sendiri kepada saya,” tutur Tamara sembari tersenyum. “Bayi mungil itu muncul dengan semua kemiripannya dengan Thinh, matanya, kulitnya dan juga rambutnya,” lanjutnya. “Malamnya, saya pun berpikir bahwa Tuhan cepat sekali menjawab doa saya, mungkin memang ini saatnya saya melanjutkan kembali hidup saya,” kata Tamara yakin.
Tamara melanjutkan hidupnya dan disibukkan dengan pekerjaan baru menjadi seorang penulis. September 2005, saat dirinya harus meluncurkan buku pertama, kegundahan kembali menyerangnya. “Buku harus diluncurkan, namun saya terbaring di rumah sakit akibat penyakit liver. Belum lagi saya harus berhadapan dengan media untuk mempromosikan buku, pasti akan menimbulkan pertanyaan besar tentang kehidupan pernikahan saya jika melihat Thinh tidak ada di samping saya,” tuturnya. “Saat itu saya menyerahkan diri kepada Tuhan. Tuhan kalau memang ini jalannya biar nanti saya pikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Tapi berilah kesehatan bagi diri saya, Tuhan. Saya ingin segera meluncurkan buku ini,” lanjutnya. Setelah itu Tamara pulang kerumah dan menemukan sang suami sudah ada di rumah. “Selain saya yang kaget, dia juga kaget dengan kehadiran bayi berusia tujuh bulan yang saya panggil Baby K,” ujar Tamara lagi. “Baby K merupakan kependekan dari Baby Kailan, sayur kesukaannya dan panggilan kesayangan saya kepada Thinh, saat itu dia protes keras,” “You name her after a sayur?!!,” ujar Tamara menirukan perkataan Thinh saat itu.
KAMI SUDAH BERUSAHA MEMPERBAIKINYA 
Perpisahan mereka sepertinya tidak terelakkan lagi, berbagai macam cara ditempuh untuk menyelamatkan bahtera rumah tangga, namun kapal itu ternyata karam juga. Perpisahan pun terjadi karena hari demi hari rasa percaya diri Thinh kian menurun. “Dia merasa bersalah karena yang ada dalam pikirannya adalah ‘the lady next to me, she really doesn’t deserve me’, padahal berulang kali saya bilang bahwa ‘I’m happy like this’, tetapi dia tetap tidak paham” tutur Tamara. Resepsi ulang pernikahan pun digelar ditahun ketujuh pernikahan mereka. “Waktu itu dalam pidatonya ia menceritakan, bahwa di Vietnam kalau sudah bisa melewati tahun ketujuh pernikahan, kamu pasti bisa melewati tahun- tahun yang sudah menanti di depan. Saat itu saya pun berpikir bahwa dia sudah punya konsep pernikahan yang lebih matang. Saya mensyukurinya,” ujar Tamara lagi. 
“Namun ternyata, di tahun kedelapan, hal yang sama kembali terulang. Jadi kalau memang dasarnya tidak pernah punya problem solving sampai kapan pun tidak akan punya. Dan kebodohan saya adalah saya juga bersikukuh dengan moto saya bahwa, in silence there is no rejection. Saya orangnya selalu takut tertolak. Padahal seharusnya tugas saya sebagai istri adalah mengajaknya menjadi lebih baik. Saya seharusnya mengingatkan dia akan rencana bayi tabung kami yang tertunda, kenyataannya saya malah takut nanti dia merasa ‘diserang’. Harusnya kami pergi konsultasi ke psikiater atau psikolog. Tapi daripada nanti hal itu membuat dia semakin tersinggung, so I didn’t do it,” ujarnya dengan nada menyesal. “Itu yang hingga saat ini saya masih berpikir harusnya dulu hal itu dilakukan,” tambahnya. 
Tidak mencoba program bayi tabung adalah hal yang paling disesalinya seumur hidup. “Itu kerinduan Thinh yang terdalam sebetulnya. Tapi saya takut dengan pernyataan (yang datang dari Thinh juga) yang sering berkata ‘Honey, you are a bit fat’ and it scared me to death! Mungkin itu juga yang membuat saya sangat paranoid dengan kalimat ‘Gain weight? You look fresh!’ akhirnya sampai sekarang saya menjadi rajin diet dan maniak olahraga,” tuturnya lebih lanjut. 
Komunikasi mereka kian memburuk, sampai mereka tidak pernah berbicara satu sama lain. Tahun kesembilan Tamara mencari cara untuk mempertahankan segalanya, kali ini ia berpikir mungkin jarak bisa menjadi solusinya. Tamara pun memutuskan untuk menolak ikut bersama Thinh ke Amerika. “Saya berpikir kalau dia di sana akan merindukan saya atau tidak, begitu juga sebaliknya.,” lanjutnya lagi. 
SAATNYA MELANJUTKAN HIDUP 
Keinginan Tamara dan Thinh untuk tidak terus-menerus membenci satu sama lain akhirnya menghadapkan mereka pada pilihan terpahit dan terbaik yang ada, yaitu berpisah. “Keberadaan Kay merupakan pertimbangan terbesar kami untuk berpisah, kami tidak ingin membuat Kay melihat orangtuanya bertengkar. Kami ingin dia bisa melihat bapak dan ibunya berada dalam kondisi terbaik mereka,” lanjutnya lagi. 
Janji Thinh bahwa mereka akan tumbuh tua bersama dengan hubungan cinta yang jauh lebih baik membuat Tamara menyetujui satu-satunya jalan keluar yang ada. “Ternyata sampai tahun kelima perpisahan ini semuanya memang jauh lebih baik,” ujar Tamara tersenyum. 
