Article on Qerja.com, Star Leader. Novita Angie dan Tantangan Jalani Tiga Profesi Secara Bersamaan
Novita Angie dan Tantangan Jalani Tiga Profesi Secara Bersamaan
by Syahrina Pahlevi
Novita Angie mengawali karirnya sejak masih belia. Ia memulai perjalanannya dengan mengikuti ajang pemilihan Gadis Sampul di majalah GADIS pada 1992. Kala itu ia sukses menjadi finalis di ajang tersebut. Setelah itu, wanita yang kini telah memiliki dua orang buah hati ini mulai terjun serius ke dunia hiburan. Berbagai macam profesi seperti menjadi pemain iklan, sinetron, dan juga film sudah pernah dilakoninya. Sosoknya juga dikenal sebagai salah satu MC kawakan di Tanah Air.

Belakangan, ia juga aktif menjadi penyiar radio di Cosmopolitan FM dan juga Editor in Chief di majalah HELLO! Indonesia. Kepada Qerja, Novita Angie berbagi cerita tentang tantangan yang dihadapinya saat menjalani tiga profesi tersebut.

Di mana Anda lahir dan besar?
Saya lahir di Jakarta, 30 November 1975. Saya lahir dan besar di Jakarta.

Adakah kebiasaan waktu kecil yang masih terbawa hingga saat ini?
Ada, kebiasaan ngomong. Saya itu tukang ngomong. Hahaha. Sampai waktu kecil, saat saya masih duduk di Sekolah Dasar, saya pernah dihukum bersama tiga orang teman saya, tiga-tiganya cowok, kami dilarang pulang setelah kelas selesai. Kami berempat harus berdiri di depan kelas dan diplester mulutnya. Jadi benar-benar pernah dihukum karena kebiasaan saya ngomong ini. Kebetulan waktu itu saya bersekolah di sekolah Katolik, dan susternya marah karena kami berempat tidak pernah berhenti ngomong di dalam kelas.

Bagaimana biasanya Anda memulai hari?
Saya selalu bangun sekitar pukul 5 kurang setiap paginya. Lalu saya mandi. Setelah saya rapi kemudian saya langsung membangunkan kedua anak saya, lalu mereka mandi. Baru saya berangkat ke radio untuk siaran pagi. Tapi kalau mereka sedang ada ulangan, saya membangunkan mereka segera setelah saya juga bangun. Jadi saat saya mandi, mereka juga mandi. Saat saya sudah siap, mereka akan belajar mempersiapkan ulangan mereka.

Do you prefer coffee or tea?
Tea. I’m a tea person. Kalau mengantuk saja saya memilih minum teh. Oh, kalau boleh ditambahkan, saya itu tea and chocolate milk person. Any kind of chocolate milk, I will enjoy it.

Bagaimana biasanya Anda menghabiskan waktu di akhir pekan?
Tidur. Hahaha. Mengingat saya selalu memulai hari saya sangat pagi sekali setiap harinya. Dan kegiatan saya itu benar-benar sudah nge-gas full mulai pukul 6 pagi sampai kegiatan hari itu selesai. Jadi akhir minggu itu memang waktunya saya untuk bangun lebih siang. Sebisa mungkin saya menghindari kegiataan di pagi hari saat akhir pekan.
Kalau dulu sebelum kerja kantoran, pulang siaran saya bisa tidur, tetapi sekarang setiap selesai siaran kalau memang tidak ada jadwal syuting maka saya langsung ke kantor.
Selain itu kenapa saya lebih suka tidur di akhir pekan, karena biasanya akibat pekerjaan saya yang mengharuskan saya memulai semua di pagi hari, maka Jumat malam itu biasanya saya pulang agak malam.

Yah, sesiang-siangnya saya bangun di akhir pekan biasanya hanya sekitar pukul 8 pagi. Lalu setelah itu saya akan menghabiskan waktu bersama suami dan juga anak-anak saya, mengingat saat weekdays, jam kerja suami saya dan saya itu terbalik. Apalagi saat dia harus syuting untuk pertandingan sepakbola.

Kalau mengenai hobi?
Nonton. I like to watch movies. Makanya jika televisi di rumah saya sedang menyala pasti selalu di stasiun televisi kabel yang menayangkan film.

Film favorit Anda?
Pretty woman dan Click. Kalau Pretty Woman nggak usah ditanya lagi lah ya, everybody loves it. Sementara itu kalau film Click, setiap menonton film itu saya pasti selalu menitikkan air mata.

Adakah topik terkini yang menarik perhatian Anda?
Saya selalu tertarik terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan anak dan juga masalah korupsi. Tapi kalau untuk masalah korupsi saya pasti terbawa emosi.

Saya merasa bahwa negara ini memang sudah bobrok dan susah sekali untuk membenahinya. Butuh ketegasan dan keberanian tersendiri. Saya selalu emosi saat melihat berita tentang korupsi dan juga kebobrokan moral dari pejabat Indonesia. Menyedihkannya adalah sekarang kebobrokan moral tersebut juga sudah merambah ke semua lapisan masyarakat yang ada di Indonesia. Menurut saya ini juga imbas dari pembodohan publik yang dilakukan oleh pemerintah. Banyak sekali tayangan televisi yang tidak mengedukasi yang tetap dipertahankan. Pemerintah seperti membiarkan masyarakatnya tetap bodoh. Di situ saya merasa marah dan kesal.

Lucunya, satu waktu saya pernah bertemu dengan seseorang yang mampu membaca past life dan juga aura. Saat dia melihat aura saya, dia hanya berkata, “Mbak, kurang-kurangin nonton berita ya, Mbak.” Saya tanya kenapa. Dia bilang bahwa setiap saya menonton dan membaca berita yang ada, maka akan mengaduk-aduk emosi saya. Saya pribadi merasa hal itu benar, tetapi pekerjaan yang saya jalani ini juga menuntut saya untuk tahu tentang perkembangan kondisi yang terjadi di masyarakat sekarang.

Anda kuliah di mana, jurusan apa, dan kenapa?
Saya kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti. Alasannya karena pada saat itu saya tidak mau ikut Ospek (Orientasi Studi Pengenalan Kampus). Akhirnya saya survei, kampus mana yang fakultasnya memiliki jumlah mahasiswa paling banyak sehingga memungkinkan saya lolos dari kegiatan Ospek. Akhirnya pilihan jatuh pada Fakultas Ekonomi Manajemen Trisakti yang pada saat itu jumlah peminat bidang tersebut banyak sekali. Masa-masa itu kebetulan kegiatan Ospek di Indonesia sedang gila-gilanya, dan saat itu saya sudah mulai terjun di dunia model.

Tetapi kalau boleh jujur, sebenarnya saya ingin sekali kuliah di jurusan hukum atau psikologi. Tapi karena saat SMA saya masuk di kelas A3 (jurusan IPS), maka sebenarnya kesempatan saya hanya masuk di fakultas hukum.

Apakah pekerjaan pertama Anda?
Pekerjaan pertama saya itu ikut pemotretan untuk sebuah artikel, waktu itu saya pemotretan selama tiga jam sehingga saya mendapatkan bayaran sebesar 75 ribu rupiah. Jadi tahun 1992, usia saya masih 16 tahun, saya mendapatkan penghasilan pertama saya. Tapi kalau mau mundur lebih jauh lagi, saya ingat pernah membintangi iklan mie instan waktu kelas 1 SD, tapi saya tidak tahu berapa bayarannya, karena saat itu semua di urus oleh papa saya.

