Article on HELLO! Indonesia, Edisi Februari 2015. Agatha Suci Wulandari
BERKAT HOBI MENATA DAN MERAWAT RUMAH
AGATHA SUCI WULANDARI

BANGUN SATU HUNIAN KLASIK EKLEKTIK




Demi memenuhi syarat yang diberikan oleh sang ayah sebelum ia menikah, Agatha Suci Wulandari (30) akhirnya membangun satu hunian untuk keluarga kecilnya di wilayah Barat Jakarta yang sedikit menjauh dari keramaian pusat kota. Kepada Tim HELLO! Indonesia ia pun menceritakan keseruan saat menata rumahnya yang bergaya klasik eklektik.

RENOVASI SELAMA TIGA TAHUN
Pemilik rumah tingkat tiga berwarna putih dengan nuansa asri menyambut kedatangan HELLO! Indonesia di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Saat memasuki rumah, sentuhan kehangatan perempuan yang kerap disapa dengan panggilan Suci ini seketika terasa memenuhi udara. Berbagai barang dengan nilai seni tinggi menyebar di sekeliling rumah, dan juga puluhan pigura tampak menghiasi setiap sudut rumah. Pemilik rumah yang satu ini terlihat sangat senang mengabadikan rekam jejak kehidupannya. Rumah yang didominasi dengan warna putih ini hadir dalam nuansa rumah klasik ala Amerika yang hangat. Meski Suci mengakui bahwa dirinya memang terinspirasi dari rumah- rumah Amerika, namun baginya rumahnya ini sendiri hadir dengan konsep klasik eklektik.

“Alasan saya akhirnya membeli rumah ini sebenarnya cukup unik. Membeli rumah adalah salah satu syarat wajib yang diajukan oleh ayah ketika saya akan menikah. Beliau mengatakan pokoknya kalau belum beli rumah, belum boleh menikah. Maklum ayah saya masih terbilang cukup konvensional,” ujar Suci membuka percakapan dengan HELLO! Indonesia. Rumah yang terletak di kawasan Jakarta Barat ini dikatakan oleh Suci juga dipilihnya karena faktor lokasi. 

“Suami saya sudah terbiasa tinggal di daerah sekitar sini. Dia mengatakan kepada saya bahwa lokasi di sini nyaman, dan akses kemana-mana juga mudah. Begitu keluar kompleks, kita langsung bisa masuk jalur tol JORR dan juga tidak terlalu jauh dari pusat kota. Akhirnya saya pun setuju untuk membeli rumah di daerah ini,” lanjutnya lagi.

“Rumah ini dulunya saya beli memang sudah berbentuk rumah jadi, mengingat posisinya juga di dalam kompleks perumahan. Namun saat awal membeli, rumah ini hanya memiliki dua lantai. Lalu saya renovasi sehingga sekarang memiliki tiga lantai. Saya membutuhkan waktu selama tiga tahun untuk merenovasi rumah ini. Awalnya, karena kami pasangan yang baru mau menikah, saya dan suami mencoba membatasi segala jenis perubahan yang akan kami lakukan terhadap rumah ini, namun akhirnya renovasi malah melebar kemana-mana dan menghabiskan waktu yang ternyata lumayan juga. Maklumlah kebetulan saya dan suami sama-sama menyukai rumah, mengingat dia memiliki latar pendidikan arstitek dan saya sangat menggemari desain interior. Alhasil semuanya dirancang ulanglah,” ujar Suci sambil tergelak.
“Contohnya saat saya merenovasi kamar mandi, untuk melakukan pemilihan jenis material apa yang akan digunakan untuk lantainya saja sempat bongkar-pasang. Sudah sempat dipasang granite tile, begitu selesai rasanya kurang cocok. Mendadak saya merasa kamar mandi ini lebih bagus menggunakan marmer, akhirnya dibongkar lagi, lalu diganti menggunakan marmer. Yang paling heboh adalah saat mengerjakan lantai depan. Material untuk lantai teras itu diganti beberapa kali, mulai dari conblock, keramik, dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan materi granit bakar. Luar biasalah perjuangannya,” lanjut Suci sambil kembali tertawa.