Perpisahan ini pun hanya diceritakan kepada kedua orangtua mereka. Hidup Tamara hancur saat Thinh pergi keluar darirumah, “Bukan hanya depresi berat yang saya alami. Saya pingsan selama tujuh hari. Saya bahkan tidak menyangka bahwa imbasnya akan sekuat itu kepada diri saya. Banyak perubahan terjadi pada diri saya, teman-teman juga melihat gelagat aneh saya dalam pergaulan, dan akhirnya mereka semua meninggalkan saya,” tuturnya muram.
Perpisahan juga dirasakan berat oleh putri semata wayangnya Tjazyakaa. “Namun hubungan Kay dan Panda (panggilan Kay kepada ayahnya – red) terjalin dengan sangat baik, layaknya Galih dan Ratna. Baginya Panda adalah cinta pertamanya pada seorang lelaki,” ujar Tamara lagi. Dirinya mengakui jika saja mereka tidak dipisahkan oleh jarak maka Tamara akan membebaskan Kay bertemu dengan ayahnya kapan saja.
Harapan Tamara adalah Kay bisa memahami realita bahwa Inang (panggilan Kay kepada ibunya-red) dan panda sudah berpisah. “Sampai dua tahun lalu, dia masih belum bisa paham dengan jawaban kenapa orangtuanya harus berpisah,” wajah Tamara terlihat sendu. “Kami mengatakan bahwa alasan kami berpisah adalah karena sudah tidak cocok,” ujarnya lagi. Alasan yang ternyata tidak bisa diterima oleh Kay.
Saat pengadilan akhirnya secara resmi memutuskan perpisahan Tamara dan Thinh, di lubuk hati terdalam perempuan yang belum lama ini mengeluarkan kumpulan cerpen keduanya berjudul 1874 ini mengakui masih menyimpan harapan bahwa Thinh akan kembali kepadanya. “Saya sempat berpikir, kalau dulu dia pernah hilang selama tiga tahun dan kembali, masa iya kali ini dia tidak akan kembali melalui pintu yang sama, since he still know where to find us,” tutur Tamara.
Semuanya dimulai saat Thinh menikah lagi dan meyakinkan Tamara bahwa ia harus move on. “Itu juga yang mendorong saya membuka diri tentang kondisi saya saat ini. Lagipula kita memang berpisah secara resmi, Thinh punya hak untuk melanjutkan hidupnya, untuk menikah lagi. Kami memang sudah selesai,” Tamara menambahkan.
“Saat ini saya berada di fase move on dan bounce back. Sempat merasa aneh saat banyak yang berkata bahwa kehidupan yang saya sekarang jauh lebih enak dibanding dengan mereka sebagai orang menikah. Dengan kondisi ini saya bisa kembali ke passion saya dulu seperti hiking, tapi tetap saja saat saya pulang ke rumah, semua kembali sepi,” “Mungkin semua ini karena pernikahan dan juga perpisahan yang saya alami itu sesungguhnya menyenangkan. Kami menyelesaikan semuanya secara baik-baik,” ujar Tamara. “Saya juga tidak pernah merasa trauma untuk berhubungan dengan orang lain dan menikah lagi,” tambahnya tegas.
SEMUA UNTUK KAY 
Keputusannya untuk terbuka memberikan dampak yang sangat positif dalam kehidupannya. “Satu saat Papa saya menanyakan apa rencana yang akan saya kerjakan ke depan,” ujar Tamara. “Kamu move on saja dan kamu perlu tahu bahwa papa adalah orang terakhir di dunia yang perduli sama omongan orang yang menurut Papa tidak mengerti kamu sama sekali,” ujarnya menirukan ucapan sang ayahanda, lalu ia pun memutuskan untuk berterus terang pada sang nenek. 
Sang nenek yang selama ini dikhawatirkan akan terpukul justru menjadi sosok yang menguatkan hati Tamara, “Janganlah kamu merasa kecewa kepada Tuhan, karena Tuhan itu dekat sekali dengan orang- orang yang patah hati,” ujarnya mengulang nasihat sang nenek yang diberikan padanya. 
Penyesalan pernah menghampirinya dulu, namun kini dia merasa tidak ada satu pun hal yang perlu disesali. “Saya mempelajari kebenaran dari berbuat kesalahan,” tutur Tamara lagi. “Saya hanya ingin memastikan bahwa Kay belajar mencari kebenaran bukan dengan cara ibunya,” tambahnya lagi. 
Kehidupannya sekarang dicurahkannya untuk Kay. “Saya memang mempunyai niat untuk menikah lagi, tetapi semuanya masih dalam angan-angan. Kalau nanti rezekinya menikah cepat dan juga di beri kesempatan memiliki anak lagi berarti akan ada pengalaman baru yang saya alami. Tetapi kalau tidak, bersama Kay adalah hidup saya,” ujar Tamara sembari tersenyum. Tamara juga berharap bisa menulis satu buku biografi tentang dirinya, yang menceritakan semua kisah kehidupannya. “Target pembelinya hanya satu, yaitu Kay. Buku itulah yang akan bercerita semua tentang ibunya. Kalau nanti saya tiba-tiba menikah lagi dan mempunyai lima orang anak misalnya, ya saya tinggal menaikkan target penjualan menjadi enam eksemplar,” ujarnya tergelak sekaligus menutup perbincangan sore itu.


TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: SAEFFIE ADJIE BADAS
PENGARAH GAYA: BUNGBUNG MANGARAJA

TATA RIAS DAN RAMBUT: NITA JS (087883040818)
LOKASI: HOTEL INDONESIA KEMPINSKI
BUSANA: DKNY 


Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, March 2015 Edition
Rubrik: Heart to Heart 
Ps: This woman is a strong woman, I do adore her power in facing all the problems. Keep strong Mbak Tam..God will always bless you Mbak Tam!! Thanks for having me between your busy schedule..  :)
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Maret 2015. Boyce Avenue
BERAWAL DARI MEDIA SOSIAL
BOYCE AVENUE
INGIN RAIH PENGHARGAAN MUSIK DUNIA
Boyce Avenue adalah satu kelompok band asal Florida, Amerika Serikat yang melejitkan namanya lewat jejaring sosial YouTube. Mereka dianggap sukses membawakan versi lain lagu milik beberapa musisi ternama dunia. Diawali dengan tembang Before It’s too Late milik Goo Goo Dolls tujuh tahun lalu, tiga bersaudara ini sukses menjaring lebih dari dua juta penonton di saluran YouTube mereka. Disusul dengan lagu milik Rihanna berjudul Umbrella yang melejit hingga 11 juta penonton. Mereka telah memiliki lebih dari enam juta penggemar yang berlangganan di saluran mereka.

Dalam kunjungan keempat mereka ke Indonesia, HELLO! Indonesia berkesempatan berbincang dengan Boyce Avenue. Mereka pun menceritakan tentang pencapaian dan mimpi terbesar mereka dalam dunia musik.

TUMBUH BERSAMA DENGAN MUSIK 
Dikenal sebagai band dengan aliran musik akustik dan melodic rock, Boyce Avenue yang terbentuk di wilayah Sarasota, Florida ini terdiri dari tiga orang kakak-beradik bernama Alejandro Luis Manzano, Daniel Enrique Manzano dan Fabian Rafael Manzano. Tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai musik, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk membentuk satu grup band setelah menyelesaikan pendidikan tingginya pada tahun 2004. Dimulai dengan tampil di berbagai pertunjukan lokal, kakak-beradik ini akhirnya memutuskan untuk memperkenalkan dan berbagi ide tentang musik mereka secara lebih luas pada tahun 2007. Alejandro mengaku bahwa orangtua mereka lah yang menjadi pendukung utama mereka terjun secara total ke dunia musik.

“Kami bertiga mulai bermain musik sejak usia yang terbilang cukup muda. Beruntung saat itu kedua orang tua kami sangat memahami dan mendukung dengan baik. Saat kami ingin mulai mempelajari berbagai instrumen musik seperti gitar, piano, bass dan sebagainya, mereka adalah orang-orang yang memberi dukungan terbesar,” ujar Alejandro, anak kedua dari tiga bersaudara Manzano yang berperan sebagai vokalis utama.

“Kami sangat menghargai satu sama lain. Saya rasa kami memang tidak memiliki banyak pilihan mengingat kami bertiga adalah saudara kandung,” ujar Daniel tergelak. “Sedih rasanya jika di antara kami ada yang berkelahi. Mengingat sejak kecil kami selalu menjadi teman baik dan juga mengenal pribadi satu sama lain dengan sangat baik. Hal ini juga yang membuat kami menikmati saat bekerja sama. Saya ingin band ini bisa selalu bersama,” tambahnya sembari tersenyum.

Menyandang titel sebagai artis YouTube tampaknya tidak menjadi beban tersendiri bagi mereka yang sudah menelurkan dua album ini. “It’s fine for us, mengingat kami mendapatkan pengakuan di dunia musik profesional memang melalui YouTube. We don’t bother the way how they recognize us,” tutur Alejandro.