Sekarang Anda menjalani tiga profesi: sebagai pelaku dunia hiburan, penyiar radio sekaligus MC, dan juga Editor in Chief di majalah HELLO!. Dua pekerjaan di antaranya adalah dunia balik layar. Apa titik balik yang akhirnya membuat Anda memutuskan untuk terjun ke dunia balik layar?
Bagi saya, saya menjalankan karir saya itu melaui proses, bukan secara instan. Dimulai dengan saya menjadi model, lalu mendapat tawaran main sinetron, main film, lalu menjadi presenter, setelah itu saya mendapatkan menjadi penyiar radio, sekaligus terjun di dunia MC, dan yang terakhir adalah tawaran menjadi seorang Editor in Chief.

Dunia entertainment itu adalah dunia yang jenjang karirnya tidak panjang, walaupun saya pernah berakting dan suka, but I don't really enjoy the process. Really wasting my time. Saya tidak suka dan tidak sabar saat harus menunggu di lokasi. I don't like it. Selain itu saya juga merasa tertantang untuk melakukan hal yang lain, seperti menjadi penyiar radio atau presenter. Satu pekerjaan yang mengharuskan saya untuk berpikir lebih. Bukan saya mengecilkan dunia akting, tetapi mungkin memang bukan passion saya. Bagi saya berakting itu susah. Sementara di dunia balik layar, saya harus berpikir, menggunakan kemampuan saya dan saya menyukainya.

Pada dasarnya, kalau ditanya tentang cita-cita aku selalu ingin menjadi seorang penyiar radio. Kalau dulu pemikiran ceteknya adalah gue ngomong dibayar, apa nggak kurang enak hidup gue. Mengingat saya memang suka ngomong dan papa saya juga seorang penyiar radio, menjadi penyiar radio memang merupakan mimpi saya sejak dulu.

Saat saya mendapat tawaran menjadi Editor in Chief di HELLO! Indonesia saya sempat berpikir, ah gila kali gue kerja kantoran. Tapi di satu sisi saya juga berpikir bahwa saya mau “naik kelas”. Saya mau melakukan sesuatu yang bisa membuat diri saya sendiri bangga, membuat keluarga saya, terutama anak-anak saya bangga. Saya ingin melakukan sesuatu yang juga bisa menantang diri sendiri. Dan salah satunya menerima tawaran menjadi Editor in Chief. Kalau ditanyakan sulit, pasti. Beruntung suami saya mendukung penuh dan selalu memberikan semangat kepada saya.

Beruntung juga saya termasuk orang yang total saat melakukan sesuatu. So when I say yes to something, I will be total on it. Teman-teman saya sempat heran, mereka berpikir kenapa saya mau capek-capek kerja kantoran mengingat kasarnya penghasilan saya sekali menjadi MC tidak jauh dengan gaji sebulan yang saya dapatkan saat kerja kantoran. Tapi ada hal lain yang saya dapatkan saat saya menjadi seorang Editor in Chief. Menerima pekerjaan ini ibaratnya saya seperti sekolah lagi dan ini adalah pengalaman yang sangat mahal sekali harganya, belum lagi saya harus menambah kemampuan di berbagai bidang. Saya belajar dan mendapatkan pengalaman baru yang banyak sekali di sini. Termasuk kesempatan untuk menghadiri konferensi tingkat dunia dan melakukan presentasi di hadapan orang-orang dari berbagai belahan dunia tersebut.

Saya sadar posisi saya sebagai seorang public figure, tetapi saat saya mengiyakan pekerjaan sebagi Editor in Chief, saya juga tidak mau hanya sekadar menjadi pemanis aja. Saya membuktikan bahwa saya mengenal majalah yang saya pimpin dengan baik dan saya juga terlibat dalam berbagai proses di dalamnya. Mulai dari menentukan tema bulanan, menentukan artis mana yang harus diwawancara, ikut menulis berita, membuat cover, dan lain-lain.

Apakah Anda sempat terganggu dengan anggapan sebagai pemanis tersebut?
Tidak, karena saya tidak merasa harus membuktikan kepada siapapun. Saya hanya membuktikan ini kepada diri sendiri dan kepada keluarga. Seiring berjalannya waktu sekarang orang-orang di sekitar saya mulai menyadari bahwa saya memang benar-benar bekerja di balik layar. Pekerjaan di belakang layar ini justru yang membuat saya happy. Saya merasa sangat terisi. Merasa saya bisa melakukan hal-hal yang memberikan tantangan kepada saya.

Tiga pekerjaan, apakah saja tantangan yang dihadapi di setiap pekerjaannya?Kalau menjadi penyiar radio, tantangan terbesarnya adalah menjaga mood. Radio itu adalah theatre of mind dan menjadi penyiar radio itu harus mampu membuat seseorang stay tuned mendengarkan padahal orang yang berbicara ini tidak ada di hadapannya. Kalau boleh jujur, saat ada dua orang yang datang kepada saya, yang satu bilang bahwa dia suka sama aku karena sering melihat saya di layar kaca sementara yang satu bilang bahwa dia adalah pendengar setia saya, saya lebih happy kalau dia adalah penggemar setia saya. Itu happy banget rasanya. itu tandanya saya berhasil menjadi seorang penyiar radio.

Kalau menjadi seorang Editor in Chief, tantangan tersulit yang saya hadapi justru di awal-awal. Kendala terbesar saat saya harus mengatur banyak orang sebagai pemimpin mereka. Saya belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik, mengingat sebagai pemimpin saya pastinya tidak bisa menyenangkan semua orang. Tetapi saya harus bisa diterima oleh semua orang.

Ada juga masa saya harus membuktikan kepada tim saya bahwa saya di sini memang untuk bekerja, mengingat kemampuan saya jauh di bawah. Rata-rata mereka memang memiliki pendidikan dan terjun di bidang jurnalistik, tetapi saya harus mampu membuat mereka menerima bahwa saya adalah pemimpin mereka dan mau bekerja sama dengan saya.

Sementara itu di dunia hiburan dan presenter, I’ve been doing this since 1995, jadi kebanyakan sekarang klien mempekerjakan saya karena mereka ingin saya menjadi diri saya sendiri. Tidak ada aturan tertentu yang harus saya turuti. Jadi sudah tidak terlalu ada tantangannya lagi. Hmmm, oh ada satu tantangan terbesar di dunia selebritas ini, yaitu to stay slim. And I hate that. Hahaha.

Bagaimana dukungan keluarga terhadap karir Anda?
Dukungan mereka besar sekali. Terutama suami dan anak-anak saya juga. Dukungan dari keluarga besar juga tidak kalah besarnya. Mereka rela menjaga anak-anak saat saya sedang harus bekerja di luar kota, menghadiri rapat di sekolah mereka, menjaga anak-anak saat saya harus meeting sementara mereka sedang sakit sakit. Without them, I wouldn't make it.

Apakah anak-anak tidak protes karena mamanya bekerja?
Salah satu tujan saya bekerja memang untuk memperlihatkan kepada anak-anak bahwa saya terus berkarya dan melakukan sesuatu. Kebetulan saya dan suami sangat ingin saat anak-anak kami sudah dewasa mereka akan bekerja, berkarya dan berkarir, memperkaya ilmu dan juga tertantang melakukan sesuatu. Kami ingin memberitahukan juga kepada mereka bahwa pilihan profesi dalam bekerja itu banyak sekali.