“Untuk konsep rumah, saya memasukkan semua hal yang saya sukai. Terkesan eklektik, tapi pada dasarnya rumah ini lebih bertema klasik. Ya, bisalah jika disebut sebagai konsep klasik-eklektik,” ujar penyanyi cantik yang merupakan salah satu finalis dari ajang pencarian bakat Indonesian Idol season pertama ini.

“Saya suka dengan rumah Amerika, karena desain-desain rumah Amerika itu buat saya terkesan sangat hangat dan juga nuansanya lebih long lasting. Bukannya tidak suka dengan konsep rumah yang minimalis, tetapi bagi saya konsep rumah minimalis itu terkesan lebih dingin. Sementara itu, rumah dengan gaya klasik Amerika ini lebih seperti rumah pada umumnya. Selain itu saya ingin rumah saya ini jika dilihat sekarang maupun sepuluh tahun lagi rasanya akan sama saja, tidak berubah,” papar Suci lebih lanjut.

Sang suami berperan sebagai arsitek rumah, sementara Suci, ia berperan total sebagai seorang desainer interior bagi rumahnya. Mulai dari pemilihan warna, perabot, dan juga penataan barang semua dilakukan sendiri oleh sang nyonya rumah. Untuk pemilihan perabot rumah, Suci mengaku tidak pernah mengaku memiliki referensi khusus. “Saya kan orangnya spontan. Jadi terkadang saat saya mengunjungi satu toko perabotan atau tidak sengaja bertemu dengan pengrajin perabot di pinggir jalan dan saya merasa suka dengan barang tersebut bisa saja langsung saya beli,” ujarnya tergelak. “Nah untuk rumah ini, memang banyak yang disesuaikan seperti lemari, meja makan dan kitchen set, tapi banyak juga barang-barang yang saya beli jadi,” lanjutnya.

Pekerjaan suami di bidang seni diakui Suci mempermudah dirinya saat harus membeli perabotan untuk rumahnya. “Kebetulan suami saya bekerja di bidang seni yang juga berhubungan dengan furniture, lalu akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan beberapa furniture yang memang kami miliki. Salah satunya meja jati yang saya gunakan di ruang makan dan juga meja yang ada di ruang perpustakaan,” ujar Suci lagi. Perabotan berbahan kayu jati dipilih oleh Suci karena perawatannya yang mudah dan tahan lama.

“Ada kejadian lucu saat saya harus membawa meja kayu jati sepanjang empat meter ke lantai tiga rumah. Itu sempat merepotkan banyak orang, mengingat bobotnya yang sangat berat,” ujarnya terkekeh. Suci juga mengatakan bahwa ia memiliki kegemaran tersendiri terhadap perabotan klasik. “Saya gemar membeli perabotan klasik, kemudian saya ubah dengan sentuhan modern, seperti kursi di ruang makan rumah saya. Kursi- kursi itu saya beli dari pengrajin di pinggir jalan, aslinya berwarna cokelat lalu kemudian saya cat lagi dengan warna hitam,” lanjutnya bersemangat. “Banyak yang mengatakan kalau pengrajin pinggir jalan kan tidak begitu bagus, tetapi saya suka saja tuh. Kalau memang terdapat cacat di perabotan yang saya beli, itu namanya human error, jadi wajar saja,” tegas Suci.
PENGGEMAR BERAT LUKISAN
Lukisan menjadi salah satu elemen interior yang bisa dengan mudah ditemukan di dalam rumah perempuan cantik yang satu ini. Ia mengakui bahwa ia dan sang suami memiliki kegemaran yang sama terhadap seni, dan lukisan adalah salah satunya. “Saya dan suami sama-sama penikmat seni. Kami berdua juga sangat menghargai barang seni, salah satunya ya lukisan. Itu juga kenapa di rumah saya ini banyak sekali terdapat lukisan. Bisa dilihat dari saat pintu rumah dibuka sudah terlihat satu lukisan berukuran sangat besar yang tergantung di dinding rumah,” ujar Suci saat disinggung mengenai puluhan pigura yang menggantung di berbagai sudut rumah.

“Kami berdua pada dasarnya menghargai karya seni yang dikerjakan oleh siapa pun, tetapi untuk lukisan kebetulan ada satu pelukis favorit yang bernama Agung Mangu Putra, beliau adalah salah satu maestro lukisan Tanah Air yang berasal dari Bali. Cukup banyak lukisan-lukisan di rumah ini yang merupakan hasil karya Gung Mangu, mulai dari lukisan berukuran besar hingga ke lukisan kecil dan juga sketsa,” lanjutnya lagi.