“Kami sangat beruntung bahwa musik kami bisa diterima oleh masyarakat luas. Semuanya dimulai saat seorang penonton memberitahukan kepada temannya tentang kehadiran kami di YouTube. Mengingat bahwa YouTube adalah situs internasional, maka musik kami pun akhirnya ikut tersebar ke seluruh penjuru dunia. Ini adalah hal yang sangat besar dan juga membanggakan bagi kami,” papar Alejandro lagi.

“Kami juga menghargai saat para penggemar tahu bahwa kami memiliki lagu asli karya kami sendiri, disamping lagu musisi lain yang kami bawakan. Hal yang membahagiakan adalah saat mendengar para penggemar bisa menyanyikan bersama lagu milik kami sendiri saat mereka hadir dalam satu pertunjukan. Those are true fans,” kata Fabian menambahkan.

MENGERJAKAN ALBUM KETIGA 
Band yang namanya diambil dari dua nama jalan tempat mereka bermain di masa kecil ini menuturkan bahwa inspirasi mereka dalam bermusik datang dari banyak musisi seperti John Mayer, Foo Fighter. Oasis, Cold Play serta Lionel Richie. “Kami juga tumbuh besar dengan jenis musik Motown seperti Jackson Five, Temptations, Diana Ross dan juga Boyz II Men. Para penyanyi fenomenal dengan lirik lagu dan suara yang sangat hebat,” ujar Daniel.

Saat ditanyakan mengenai kegiatan yang sedang mereka kerjakan, Alejandro mengatakan bahwa mereka terbiasa melakukan beberapa perkerjaan secara bersamaan. “Saat ini kami masih terus melakukan rekaman video untuk saluran YouTube milik kami, beberapa pemotretan untuk clothing line Boyce Avenue, pertunjukan keliling dunia dan juga proyek besar di tahun 2015, yaitu album ketiga Boyce Avenue yang berisi lagu asli milik kami,” jelas Alejandro.

“Proyek ini sudah sampai pada proses rekaman suara, kami melakukannya di Los Angeles, AS. Bersama dengan Espionage Team, orang-orang yang juga pernah bekerja sama dengan para musisi hebat seperti Train, Beyoncé dan juga Chris Brown,” tambah sang sulung Daniel.

“Mengingat banyak dari para penggemar yang mengenal kami sebagai grup yang membawakan versi lain lagu milik musisi kenamaan. Maka membuat para penggemar mengetahui bahwa kami juga memiliki lagu sendiri sangatlah penting. Lagu yang kami tulis dan kerjakan sendiri, bukan milik musisi lain,” tandas Fabian, bungsu yang memainkan instrumen gitar dalam band.

PENGGEMAR ADALAH SEGALANYA
Menyadari bahwa namanya besar karena peran penggemar, Boyce Avenue mengatakan bahwa para penggemar adalah segalanya. “Kami tidak bisa melakukan apa pun tanpa mereka, dan mereka bagaikan anugerah bagi kami,” ujar Alejandro.

“Orang luar mungkin melihat proses menciptakan musik adalah hal yang menyenangkan, tetapi sejujurnya prosesnya cukup berat, dan tekanan itu bertambah jika hal yang kau harapkan tidak kunjung datang. Sementara itu, alasan utama untuk selalu bersemangat adalah saat melihat reaksi dari para penggemar yang mendengarkan dan menonton hasil pekerjaan tersebut. Itu juga alasan kami sering melakukan pertunjukan langsung, agar bisa bertemu dengan mereka (penggemar). Kami amat mencintai penggemar kami,” papar Fabian bersemangat.

“Kami ingat saat pertama kali mengunggah video di YouTube dan ratusan orang menyaksikannya. Itu adalah hal yang luar biasa, belum lagi ketika video tersebut lalu ditonton oleh jutaan orang. Itu adalah satu kehormatan bagi Boyce Avenue. Sekarang
semua menjadi satu tanggung jawab tersendiri bagi kami. Bayangkan jika band favorit Anda menghilang atau bubar, bagi saya pribadi hal itu akan menghancurkan saya. It’s crazy when we think, out there we are somebody’s favorite band,” tambah Alejandro.

PENGHARGAAN MUSIK TINGKAT DUNIA
Berbicara mengenai mimpi, Boyce Avenue mengatakan mereka sangat ingin berkolaborasi dengan musisi dunia seperti John Mayer, Bryan Adams, Katty Pery dan juga Mariah Carey. 

“Kami menunggu kesempatan itu datang menghampiri. Selain itu kami juga ingin bisa meraih penghargaan musik dunia seperti Grammy atau Video Music Award MTV. Mengingat kami tumbuh sambil menonton pertunjukan itu,” ujar Daniel, yang memainkan instrumen perkusi dan juga bass.