Bagaimana cara Anda menyeimbangkan kehidupan sosial dengan pekerjaan?
Pada dasarnya saya tidak terlalu senang berkumpul dengan orang-orang baru. Kalaupun berkumpul, ya dengan teman-teman yang sudah saya kenal. Jadi menyeimbangkannya sangat mudah bagi saya. Terkadang saya malah hanya ingin berada di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga, bersama anak-anak. Hanya satu hal yang saya rindukan dari semua pekerjaan yang saya jalani ini, saya cuma kangen tidur siang. Hahaha. Kalau masalah bergaul, jika ada waktunya, ya saya bergaul. Kalau tidak ad,a ya sudah tidak apa-apa. Yang penting saya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga saya.


Foto: Dokumen Istimewa Majalah HELLO! Indonesia
Article on Qerja.com, Star Leader. Christian Sugiono
Christian Sugiono:
Jangan Mendirikan Startup Hanya untuk Gaya
by Syahrina Pahlevi
Terjun menjadi seorang entrepreneur di bidang teknologi informatika untuk waktu yang cukup lama membuat Christian Sugiono mendapatkan berbagai macam ilmu dan merasakan asam garam di bisnis digital.

Pria yang menduduki posisi sebagai CEO MBDC yang membawahi beberapa produk seperti malesbanget.com dan jalan2men.com ini berbicara tentang dinamika yang dimiliki oleh startup company. Tidak hanya dari segi atmosfer perusahaan, tetapi juga dari segi para pelaku yang terlibat di dalamnya.

MBDC dirintis dari tahun 2002, modal yang dikeluarkan juga pastinya tidak sedikit. Apakah MBDC sudah balik modal?
Kalau berbicara tentang balik modal, sudah nature-nya startup company itu biasanya hingga tahun ketiga atau bahkan kelima jarang sekali ada yang sudah balik modal. Misalnya seperti tokobagus, berniaga, dan bukalapak, mereka adalah startup company besar, tapi sampai sekarang belum ada yang balik modal. Karena masa-masa awal bagi startup company itu bukanlah masa untuk mencari keuntungan dari segi finansial, tetapi lebih kepada sisi gain user. Contoh lainnya kita bisa lihat Gojek yang sampai sekarang masih terus disubsidi, masih memberikan subsidi, berarti dia tidak mendapatkan keuntungan.

Tetapi sekali lagi, bagi startup company, value yang lebih penting di masa-masa awal itu bukan seberapa banyak perusahaan bisa menghasilkan uang dalam waktu setahun. Tetapi seberapa banyak perusahaan ini bisa menjaring user untuk memakai produk mereka selama setahun. Value itulah yang diadaptasi oleh internet based company. Tapi kalau mau membahas profit, MBDC sendiri memang belum balik modal, tetapi kita sudah profit sejak tahun kedua di launching.

Kalau mengenai konten. Apa konten yang paling banyak diminati oleh user di malesbanget.com sejauh ini?
Konten yang paling banyak diminati itu, yang pertama memang hal yang sedang menjadi trending, current issue, current news. Hal yang sedang heboh di masyarakat pasti akan ramai dikunjungi oleh user. Yang kedua itu, biasanya konten video traveling, dan konten-konten yang berisi tentang permasalahan sosial anak muda lainnya, seperti masalah kampus, percintaan, hubungan, masalah cewek, masalah cowok. Ya, yang menyangkut masalah anak muda lah, pokoknya.

Berbicara masalah pendapatan, maka iklan juga pasti memegang peranan penting di MBDC. Apakah sulit mencari pengiklan untuk beriklan di MBDC?
MBDC itu memang 100% pendapatannya berasal dari advertising. Awalnya di tahun 2011, itu susah sekali mencari pihak yang mau beriklan di perusahaan ini. Karena apa? Karena belum banyak yang mengerti barang yang kami jual ini apa. Kami membuat web series, konten video. Sekarang dua hal tersebut memang sudah ada di mana-mana. Tetapi pada tahun 2011, kami ingin membuat konten video untuk dijual ke brand, tidak hanya sekadar membuat saja, tetapi kami juga harus memiliki alasan kuat untuk dijelaskan kepada pengiklan kenapa mereka harus mengiklankan produk mereka melalui kami di YouTube misalnya. Ya, pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu muncul.

Akhirnya kami pun harus menjelaskan bahwa ini akan menjadi the next trend, bahwa nantinya orang akan advertising melalui media video di internet. Dan sekarang terbukti, hal tersebut sekarang menjadi trend. Tapi kalau berbicara sekarang sih sudah tidak susah lagi, terlebih karena kami termasuk one of the top of mind companies bagi para digital advertisers to spend their advertising budget. Sekarang mereka yang mencari kami.

Memiliki banyak user aktif, apakah ada komunitas sendiri di MBDC?
Ada. Kalau untuk malesbanget.com sudah ada, tetapi memang belum terlalu kami garap. Namun biasanya sebulan sekali kami mengadakan kumcer (kumpul ceria) antara para user dengan karyawan MBDC. Kegiatannya biasanya seperti main futsal, billiard, atau main basket bersama. Sementara itu komunitas yang paling besar itu justru komunitas jalan2men. Itu komunitas traveler yang tersebar di seluruh Indonesia, dan menakjubkannya komunitas-komunitas tersebut bukan kami yang membentuk. Itu terbentuk dengan sendirinya di antara para penggemar jalan2men. Misalnya seperti di Gorontalo ada yang membentuk komunitas jalan2men, mereka melapor kepada kami. Lalu akhirnya kami subsidi dan menjadi komunitas resmi dari jalan2men.

Berbicara mengenai posisi Anda sebagai CEO, saat mencari karyawan, karakter apa yang biasanya dicari?
Biasanya saya selalu melihat bagaimana cara kerja orang ini. Apakah dia termasuk orang yang bisa bekerja sendiri atau tidak? Atau termasuk orang yang harus diketok dulu baru bekerja. Di Indonesia ini terlalu banyak orang yang tujuan utama kerjanya untuk sekadar mencari uang. Ya, memang tidak dipungkiri semua orang bekerja untuk mencari uang, tetapi kalau itu sudah menjadi tujuan utama karyawan tersebut bekerja di sini, itu sudah menjadi nilai kurang bagi saya. Bagi saya nilai utama yang harus dia miliki adalah bahwa orang harus senang dengan apa yang dia lakukan. Dia harus senang dengan perusahaan ini, dan juga memiliki inisiatif bahwa kehadiran dia bisa membantu mengembangkan value yang dimiliki dan juga lebih mengembangkan ide miliknya. Terlebih karena MDBC adalah perusahaan yang bergerak di bidang media media dan kreatif, jadi memang dibutuhkan orang-orang yang bisa memberi banyak ide dan juga masukan.

Yang kedua, adalah dia harus bisa teamwork, dan juga harus bisa sangat mengerti dunia internet, dunia digital. Paling tidak, dia bermain dan cukup aktif di sosial media. Dia bisa mengerti bagaimana bedanya karakter orang-orang yang ada di media sosial Facebook dan Twitter itu seperti apa.

Kalau ada dua kandidat, yang satu dia paham mengenai internet tapi dari segi akademis tidak bagus. Sementara yang satunya akademis bagus, tetapi tidak terlalu mengenal dunia internet. Yang mana yang akan Anda pilih?
Saya akan memilih yang pertama. Bukannya sisi akademis tidak penting, tetapi bagi kami yang terpenting adalah kreativitas. Pengalaman saya, yang jago-jago itu akademisnya memang kurang. Karena nature-nya orang-orang kreatif itu memang kurang di bidang akademis. Seperti saya misalnya, saya orangnya kreatif, tetapi saya tidak melanjutkan kuliah saya sampai selesai. Karena menurut saya, bidang akademis itu nggak banget.