“Satu lukisan karyanya yang menjadi favorit saya adalah lukisan yang digantung di dekat tangga,” tuturnya bersemangat. Suci juga mengaku karena apresiasi yang sering ia dan suami berikan pada sang pelukis, kini mereka berdua malahan menjalin hubungan pertemanan yang cukup baik dengan sang pelukis. “Ya, karena hubungan baik itu juga koleksi lukisan saya juga bertambah, hahaha...”ujar Suci dibarengi dengan senyuman lebar.
Dibangun ditanah dengan luas sekitar 200 meter persegi ini, rumah ini memiliki total ruangan sebanyak delapan yang terdiri dari satu ruang tidur utama, dua ruang tidur anak, satu ruang tidur tamu, dua kamar mandi utama, satu kamar mandi tamu dan satu ruang bermain sekaligus perpustakaan. “Ruang bermain untuk anak saya terletak di lantai tiga dan merupakan ruangan terluas yang ada di rumah ini. Sengaja saya buat cukup luas, karena kedua anak saya termasuk cukup aktif. Mereka senang sekali berlarian. Selain itu, ruangan tersebut juga berfungsi sebagai ruang perpustakaan tempat saya menghabiskan waktu untuk membaca,” ujar Suci.

Perempuan yang mengaku sebagai orang rumahan ini mengaku bahwa merapikan dan menata rumah adalah kegemarannya. “Saya mengatur semua yang ada di dalam rumah ini, mulai dari yang diletakkan begitu saja atau pun digantung. Saya tidak betah melihat sesuatu barang berada di satu tempat untuk waktu yang lama. Maka saya sering melakukan perubahan letak barang di rumah. Kalau saya lama tidak mengubah letak barang-barang biasanya pegawai saya yang malah ikutan bingung dan menanyakan “Ibu, tumben gak pindah-pindahin barang?,” ujarnya sambil kembali tergelak.

“Rumah saya ini ibarat sebuah puzzle raksasa. Belum lagi jika ada lukisan baru yang datang atau lukisan lama yang keluar. Maka, lokasinya pasti tidak akan sama dan harus disesuaikan dengan ukurannya,” lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar.

SIAPKAN MINI ALBUM TERBARU 
Selain tergabung dalam grup vokal FIRE yang baru saja menggelar konser beberapa waktu lalu di Jakarta. Suci juga sedang disibukkan dengan kegiatan take vocal untuk kebutuhan single terbarunya. “Mudah-mudahan akan segera keluar lagunya. Kali ini saya bekerja dengan salah seorang maestro musik Tanah Air, Tohpati,” ungkap Suci. “Rencananya juga akan mengeluarkan satu mini album baru, yang berisi sekitar lima hingga enam lagu,” lanjutnya lagi. “Banyak yang bertanya kenapa tidak langsung full album, saya mencoba menyadari kondisi yang saya miliki saat ini. Dengan dua anak dan kegiatan lainnya, energi saya rasanya hanya bisa digunakan untuk mini album dahulu, malahan sementara ini lebih fokus mengeluarkan single,” lanjutnya lagi. “Tetapi ke depannya saya memang mempersiapkan diri untuk melirik pasar internasional dengan membuat single yang berbahasa Mandarin,” tandasnya.

Kegemaran Suci menata rumah juga ternyata berbuah manis. Saat ini ia tengah mengerjakan satu proyek merancang interior satu apartemen di bilangan Senopati. “Pemilik apartemen ini adalah pelanggan suami saya, dia membeli satu meja kayu dari suami saya. Kebetulan lagi dia sempat main ke rumah ini dan ternyata dia senang dengan desain interior rumah saya. Akhirnya dia bertanya siapa yang mendesain interior rumah ini. Saat mengetahui bahwa bahwa itu saya, dia langsung meminta saya untuk mendesain interior apartemennya. Awalnya sempat menolak mengingat waktu yang saya miliki juga tidak begitu banyak, dan kalaupun saya terima pekerjaan ini pasti akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar,” ujar Suci. “Tapi, mungkin memang sudah rezekinya. Walaupun sudah tahu kondisi waktu yang saya miliki, dia tetap meminta saya mengerjakannya. Meskipun lama, dia senang melihat hasil pekerjaan saya,”lanjut Suci lagi.