“Kami ingin bisa terus melakukan yang kami lakukan saat ini. Kami mencintai hal yang kami kerjakan. Bisa bermain di dalam satu pertunjukan musik tunggal yang dihadiri oleh ratusan ribu penggemar pastinya sangat menyenangkan,” tutup Alejandro mengakhiri perbincangan sore itu.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: DOKUMEN ISTIMEWA

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, March 2015 Edition
Rubrik: Celeb News
 
Ps: Its such a dream come true having them interviewed by me.
Best luck for everything guys!!
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Maret 2015. Shelomita & Reuben Elishama
LAHIR DI KALANGAN SENIMAN
SHELOMITA & REUBEN ELISHAMA
TUMBUH BERSAMA DALAM MUSIK
___________________________________________
“Hasrat bermusik sudah mengalir dalam darah kami”



Sore itu awan mendung masih terus saja bergelayut di langit Selatan Jakarta, namun cuaca yang kurang bersahabat tidak menjadi halangan bagi kakak-beradik Shelomita dan Reuben Elishama untuk datang memenuhi janjinya kepada HELLO! Indonesia. Kehangatan pun menyeruak di ruangan selama proses pemotretan dan wawancara. Keakraban kental terasa di antara dua bersaudara ini. Tumbuh di dalam keluarga seniman memang memiliki keseruan tersendiri. Kenangan indah masa kecil dan mimpi masa depan pun mereka ungkapkan kali ini.
 
MASA KECIL PENUH TAWA  
Shelomita (40) dan Reuben Elishama (36) adalah anak dari pasangan Abdulkadir Hadju dan Marini Burhan Abdullah. Ibunda mereka adalah seorang penyanyi kawakan yang telah tampil di layar televisi Tanah Air sejak tahun 60-an dan juga menghasilkan banyak karya, baik di dalam maupun luar negeri. Disinggung tentang kisah masa kecil mereka, gelak tawa seketika menggema membuka percakapan sore itu. Keduanya mengaku bahwa ketertarikan dengan dunia musik sudah terjadi sejak mereka masih berusia belia. “Kalau saya, dari jiwa saya sendiri yang sudah meminta,” ujar Shelomita memulai perbincangan kami. “Jadi, dari kecil memang sudah belajar piano. Mulai dari piano yang santai sampai yang serius, seperti piano klasik. Saya juga pernah belajar piano di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (SM YPM) dan Reuben mengambil les alat musik biola saat itu. Kalau tidak salah, kami serius mengikuti les tersebut selama hampir enam tahun. Sampai-sampai kami juga berpartisipasi di konser tahunannya,” lanjut Shelomita lagi. “Sementara kalau di sekolah, saya ikut serta di dalam tim paduan suara sekolah. Kadang menjadi penyanyinya atau menjadi konduktornya. Tim paduan suara sekolah saya adalah tim yang sering menjuarai kompetisi paduan suara baik tingkat regional maupun provinsi. Nah, begitu masuk di Perguruan Tinggi, saya mulai bergabung dengan satu band yang bernama Arapaima. Kami sering tampil di berbagai acara kampus,” tutur perempuan yang sudah menjadi ibu dari lima orang buah hati tersebut.