Saya juga menyadari bahwa bakat-bakat hebat di bidang kreatif, yang punya idea out of the box, itu biasanya adalah orang-orang dengan karakter yang seperti itu. Tapi, berbeda lagi saat saya mencari seseorang untuk posisi finance atau sekretaris misalnya. Kalau untuk bidang-bidang seperti itu, sisi akademis tetap saya kedepankan.

Menurut Anda, atasan yang ideal itu seperti apa?
Atasan yang ideal adalah sosok yang selalu ada untuk timnya, bukan sosok yang berjarak dengan anggota tim. Dia harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan tim, terutama mengenai arah perusahaan akan dibawa ke mana. Jadi para pegawai tidak hanya sekadar mengerjakan kerjaan mereka saja, tetapi mereka juga tahu arah perusahaan ini ke mana.
Dan yang berikutnya adalah atasan yang baik harus bisa memberi kesempatan pada karyawannya untuk berkembang. Dalam artian, karyawan boleh mengerjakan sesuatu di luar job description dia. Hal itu yang juga yang saya terapkan di MBDC. Bahwa setiap karyawan di sini mempunyai job description masing-masing, tetapi kalau memang ada hal yang lain yang ingin dikerjakan, saya persilakan. Dengan ini, maka kami juga bisa mengeksplor bakat mereka lainnya, dan mereka juga tidak sekadar bekerja 9 to 5 saja.

Sebagai atasan, apa yang Anda lakukan supaya karyawan lebih happy?
Start up company itu dinamikanya sangat kuat. Dari hari ke hari semuanya bisa berganti arahnya begitu saja, baik dari segi kebijakan perusahaan maupun strategi yang digunakan. Maka seperti yang saya katakana sebelumnya, beri kesempatan kepada karyawan untuk melakukan pekerjaan di luar pekerjaan rutin mereka. Selama dia memiliki talent dan kemampuan di bidang tersebut. Selain itu, beri reward lebih banyak kepada mereka. Sering membuat acara seperti makan-makan atau karaoke bareng, misalnya.

Saran bagi mereka yang ingin memulai menjadi entrepreneur di dunia start up?
Yang terpenting harus tahu maksud dan tujuan membuat start up company itu apa. Kebanyakan orang sekarang mendirikan start up hanya karena sedang trend saja. Biar keren. Kalau itu dasar pemikirannya, akan susah dan tidak kuat. Selain itu, dia juga harus senang mengerjakan hal tersebut, karena sebenarnya menjadi pemilik itu lebih melelahkan dibandingkan bekerja pada orang lain. Kalau sebagai karyawan, rutinitasnya hanya datang ke kantor, pulang ke rumah, tidur, lalu besok datang lagi, kemudian tanggal 28 setiap bulan menerima gaji. Kalau seorang entrepreneur, semua kegiatan tersebut ditambah dengan saat sampai di rumah masih harus memikirkan apa lagi yang harus dikerjakan besok di kantor, apa progress yang harus dibuat, harus mampu mendorong diri sendiri. Memikirkan juga bagaimana cara memutar keuangan perusahaan.

So, best advice is make sure that you love the things you do. Saran selanjutnya, temukan partner yang tepat untuk mendirikan usaha tersebut. Ini penting, karena kalau sendiri akan membuat bingung. Tetapi perlu diingat juga, carilah partner yang memiliki visi, komitmen, dan prioritas yang sama.

Achievement yang membanggakan di MBBC?
Setiap tahun kita selalu naik jumlah usernya. Hingga kini MDBC memiliki sekitar 10 juta page views perbulan, 3 juta user aktif perbulan, dan 1,5 juta video views perbulan. Namun hingga kini kalau mau membahas yang paling membanggakan itu sebenarnya adalah jalan2men. Tidak ada yang menyangka bahwa travel series video ini akan sukses. Bahkan sampai dibeli oleh stasiun-stasuin televisi. Hingga sekarang jalan2men sudah masuk episode ke-50. Bahkan merchandise kaos jalan2men pun dibajak di mana-mana.

Kalau kesalahan yang masih disesali hingga saat ini?
Oh banyak, itu sih banyak sekali. Tapi yang paling saya ingat itu saat saya pernah rekrut satu orang untuk level manajer, di mana dia seharusnya ada untuk mengatur produk kami. Tapi ternyata kompentensi dia kurang, sehingga banyak salah komunikasi dengan pihak ketiga yang berakibat nama perusahaan kita menjadi rusak. Di situ saya belajar, bahwa ternyata anak-anak muda yang kreatif, kalau diberikan kerjaan manajemen belum tentu bisa menjalankan.

Rencana proyek baru?
Kami masih terus membuat web series, sekarang juga sedang dikembangkan ada web series food baru. Nyamnyamnyam namanya, di YouTube sudah ada. Kami juga berencana membuat semacam kuis dengan aplikasi.

Mimpi besar MBDC?
Kami ingin menjadi the first technology based Indonesian media company di mana kita bisa bersaing, bisa menjadi besar dan memiliki audience di mana-mana dengan konten yang bagus. Secara umum kami ingin membuat aplikasi yang bisa menyelesaikan permasalahan umum yang ada di masyarakat, seperti setipe.com misalnya.

Dalam 5 tahun, kira-kira seorang Christian Sugiono akan berada di posisi apa sebagai seorang pelaku bisnis IT? Terutama di MBDC.
Mudah-mudahan lima tahun lagi saya sudah tidak menjadi CEO di MBDC. Saya sudah menjadi lebih santai, MBDC sudah mampu menggaji seorang CEO yang lebih baik dari saya. Sementara itu saya ingin mengurus pekerjaan yang lain.


Foto: www.liputan6.com
Link: Qerja.com
  
Article on Qerja.com, Star Leader. Christian Sugiono
Christian Sugiono
Selami Karir di Dunia Startup Lewat MalesBanget.com
by Syahrina Pahlevi

Kebanyakan dari Anda pasti mengenal sosok Christian Sugiono yang wajahnya kerap menghiasi layar kaca dan layar lebar di Tanah Air. Kiprahnya di jagat hiburan Indonesia mungkin tidak akan membuat Anda mengira bahwa sosok yang satu ini juga sudah lama mengeluti dunia teknologi informatika. Kali ini kepada Qerja, founder sekaligus CEO MBDC (Males Banget Dot Com) ini pun bertutur tentang perjalanan karirnya di dunia maya.
Di mana Anda lahir?
Saya lahir di Jakarta, 25 Februari 1981.
Sedikit flashback ke masa kecil Anda. Apakah ada kebiasaan yang sering di lakukan sejak kecil dan masih terbawa hingga sekarang?
Saya itu orangnya tidak terbiasa bengong, harus selalu melakukan sesuatu. Nah, kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai sekarang. Saya senang membuat sesuatu, mengutak-atik barang, dan hingga sekarang hal itu juga masih saya lakukan.
Bagaimana Anda memulai hari Anda? Are you a morning person?
Sejak saya punya anak, iya. Saya menjadi seorang morning person. Biasanya saya bangun sekitar pukul 8 atau 9 pagi, sedangkan sebelumnya saya biasanya bangun pukul 10 atau 11 siang.
Rutinitas yang biasa Anda lakukan untuk memulai hari?
Setiap pagi, saya selalu minum segelas air putih hangat dengan perasan air jeruk nipis. Setelah itu saya makan sebuah apel saat perut masih benar-benar kosong. Setengah jam kemudian saya sarapan, baru setelah itu saya mandi lalu cek email, dan lain-lain.
How about coffee or tea?
Hmm... I don’t drink coffee at all.
Di akhir pekan, apa yang biasanya Anda lakukan?
Weekend is actually our family time, mengingat saya dan istri saya sama-sama sibuk. Meskipun kami memang bertemu setiap hari, tetapi weekend selalu kami alokasikan waktunya kepada keluarga. Biasanya kami makan, atau jalan-jalan. Ya, do something, lah. Kalau memang ada waktu libur yang agak panjang biasanya kami pergi liburan ke luar kota.
Apa pekerjaan pertama Anda?
Pekerjaan pertama saya nge-pack buku di pabrik buku di Jerman. Pekerjaan kedua, di supermarket sebagai tukang panggang roti. Pernah juga kerja di Ikea, lalu pernah juga kerja di restoran sebagai koki dan kasir. Kalau pekerjaan di posisi sebagai seorang profesional, saya tidak pernah kerja di kantor. Dasar pendidikan saya adalah programming dan saya terbiasa melakukan kegiatan seperti coding. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan di bidang tersebut bersama beberapa teman saya.

Saya juga pernah freelance sebagai seorang web developer. Pernah juga menjadi kontributor reporter di Majalah Trax. Waktu itu saya masih tinggal di Eropa dan biasanya saya akan datang ke berbagai konser yang diselenggarakan di sana, saya foto, saya liput, lalu saya tulis dan saya kirim hasil tulisan saya ke Majalah Trax.
Awal Anda terjun ke dunia entertainment?
Tahun 2005, waktu itu saya sedang kembali ke Indonesia untuk menghabiskan masa liburan selama tiga bulan dan akhirnya saya pun magang di Majalah Trax. Saat itu kebetulan Mas Erwin Arnada, GM Trax sekaligus produser Rexinema sedang membuat film Catatan Akhir Sekolah. Dia menawarkan saya untuk casting, mengisi kekosongan peran Ray yang pemeran aslinya mengalami cedera engkel akibat bermain basket. Akhirnya saya ikut casting dan diterima. Itu awal mula saya terjun ke dunia entertainment.
Dunia hiburan dan dunia IT adalah dua dunia yang sangat berbeda. Bagaimana akhirnya Anda bisa kecemplung ke dunia yang berbeda sekali dengan dunia hiburan?
Sebenarnya kalau mau dibilang kecemplung, yang kecemplung itu justru di dunia hiburannya, karena saya lebih dahulu terjun ke dunia IT. Saya sudah terjun di sana sejak saya berada di Jerman. Saya bikin web, programming, dan lain-lainnya. Waktu tahun 2005 saya kembali ke Indonesia, saat itulah saya malah tidak sengaja kecemplung ke dunia hiburan Tanah Air. Saya sempat bolak balik terus antara Jerman dan Indonesia sampai akhirnya di tahun 2007 saya pindah total ke Indonesia, termasuk membawa perusahaan yang bergerak di bidang development studio untuk mobile dan website. Syukurnya kedua karir saya ini semua berjalan dengan baik.
Mengenai MalesBanget.com, Kenapa Anda memilih pasar komedi?
Pada tahun 2002, tahun di mana kami memulai MBDC, pasar komedi adalah yang sedang cukup terkenal. Pada tahun itu juga Kaskus pun baru mulai sama-sama naik. Tapi bedanya, waktu itu MBDC tidak ada yang mengurus dengan serius. Bisa dibilang hanya beberapa anak iseng saja. Namun kami juga cukup terkenal di kalangan anak Indonesia yang kuliah di luar negeri. Kontennya memang sengaja dipilih yang fun, yang ringan, karena pada saat itu website masih sedikit dan mayoritas website yang ada isinya yang serius-serius semua. Jadi kami ngeliat bahwa ini potensi dan ini adalah kekuatan kami untuk membuat konten yang fun, walaupun tidak selalu lucu tetapi tetap menghibur. Itu memang core kami, dan saat kami melihat market tersebut, saat itu termasuk market yang terkenal namun belum banyak pemain yang bermain di dalam audience tersebut. Jadi, ya kenapa tidak coba di situ?
Siapa saja founder di balik MBDC?
Foundernya saya, Christian Sugiono. Ada Aryo ada Aji. Kami bertiga saling mengenal melalui internet lewat IRC. Belum pernah ketemu sebelumnya, tiga tahun kemudian baru kami bertemu secara langsung.
Tantangan Apa yang dihadapi sebagai CEO MBDC?
Belakangan ini, setiap tahun, minimal setahun sekali pasti ada perubahan perilaku publik dalam mengonsumsi media. Kalau zaman dulu kami cukup membuat website, dan membuat brand positioning seperti yang kami inginkan, lalu publik akan mengakses kami langsung via malesbanget.com. Tetapi sekarang ini, terlebih di zamannya media sosial, penyebaran konten itu sudah sangat berbeda. Konten kami harus ada di semua platform media sosial yang orang-orang mainkan. Jadi, ya bagi saya itu adalah tantangan tersendiri memahami perilaku publik yang berubah dengan cepat saat mengonsumsi media. Dan media sosial termasuk salah satu hal yang kami perhatikan, mengingat Indonesia ternyata salah satu negara pengguna media sosial terbanyak di dunia. Jadi kami harus keep up dengan trend itu.
Sementara itu kalau terkait dunia startup teknologi, kami merasa cukup sulit untuk mencari talent di bidang IT. Belum lagi startup company sekarang di Jakarta berjamuran di mana-mana. Semua ingin membuat startup. Tim IT yang solid adalah hal dasar yang startup company wajib miliki. Sayangnya di Indonesia kendalanya adalah talent IT yang benar-benar bagus hanya sedikit namun demand-nya banyak, dan kami kalah saing dengan perusahaan-perusahaan besar yang bisa memberikan gaji secara gila-gilaan. Kami kalah di situ, kami membutuhkan usaha ekstra untuk membentuk satu tim IT yang bagus.
Memang visi dan misi MBDC sendiri itu apa?
Visinya kami ingin menjadi technology based media company, the first in Indonesia. Misinya dengan membuat konten yang baik, dan juga penyebaran konten yang tepat guna juga kepada user. Kami juga selalu menjaga kualitas di konten-konten kami. Walaupun didirikan pada tahun 2002, kami sempat mati suri dari tahun 2006 hingga 2011. Sehingga kembalinya kami di tahun 2011 juga memiliki semangat sendiri.
Apakah ada produk lain selain MalesBanget.com?
Ada, kami punya beberapa di antaranya adalah jalan2men.com. Situs jalan2men.com ini awalnya adalah travel series. Kebetulan perusahaan kami juga membuat konten video juga, dan jalan2men itu akhirnya menjadi cukup terkenal. Bahkan sudah tayang menjadi travel series di beberapa televisi, salah satunya di stasiun televisi Malaysia. Travel series ini berisi tentang kisah perjalanan keliling Indonesia.