Sedari kecil dikelilingi oleh para seniman hebat diakui oleh pria berzodiak Scorpio ini sebagai salah satu faktor yang membuat ketertarikan mereka terhadap dunia musik terbilang cukup tinggi. “Dulu saat mama berada di rumah, biasanya beliau sering berlatih menyanyi. Jadi saya sudah memperhatikan bagaimana teknik yang dilakukan oleh seorang penyanyi saat bernyanyi sejak masih kecil,” tutur Reuben. “Padahal kalau boleh jujur, sewaktu kecil saya ini termasuk orang yang sangat pemalu,” lanjutnya lagi. “Contohnya saat pelajaran seni musik dan mengharuskan untuk tampil di depan kelas, saya pasti deg-degan dan malu. Saya takut bikin salah,” aku Reuben. “Keluarga malah tidak pernah berpikir bahwa Reuben akan tampil di depan layar,” sela sang kakak cepat. “Kalau alat musik, saya memang sempat belajar biola kala itu. Tapi itu ada unsur keterpaksaan juga sih,” lanjutnya terbahak.
“Saat kami wajib bermain biola, mama sedang bersama papa Idris (Idris Sardi-red). Beliau adalah pemain biola yang sangat hebat dan juga sangat serius dalam bermusik,” ujar Shelomita menambahkan.
“Waktu masih kecil saya berpendapat bahwa bermain biola itu terkesan klasik sekali, jadi terkesan tidak cool,” papar Reuben lagi. “Nah! Saat diizinkan untuk tidak wajib bermain biola lagi itu rasanya seperti mendapatkan...freedoooom!” ungkapnya kembali sambil terbahak. “Mungkin karena saat itu saya merasa bahwa kebebasan waktu bermain dengan teman-teman dihalangi oleh keharusan saya belajar biola. Waktu yang harusnya saya pakai bermain dengan teman malah harus dihabiskan untuk berlatih dan itu menyebalkan,”tutur Reuben. “Namun saat sudah dewasa, saya baru menyadari bahwa biola itu alat musik yang paling dahsyat. Tidaklah mudah memainkan dan menguasai alat musik yang satu itu. Sekarang saya selalu angkat topi kepada orang yang bisa bermain biola. Apalagi saya tahu prosesnya itu sungguh sulit,” tambahnya lagi. Menurut sang kakak, Reuben sesungguhnya memiliki bakat tersendiri dengan alat musik biola, “Waktu masih bersekolah musik di YPM, Reuben menduduki peringkat pertama dari semua siswa yang bermain biola,” papar Shelomita yang disambut tawa kecil sang adik. 
Sedikit berbeda dengan sang kakak yang terus menekuni dunia musik hingga dewasa, Reuben berterus terang bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki niatan untuk terjun secara serius ke dunia musik. “Sebagai anak bungsu, saya ingin sekali bisa melakukan hal yang berbeda. Mama dan Mbak Mita kan sudah jelas penyanyi, sementara papa juga bermain alat musik. Saya ingin menekuni bidang lain,” ujar pria kelahiran Jakarta, 18 November 1978 ini. Berbekal pemikiran tersebut, Reuben pun mencoba menceburkan diri di dunia pekerjaan formal dan menjalani rutinitas pegawai kantoran yang bekerja 9 to 5. Berbagai bidang sempat ditekuninya, mulai dari event organizer, agrobisnis bahkan mengurusi kapal ekspedisi. “Uang yang dihasilkan memang lumayan, dan lebih pasti. Tapi makin ke sini saya kok merasa tidak menjadi diri sendiri,” lanjutnya. “Batinnya tersiksa saat itu. Dia kan orangnya sensitif, jadi kalau ada yang kurang berkenan dengan hatinya, emosi dia cepat naik, hahaha...” ujar Shelomita tergelak. 
MENJADI DEKAT HINGGA DEWASA
Terpaut usia empat tahun menciptakan kedekatan tersendiri antara Shelomita dan Reuben. “Kita memang dekat, terlalu dekat malah. Saking dekatnya jadinya terlalu banyak tuntutan di antara kami berdua. We are too much into each other!” ujar Shelomita. “Mama bahkan pernah cerita, ia tidak sengaja naik taksi langganan kami antar-jemput waktu sekolah dulu. Mama kaget saat supir taksi masih ingat dengan kami berdua bahkan menanyakan kabar kami. Waktu ia menanyakan kenapa masih ingat kepada Mita dan Reuben jawabannya hanya karena kami itu selalu ribut setiap harinya. Dari hal kecil semacam kaos kaki saja bisa jadi ribut, tetapi jika tidak bertemu pasti saling mencari,” jelasnya lagi disambut dengan anggukan setuju dan senyum lebar sang adik. 
“Waktu kecil Reuben termasuk orang yang tidak peduli sama sekolah. Akhirnya saya yang harus selalu mengingatkannya. Terutama masalah membawa buku pelajaran ke sekolah. Satu ketika dia tidak membawa buku sampai tiga hari berturut-turut, akhirnya saya dipanggil ke kantor Kepala Sekolah melalui pengeras suara,” cerita Shelomita. “Shelomita, tolong ke kantor Kepala Sekolah,” ujarnya menirukan panggilan Kepala Sekolahnya dulu. “Aduh! Itu rasa malunya...gila! Begitu saya sampai di sana ternyata Reuben sudah ada duluan dan ia sedang berdiri dihukum di pojok ruangan,” lanjutnya sambil tertawa terbahak-bahak. “Sejak itu saya memutuskan untuk selalu memeriksa tasnya (Reuben) saat dia sudah tidur. Saya sudah seperti baby sitternya,” ungkapnya lagi. 
Mulai beranjak dewasa, kedekatan yang terjalin antara Shelomita dan Reuben semakin erat. Bagi Reuben, kakak perempuannya ini adalah tempat untuk mencurahkan isi hati dan berbagi cerita tentang segala hal, begitu juga sebaliknya. “Kami itu sebenarnya tumbuh bertiga. Saya, Mbak Mita dan Mas Rama. Namun, jarak usia kami dengan Mas Rama terlampau jauh. Jadi kami nyambungnya hanya berdua. Meskipun begitu Mas Rama akhirnya menjadi sosok seorang bapak yang asyik bagi kami. Semua perkataan dan nasihatnya selalu menjadi pertimbangan terbesar kami saat memutuskan sesuatu,” ujar Reuben menambahkan. 
JALANI PROFESI IMPIAN
Dikenal sebagai anak dari seorang artis besar ternyata tidak seketika memudahkan jalan Shelomita untuk terjun ke dunia musik. Larangan dari kedua orangtua dan tuntutan untuk menyelesaikan pendidikan hingga tingkat tinggi menjadi salah satu hambatan yang tak pelak wajib dilewati olehnya. Menjadi penyanyi latar dari grup band Slank adalah pintu awal terbukanya jalan ke dunia musik bagi perempuan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. “Waktu itu kebetulan ada seorang adik dari sahabat kita bernama Ivan, dia sering sekali nongkrong di Potlot (markas Slank-Red). Dia menawarkan saya untuk membantu Slank (menjadi penyanyi latar),” cerita Shelomita. “Namun, saat itu mama dan papa sangat keras. Sekolah saya harus selesai dulu. Menurut mama, kalau sudah mulai terjun ke dunia menyanyi profesional dan merasa nyaman dengan dunia itu pasti saya tidak akan mengindahkan lagi sisi akademis” lanjutnya lagi. “Tetapi karena hasrat saya untuk mulai serius bermusik tidak terbendung lagi, akhirnya saya sembunyi-sembunyi menjalani pekerjaan sebagai penyanyi latar. Bukan hanya Slank, saya juga sempat menjadi penyanyi latar untuk band Dewa. Bahkan setelah itu saya sempat berduet dengan Imanez,” paparnya bersemangat. “Pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan. Reuben belum lama ini malah menemukan video duet saya dengan Imanez,” lanjutnya yang disambut dengan suara sang adik bersenandung lagunya dengan Imanez. “Terlepas dari semua rintangan yang pernah dihadapi, saya sangat bersyukur. Karena semuanya sangat berkesan dan menjadi bekal yang baik bagi diri saya,” ujarnya menegaskan.