Yang mengejutkan adalah saat kami menemukan fakta bahwa jalan2men ini ternyata cukup terkenal, bahkan ada komunitas yang sampai membuat kaos jalan2men sendiri, ada juga hashtag #jalan2man yang digunakan oleh mereka. Itu adalah hal yang tidak pernah kami bentuk atau rencanakan. Komunitas itu terbentuk secara organik di antara para penggemar jalan2men. Melihat kesempatan ini, kami akhirnya memutuskan untuk membentuk portal media baru yang membahas traveling tetapi tetap menggunakan dasar teknologi juga. Jadi tidak hanya sekadar membagikan konten informasi saja, tetapi juga harus mampu ikut menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh para traveler dengan menggunakan dasar teknologi.
Ada juga kamusslang.com tetapi produk yang satu ini lebih seperti permainan aja sih. Jadi ada aplikasinya, orang bisa mencari kata-kata slang dan menerjemahkan kata-kata tersebut.
Vakum untuk waktu yang cukup lama, apa alasan MBDC kembali bangkit?
Karena saya melihat bahwa sekarang pasarnya sudah siap. Selain MBDC, saya dan founder MBDC lainnya, Aryo, memang membuat perusahaan lain di bidang web development. Lama-lama kami merasa lelah harus mengerjakan konten untuk perusahaan orang lain. Bisa membuat website untuk orang, kenapa kami tidak mengembangkan produk sendiri? Belum lagi dengan produk sendiri kami akan bebas melakukan apa yang kami mau tanpa dibatasi oleh permintaan klien. Seiring waktu berjalan akhirnya kami melihat peluang ini muncul kembali di tahun 2011, kala itu startup company masih baru-barunya, belum se-booming sekarang. Industri tersebut masih sangat hijau. Saat itu juga kami yakin bahwa inilah saat yang tepat bagi kami untuk membangkitkan kembali malesbanget.com.


Foto: www.rajasiregar.com
Link: Qerja.com
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Agustus 2015. Iwet Ramadhan
“SUAKA” MUNGIL SERBA PUTIH
IWET RAMADHAN
HUNIAN BERSUASANA TENANG

“Apartemen ini adalah suaka, tempat saya berlindung”


Berbeda dengan kediaman-kediaman sebelumnya yang biasanya berada di lingkungan perumahan atau wilayah padat penduduk, kali ini HELLO! Indonesia menyambangi satu hunian yang berada di apartemen pencakar langit yang terletak di kawasan Jakarta Pusat. Dengan senyuman lebar, sang pemilik apartemen, Iwet Ramadhan membukakan pintu apartemennya bagi kami. Dalam perbincangan seru pagi itu, ia menuturkan tentang konsep kediaman dan juga tentang kecintaannya terhadap batik Indonesia.

EKLEKTIK MINIMALIS 
Nuansa serba putih langsung terlihat saat masuk ke dalam apartemen milik penyiar radio kawakan Tanah Air bernama lengkap Wethandrie Ramadhan (33) tersebut. Lukisan ayam berukuran besar tampak menghiasi bagian dinding foyer apartemen. Satu buah anglo beserta peralatan untuk membatik juga terpajang di lumpang kayu yang difungsikan sebagai meja dan diletakkan tepat di bawah lukisan tersebut. Suasana etnik makin terasa dengan beberapa helai kain tenun Nusantara yang tampak sengaja disampirkan di sisi sofa ruang santai yang berada di sebelah kanan foyer. Saat ditanya mengenai alasannya lebih memilih tinggal di sebuah apartemen dibandingkan rumah, ia mengakui bahwa memiliki apartemen di tengah kota telah menjadi cita-citanya sejak lama. “Kalau tidak salah cita-cita itu saya ucapkan pada tahun 2001. Alhamdulillah berhasil terwujud,” tuturnya mengawali percakapan di pagi yang cerah.

Apartemen ini pun dituturkan Iwet memiliki nilai tersendiri bagi dirinya, mengingat ini merupakan properti pertama yang dimiliki oleh lelaki kelahiran Yogyakarta, 24 Juli 1981 silam ini.


“Saya membeli apartemen ini sejak tahun 2010, tetapi baru pada tahun 2013 mulai menempatinya. Selain menjadi bagian dari cita-cita saya membeli apartemen, ini sebenarnya perwujudan dari rasa trauma saya kalau harus tinggal di rumah,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Alasannya sebenarnya sederhana tapi tricky. Yang pertama, sulit bagi saya kalau harus bersih-bersih rumah saat pembantu tidak ada. Yang kedua, pastinya saya akan repot apabila harus pergi meninggalkan rumah, mengingat tidak mungkin rumah dibiarkan kosong begitu saja. Saya harus menitipkannya kepada orang lain yang dipercaya,” ceritanya lebih lanjut. Membeli apartemen pun akhirnya menjadi solusi baginya.

Menurut Iwet, menempati satu apartemen mungil dengan luas sekitar 63 meter persegi sudah sesuai dengan porsi kebutuhannya saat ini, walaupun ia juga mengaku sedang berpikir untuk membeli properti lainnya. “Masih bingung, antara rumah atau apartemen lagi, tapi yang lebih luas sekitar 100 hingga 200 meter persegi. Tetapi kalau rumah, cita-cita saya rumah itu harus berada di kawasan Menteng atau kalau minggir sedikit, di Jalan Brawijaya,” lanjutnya sambil kembali tergelak.
 
Apartemen yang memiliki dua kamar tidur ini dan salah satu kamarnya telah difungsikan sebagai ruang belajar serta walk-in closet oleh sang pemilik, tampak sarat dengan sentuhan perabot minimalis dengan sedikit sentuhan industrialis. Unsur kayu dan warna-warna natural mendominasi di sana. “Dikaitkan dengan denah rumah, tidak ada perubahan yang cukup signifikan dari sebelumnya. Saya hanya mengubah secara besar-besaran dari segi warna,” jelas lelaki yang memulai kariernya di dunia penyiaran sejak masih kuliah di Bandung. Warna apartemen yang sebelumnya gelap pun diubah menjadi warna dasar putih. “Kenapa putih? Alasannya karena saya memang akan menata interior apartemen ini dengan gaya eklektik di mana terdapat perpaduan antara nuansa minimalis modern dan juga nuansa etnik yang cukup kental. Selain itu, untuk pribadi, warna putih itu bisa membuat saya menjadi lebih tenang,” paparnya.
 
KISAH DI DALAM APARTEMEN 
Lelaki yang gemar melakukan perjalanan sendiri ini menuturkan bahwa selalu ada cerita di balik semua benda yang ia letakkan di dalam apartemennya. Tidak hanya benda dari pelosok Tanah Air, namun banyak juga barang yang berasal dari penjuru negara di dunia, salah satunya adalah beberapa perabot yang berasal dari Negeri Tirai Bambu yang terlihat apik menghias apartemen ini. “Satu kotak kayu besar di depan itu diberikan oleh Papa saya. Kotak kayu itu beliau bawa dari Taiwan bersama dengan sketsel yang sekarang saya fungsikan sebagai headboard di kamar tidur saya. Itu sekitar tahun 1978 atau 1979. Saat itu Papa masih menjadi pilot pesawat hercules,” tuturnya berkisah. “Sebenarnya ada tiga barang pemberian Papa di apartemen ini, satu lagi yaitu lumpang besar yang saya letakkan di foyer,” tambahnya.
 
Lelaki keturunan Sumatera dan Jawa ini tampaknya memiliki ketertarikan khusus terhadap budaya Cina. Tidak hanya satu kotak kayu besar dan sketsel dengan detail batu giok yang berkisah tentang Kerajaan Cina berada di sana, tetapi juga hiasan kotak obat berwarna merah khas negeri tersebut, dan sepasang patung singa penjaga yang dalam bahasa Cina dikenal dengan sebutan Shi di negeri asalnya, atau juga dikenal dengan sebutan Foo Dogs di Barat. “Walaupun tidak ada garis keturunan Cina, tetapi saya selalu merasa bahwa saya ini separuh Cina,” ungkap Iwet serius sambil kembali tertawa ringan.
 
Sementara itu, dua lukisan unggas berukuran besar tampak cantik menghias dinding di apartemen ini, yaitu lukisan ayam dan lukisan anak kecil sedang bermain di antara kerumunan anak itik. “Lukisan ini adalah lukisan yang istimewa bagi saya,” papar Iwet seraya menunjuk lukisan ayam di area foyer. “Pertama, karena ayam adalah shio saya, dan kedua, karena yang melukisnya juga orang yang istimewa bagi saya. Lukisan ini sangat indah, bisa terlihat dari guratan-guratan garis yang tegas yang membuat lukisan itu semakin tampak indah. Selain itu, lukisan yang lainnya adalah pemberian adik sang pelukis lukisan ayam,” lanjutnya lagi.
 
Bangunan yang belum rampung total menjadi kendala bagi sarjana lulusan jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung ini. Permasalahannya terbilang klasik, yaitu kontraktor yang molor dari waktu pengerjaan. Akhirnya ia pun sempat harus tinggal dengan kondisi jendela dan kitchen set yang belum terpasang. “Jadi ya bolong-bolong gitu temboknya. Tapi ya saya tahan-tahanin saja, ha ha ha....,” tuturnya terbahak.
 
APARTEMEN INI SUAKA SAYA 
Mengaku sebagai orang yang perfeksionis, Iwet menuturkan bahwa dia juga menjadi orang yang mudah dijangkiti oleh perasaan tertekan. Dirinya selalu mencoba untuk berkompromi semaksimal mungkin dengan lingkungan yang ia hadapi setiap hari. Keberadaan apartemen ini pun menjadi satu suaka yang nyaman baginya. “Ini adalah tempat saya berlindung. Satu-satunya tempat saya bisa mengatur segala sesuatu sesuai dengan keinginan saya. Baik dari nuansa maupun suasananya. Setiap saya masuk ke dalam apartemen ini dan menutup pintu, saat itu juga saya terputus dari dunia luar.
 
Saya bahkan tidak memasang jam dinding di sini. Suasana sunyi dan tenang merupakan andalan rumah ini,” jelasnya.
 
“Biasanya sesampainya di rumah, saya menyalakan lantunan musik santai, lalu membuat kopi atau teh atau menikmati santap malam. Sesekali saya menonton televisi atau membaca buku, lalu istirahat,” paparnya lebih lanjut. Iwet mengatakan bahwa meskipun kamar tidur adalah ruang favoritnya, ia sering menghabiskan waktu untuk bekerja dan melakukan kegiatan lainnya di ruang makan.
 
KECINTAANNYA BERKARYA 
Hingga saat ini Iwet masih menjadi berprofesi menjadi penyiar di Cosmopolitan FM, namun dirinya juga kini disibukkan oleh kegiatan lain di antaranya adalah menjadi Head of Program and Marketing Communication bagi radio-radio yang berada di bawah naungan MRA (Mugi Rekso Abadi-Red) “Segala sesuatu yang terdengar dan terlihat dari radio-radio MRA itu menjadi salah satu tanggung jawab saya sekarang. Kegiatan ini boleh dibilang salah satu hal yang paling menyita waktu saya,” tuturnya sambil tersenyum. “Pekerjaan yang satu itu cukup memberi tantangan, karena itu merupakan dunia yang baru bagi saya,” lanjutnya.
 
Selain sibuk dengan dunia radio, Iwet juga tengah disibukkan dengan lini fashion batik yang didirikannya, yaitu TIKprive. Ia mengatakan bahwa kini konsentrasinya sedang dipusatkan ke sana. “Akan ada koleksi dan juga hal baru yang rencananya akan diluncurkan pada bulan Oktober mendatang, sehingga saya sedang sibuk memikirkan motif- motif baru untuk koleksi kami. Juga akan terdapat kolaborasi antara saya dengan salah satu desainer Tanah Air. Belum lagi rencananya saya juga akan segera membuka gerai TIKprive di pusat perbelanjaan Senayan City. Gerai ini nantinya akan menarik, tidak terlalu besar hanya sekitar 150 meter persegi tapi nanti para pengunjung tidak hanya datang untuk sekadar berbelanja. Mereka juga bisa belajar tentang batik di sana,” tuturnya bersemangat.
 
Lelaki yang pernah ikut bermain dalam film Arisan! 2 ini mengakui bahwa kecintaannya terhadap batik sejak kecil bisa disebut menjadi faktor utama yang mendorongnya untuk membuka bisnis di bidang batik. Dirinya pun kini serius menekuni dunia batik, ia bahkan rela untuk menjelajahi desa-desa di pelosok Yogyakarta, Pekalongan dan daerah-daerah lain di Tanah Air demi bertemu langsung dengan para pengrajin batik rumahan di sana.

“Alasan utama saya mencari batik hingga ke pelosok karena yang saya cari adalah kualitas hasil batiknya bukan hanya sekedar tampak luarnya saja. Bagaimana proses batik itu dibuat juga menjadi faktor yang penting. Ada satu desa di Pekalongan di mana di setiap rumahnya pasti ada pengrajin batik halusnya, hal itu sangat menakjubkan,” lanjutnya.

Ia juga mengatakan bahwa bukan hanya sekadar berbisnis, tetapi ia juga memiliki misi tersendiri dalam dunia batik ini. “Saya bertekad untuk mengenalkan batik secara lebih baik lagi kepada masyarakat Indonesia. Sekarang ini memang banyak orang yang mengenakan batik, namun kebanyakan masih belum mengerti makna di balik keindahan kain batik itu sendiri. Saya ingin bisa turut mengedukasi orang banyak, supaya mereka tahu apa makna batik yang sebenarnya. Karena yang diangkat oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda itu adalah teknik membatiknya, bukan hanya hasil akhirnya,” kata Iwet menambahkan. “Saya tidak bisa membayangkan jika warisan budaya tak benda itu akan hilang begitu saja ditelan waktu tanpa ada yang berusaha untuk mengenalkannya ke masyarakat luas dengan baik,” tandasnya yakin.

Aktif menjalani berbagai macam profesi mulai dari menjadi seorang penyiar radio, head of program and marketing communication, pengusaha, desainer, pembawa acara hingga beberapa profesi lainnya membuat orang lain berpikir bahwa Iwet adalah sosok multitasker, orang yang tidak bisa memusatkan pikirannya di satu bidang saja. Karena baginya, membatasi diri adalah hal yang tidak baik untuk dilakukan.