Saat Mita memulai karier dengan menjadi penyanyi latar, Reuben justru menapakkan jejaknya di dunia hiburan Tanah Air sebagai bintang iklan televisi. “Waktu itu saya sedang bermain bola, tiba-tiba seseorang menawari saya bermain iklan. Awalnya saya tidak bersedia, tapi dia meyakinkan bahwa adegan yang akan dilakukan sangat mudah. Hanya memegang pulpen, melihat ke depan lalu tersenyum. Saya pun berpikir masa iya hanya seperti itu saya tidak bisa. Belum lagi nilai honor yang ditawarkan juga lumayan dan tidak perlu melalui proses casting lagi, hahaha...”ujarnya tergelak. “Setelah itu saya baru jatuh cinta kepada dunia entertainment. Pekerjaan ini menarik juga. Saya bisa bertemu dengan banyak orang baru setiap harinya, dan hal yang saya lakukan selalu berganti-ganti sehingga tidak membosankan,” tandasnya lagi.

Sejalan dengan waktu, akhirnya Reuben juga mulai menceburkan diri ke dunia musik, satu dunia yang sudah akrab dengannya sejak kecil. Semuanya dimulai saat ia bertemu dengan Alfa (gitaris band Channel – Red) di satu acara yang mereka hadiri bersama. Tertarik dengan musikalitas yang dimiliki satu sama lain, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah grup band. Dimulai dengan menciptakan lagu bersama, audisi mencari pemain bass dan drum sebagai anggota band lainnya, lalu terbentuklah grup band Channel pada tahun 2003 silam. “Walaupun saya sempat ‘bermusuhan’ dengan alat musik, tetapi nyatanya musik memang sudah menjadi salah satu panggilan jiwa saya,” ujar pria penggemar berat Tim Manchester United ini. Sayangnya akibat perbedaan visi dan misi, band Channel yang sempat meledak lewat album Perjalanan Dua Insan ini akhirnya bubar. Reuben sendiri kembali membuat sebuah band beraliran alternatif yang diberi nama The Alastair pada tahun 2009. “Yang masih anggota lama dari Channel hanya saya dan Alfa,” cerita Reuben.


BAYANG-BAYANG SANG IBUNDA 
Sepak terjang Shelomita sebagai penyanyi latar akhirnya diketahui oleh sang ibunda. Hal ini terjadi saat Marini menyadari kemunculan putri tercintanya di layar kaca bersama Slank. “Lho kok ada kamu! Itu komentar mama saat melihat saya di televisi,” ujar Shelomita terkekek. “Ternyata selama ini, saat saya datang ke studio untuk latihan, mama mengira bahwa saya sedang berada di sekolah menjalani kegiatan ekstra kurikuler. Karena show nya hanya satu hingga dua jam, maka mama tidak menyadarinya sama sekali. Namun begitu tahu pesan Mama hanya satu dan tegas jangan sampai sekolah saya terganggu, pekerjaan saya sebagai penyanyi latar Slank pun berhenti saat diminta untuk mengikuti tur (Slank) keliling Indonesia,” lanjutnya lagi.


Setelah itu, perjalanan Shelomita di dunia yang membesarkannya ini terbilang cukup lancar, di masa perkuliahan sang ibunda mengizinkannya manggung di pertunjukan seni dari kampus ke kampus, dan saat dirinya sedang menulis tugas akhir pendidikan Strata-1, ia mendapatkan tawaran untuk membuat album pertamanya. Kelulusannya dari bangku perkuliahan pun berbuah manis dengan keluarnya album berjudul Langkah pada pertengahan Juni tahun 2000 silam. Album ini sukses membawa nama Shelomita berada di jajaran atas penyanyi kenamaan Tanah Air.