“Saya ini memang senang belajar. Mungkin bagi orang terlihat saya ini tidak fokus, tapi itulah saya. Saya pun selalu berusaha untuk bisa melakukan terbaik di berbagai bidang yang saya tekuni. Bagi saya, tidak boleh ada batasan-batasan saat saya ingin melakukan dan mengembangkan sesuatu. Well, let’s say sky is the limit,” kata Iwet menutup percakapan dengan HELLO! Indonesia pagi itu.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: NICKY GUNAWAN (087885322924)
PENGARAH GAYA: BUNGBUNG MANGARAJA
ASISTEN PENGARAH GAYA: AULI CINANTYA
BUSANA: KOLEKSI PRIBADI


Article on HELLO! Indonesia, Edisi Juli 2015. Filosofi Kopi
FILOSOFI KOPI
Seruput Sedap Kopi Nusantara
Bermula dari proses syuting film berjudul Filosofi Kopi dan mimpi sang produser memiliki satu kedai yang diangkat dari filmnya serta keinginan untuk dapat berkontribusi pada para petani kopi Tanah Air akhirnya mendorong Angga Sasongko, Handoko Hendroyono, Chicco Jerikho, dan Rio Dewanto untuk mendirikan satu kedai kopi dengan nama Filosofi Kopi. Kedai kopi yang terletak di kawasan Melawai Jakarta Selatan ini dibuka sekitar bulan April 2015 lalu, berbarengan dengan peluncuran film dengan judul yang sama.
Berbeda dengan kedai kopi biasanya, Filosofi Kopi mengandalkan produk biji kopi dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Perfecto, Tiwus dan Lestari adalah tiga menu kopi hitam yang dibuat dari perpaduan beberapa jenis biji kopi asli Indonesia yang menjadi menu andalan mereka. Bagi para penikmat kopi tubruk, Tiwus yang diolah dengan cara manual bisa menjadi pilihan yang paling tepat. Sementara bagi penikmat kopi tanpa ampas, Perfecto menjadi kopi terbaik untuk dinikmati. Lestari adalah menu kopi hitam yang sangat spesial di sana. Nama kopi ini sendiri didedikasikan oleh para pemilik kepada Dee Lestari, sang penulis novel Filosofi Kopi.
Ingin mencoba menu kopi yang sedikit ekstrem, Anda boleh mencoba memesan menu Affogato Orgasm, kopi espresso panas yang disajikan dengan satu scoop es krim rasa vanila serta daging buah durian. Perpaduan rasa ketiganya memberikan sensasi rasa kaya tersendiri di dalam mulut. Jika Anda bukanlah seorang penikmat kopi, Anda bisa memesan menu Green Tea Latte atau Red Velvet. Tidak hanya kopi dan minuman saja yang bisa dinikmati di Filosofi Kopi, mereka juga menyediakan menu kudapan ringan yang bisa Anda nikmati sendiri seperti kentang goreng bumbu, risoles dan juga churros. Jika Anda ingin menikmati kudapan bersama teman, menu waffle dengan topping es krim dan siraman sirup cokelat bisa menjadi pilihan yang sangat menyenangkan.
Kedai yang buka setiap hari mulai pukul 10 pagi dan tutup pada pukul 11 malam ini memiliki range harga produk mulai dari 20 ribu hingga 40 ribu rupiah. Tidak heran jika tempat ini selalu dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, para pekerja kantoran hingga turis asing. Bagi Anda yang terbiasa dengan kedai kopi yang dilengkapi oleh jaringan wi-fi gratis, hal itu tidak bisa Anda dapatkan di sini. Para pemilik kedai ini sepertinya ingin membangun kembali suasana kedai kopi sesungguhnya, yaitu tempat kita bisa menghabiskan waktu untuk berbincang bersama orang-orang di sekitar bukan dengan gadget di tangan. Sesuai dengan moto mereka bahwa tempat ini bisa menjadi lokasi di mana “Anda bisa menemukan diri Anda di dalamnya”.
TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: JOSHUA GUNADHI
LOKASI: FILOSOFI KOPI, MELAWAI
Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, July 2015 Edition
Rubrik: Resto

Movie Review:
The Martian
"Petani kentang Sukses di Planet Merah"

Photo Source: www.google.com
Setelah film Armageddon yang naik di tahun 1998 bagi saya belum ada satu pun film bertema astronot yang mampu mengalahkan hebatnya film tersebut. Satu pasukan astronot dadakan yang diberi perintah untuk menyelamatkan peradaban manusia dari hantaman asteroid yang tengah melaju kencang ke bumi.

Pertama kali melihat trailer film The Martian saya sempat merasa wah akhirnya ada juga film bertema astronot yang sepertinya bagus. Belum lagi film ini menggadang Matt Damon sebagai pemeran utama. Berbeda dengan Armageddon, film The Martian yang dikeluarkan oleh studio Genre Films, International Traders, Mid Atlantic Films, Scott Free Productions, dan Twentieth Century Fox Film Corporation berkisah tentang misi penjemputan kembali seorang astronot bernama Mark Watney yang terpisah dari timnya saat tiba-tiba satu badai pasir besar melanda Mars. Kala itu mereka tengah menunaikan misi meneliti kondisi tanah Planet Merah. Misi tersebut di beri nama Ares 3. Saat keluar dari hub (tempat tinggal yang dirancang untuk menopang kehidupan para astronot di Mars), Watney terhempas satu benda yang terbawa angin kencang. Benda tersebut ternyata menancap di tubuh Watney dan menghancurkan sistem komunikasi vitalnya dengan tim. Meyakini bahwa Watney telah meninggal dalam badai pasir tersebut, anggota Tim lainnya akhirnya meminta kepada sang Kapten untuk segera meninggalkan Planet tersebut dan kembali ke Hermes, pesawat induk mereka.

Nampaknya kematian belum mau menjemput Watney, dirinya selamat dari maut walaupun perutnya mengalami luka parah akibat tusukan benda yang menghantamnya. Sadar dirinya selamat, Watney yang ternyata seorang biologis ini pun tahu bahwa tugas terbesarnya sekarang adalah mencari tahu bagaimana ia bisa bertahan hidup dan memberi tahu pada Bumi bahwa ia masih hidup. Dengan segala peralatan yang tertinggal dan ilmu biologi yang dimilikinya Mark Watney akhirnya menjelma menjadi seorang petani kentang sukses di Mars. He uses his own shit to grow potatoes in Mars. Singkat cerita, Watney berhasil mengirimkan sinyal ke bumi bahwa ia masih hidup. Nasa memutuskan untuk menjemput kembali dirinya walaupun itu mengharuskan Watney menunggu hingga empat tahun kemudian. Tim Ares 3 pun didepak untuk menjemput kembali anggotanya yang tertinggal. Banyak hambatan yang mereka temukan, namun akhirnya Watney berhasil kembali ke Bumi dengan selamat. Sesimpel itu kah jalan ceritanya? Too bad I have to say, yes it was that f*ckin simple.

Terlepas dari hebatnya konsep cerita di mana Mark Watney bisa menanam kentang di atas Mars, hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana negara Cina memberikan bantuan kepada Amerika dengan mengorbankan satu-satunya proyek luar angkasa lanjutan yang akan mereka jalankan demi untuk membawa pulang seorang Astronot berkebangsaan Amerika ke bumi. For me, if Chinese willing to help America in order to save their citizen, this is mean the beginning of world peace. So that's good isn’t it right? Dari segi plot cerita, film ini seperti kehilangan klimaksnya, semua datar saja hingga selesai, kecuali perubahan bentuk badan yang dialami oleh Matt Damon. Saya akui bahwa Matt Damon benar-benar sukses menjalani perannya dalam film ini. Namun sayangnya sisi heroik yang biasanya selalu muncul dalam film bertema penyelamatan ini tidak terlalu terasa. Kepulangan Watney ke Bumi memang disambut gembira oleh para penduduk Bumi. Jujur saya mengharapkan scene mendaratkan pasukan Ares 3 di bumi, dan scene yang mengkisahkan pertemuan Watney dengan kedua orangtuanya, mengingat Watney sempat menitipkan pesan khusus untuk disampaikan kepada mereka. Scene penutup yang menggambarkan suksesnya pelepasan misi Ares 5 ke Mars kurang begitu mengena bagi saya. So, the score is 7 out of 10. If you have time, watch it. But if you don’t have that's okay to not watch it.