Menjajaki dunia musik di bawah bayang- bayang besar sang ibunda diakui oleh Shelomita tidak menjadi beban tersendiri baginya. Sosok sang kakek, Tarjo Soerjosoemarno yang selalu mengajarkan untuk berpikir positif membuatnya tenang menghadapi segala tantangan yang dijumpai. “Saat sudah terjun total ke dunia musik, tidak bisa dipungkiri nama besar Mama sepertinya melekat sangat erat dengan saya. Julukan Shelomita ‘anaknya Marini, itu sudah biasa keluar masuk telinga saya. Mungkin malah ada rumor yang mengatakan bahwa saya bisa berhasil di dunia musik ini karena mama. Padahal saat berjuang memulai karier saja saya sembunyi-sembunyi dari beliau,” papar Shelomita. “Waktu saya mulai rekaman juga mama tidak tahu, belum lagi aliran musik kami sangat berbeda jauh,” tuturnya. “Walaupun begitu sampai saat ini Mama memang menjadi panutan dan juga orang yang memberi pengaruh besar dalam bermusik. Mama itu bisa membuat orang bahagia hanya dengan sebuah senyuman. Beliau adalah inspirasi bagi banyak orang. Dan saya memang belajar banyak dari Mama,”ujarnya menambahkan.


DARI BEATLES HINGGA NEW KIDS ON THE BLOCK
Latar belakang yang kental di dunia musik juga mengakibatkan Reuben dan Shelomita kaya akan referensi musik, mulai dari band legendaris asal Inggris, The Beatles, Jackson Five, Michael Jackson, Al Jarreau, Metallica, Stone Temple Pilot, Smashing Pumpkins, Whitney Houston, Aaliyah, The Sundays, Bob Marley, Incubus, Guruh Gypsy bahkan New Kids on The Block (NKOTB). Dua bersaudara ini mengaku sering berduet menyanyikan lagu milik NKOTB.

“Saat masih duduk di bangku SMP, kami sering berduet menyanyikan lagu milik NKOTB, waktu itu gara-gara apa Ben?” tanya Shelomita. “Gara-gara radio tape-nya rusak dan kasetnya tidak bisa diganti!” jawab Reuben dan keduanya pun terbahak-bahak. “Alhasil lagunya itu-itu aja,” tambah Shelomita. “Iya lagunya ini lagi ini lagi, ah ya udahlah nyanyi yuk,” ujar Reuben menirukan percakapan mereka dulu. “Kami bernyanyi dengan membagi suara menjadi suara satu suara dua, tapi waktu itu sama sekali belum terpikir untuk menjadi penyanyi. Namun saat dewasa, akhirnya pernah juga duet bareng Reuben, dalam albumnya Channel,” lanjut Shelomita lagi. “Iya, lumayanlah gratis!” ujar Reuben yang kembali disambut gelak tawa keduanya.

ALBUM BARU DAN FESTIVAL MUSIK ASIA
Tahun 2015 ini menjadi tahun yang dipilih Shelomita untuk kembali ke kancah musik Tanah Air. Perempuan cantik yang juga sibuk mengelola satu lembaga homeschooling Langkahku ini tengah mempersiapkan album terbarunya. “Meluncurkan album lagi menjadi salah satu mimpi terbesar yang saya miliki saat ini. Saya sudah merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Tapi sekarang rasanya ada hal yang memanggil-manggil saya dengan kerasnya untuk kembali ke dunia (musik) ini. Saya sudah kangen sekali!,” tegas Shelomita. “Saya mendapatkan satu kepuasan batin yang berbeda saat saya menyanyi. Singing is me! Dan kalau memang dikasih jalan, saya ingin bisa menggelar satu konser tunggal, tidak perlu satu konser besar, yang penting saya bisa bertemu dengan orang-orang yang memang menikmati musik saya,” tambahnya lagi sambil tersenyum lebar.

Sementara Reuben mengatakan bahwa dirinya ingin bisa kembali bermain di layar lebar dan memulai kariernya di dunia balik layar, serta merasakan pengalaman bermain di panggung festival musik di luar Indonesia. “Jika satu waktu saya bisa bermain di festival musik seperti Laneway Festival di Singapura atau Summer Sonic di Jepang pasti akan sangat mengagumkan,” ujar Reuben menutup perbincangan hangat dengan HELLO! Indonesia sore itu.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: DAVID HASUDUNGAN (081389933808)
PENGARAH GAYA: LISTYA DIAH
PENATA RIAS & RAMBUT: NITA JS (087883040818)
LOKASI: PIPILTIN COCOA SENOPATI
BUSANA REUBEN: LUWI SALUADJI
BUSANA SHELOMITA: COAST, AMANDA RAHARDJO FOR FASHION FIRST,
RINDA SALMUN FOR FASHION FIRST, NO’OM NO’OMI FOR FASHION FIRST 

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, March 2015 Edition
Rubrik: Celeb News