Sibuk dengan dunia menyanyi dan desain, Suci tidak pernah melupakan perannya sebagai ibu bagi kedua putra putrinya, Kahlia Adinda dan Arsa Nuraga. “Kegiatan saya dan anak-anak juga cukup menyita waktu saya, tetapi kegiatan yang satu itu sangatlah membahagiakan saya,” ujarnya tersenyum. “Saya mengantarkan dan menjemput sendiri anak saya ke sekolah mereka. Walaupun kebetulan mereka pulang dengan jam yang berbeda- beda dan menyebabkan saya harus bolak balik ke sekolah tetapi saya sangat menikmatinya. Dulu sempat berpikir untuk menggunakan jasa supir, tetapi setelah dipikirkan kembali, saya urungkan niat itu. Mengingat waktu saya dengan anak-anak terkadang hanyalah itu. Terlebih jika sedang ada pekerjaan menyanyi, dan harus seharian di luar rumah. Jadi ya, saya nikmati saja semuanya,” ujarnya menutup percakapan yang penuh dengan canda tawa sore itu.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO/ D.I: RINAL WIRATAMA
PENGARAH GAYA: BUNGBUNG MANGARAJA
TATA RIAS & RAMBUT: NITA JS (087883040818)
BUSANA & AKSESORI: CHRISTIAN DIOR
Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, February 2015 Edition
Rubrik: Home Sweet Home

Article on HELLO! Indonesia, Edisi Februari 2015. Astrid
KEMANTAPAN ASTRID JALANI DUA PERAN
Astrid Satriasari, atau lebih dikenal dengan nama Astrid memulai karier menyanyinya secara profesional pada tahun 2003 di bawah salah satu label musik kenamaan Tanah Air. Dengan lagu berjudul Ratu Cahaya, Astrid ikut mengisi album soundtrack film horor Indonesia yang berjudul Tusuk Jelangkung. Tidak hanya berhenti sampai di situ, penyanyi kelahiran Surabaya 32 tahun silam ini juga didaulat untuk membawakan satu single anyar karya Yovie Widianto yang berjudul Tak 100% di dalam album kompilasi milik Yovie yang berjudul A Portrait of Yovie. Pada suatu sore, Astrid pun berkesempatan bercerita kepada Tim HELLO! Indonesia tentang kesibukan serta mimpinya di dunia musik.
Apa kegiatan Anda akhir-akhir ini?
“Kegiatan saya akhir-akhir ini masih tetap berkutat disekitar dunia musik. Saya masih terus melakukan kegiatan promosi album terakhir saya yang berjudul Terpukau yang dikeluarkan pada akhir tahun 2013 lalu. Tetapi saat ini saya juga sudah memulai kegiatan workshop untuk persiapan album baru. Selain itu, sebagai seorang ibu, saya tetap disibukkan dengan kegiatan merawat anak serta bisnis kecil-kecilan yang saya jalankan di luar dunia musik.”
Sedikit bernostalgia, kapan Anda mulai terjun ke dunia musik?
“Sekitar tahun 2003, tapi itu adalah saat saya memulai karier sebagai penyanyi profesional. Sementara itu, di dunia musik, saya sudah aktif sejak duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat atas. Saya bahkan sempat mendapatkan banyak penghargaan saat itu. Salah satunya adalah penghargaan Best Vocal dalam Festival Band SMA se-Surabaya. Menginjak masa kuliah, saya aktif tampil secara rutin di Colors Café Surabaya, sampai akhirnya pihak kafe menawarkan demo suara saya kepada Sony Music Indonesia. Mungkin memang rezeki saya, buah dari penawaran demo suara tersebut masih berlanjut hingga saat ini.”
Apa kendala yang Anda hadapi antara menjadi seorang ibu dan penyanyi?
“Alhamdulillah hingga saat ini tidak ada kendala yang berarti yang saya alami. Keduanya masih bisa dijalankan dengan baik, walaupun kadang agak sedikit rumit kalau tiba-tiba ada hal darurat terjadi. Misalnya, saat saya harus manggung lalu ternyata anak juga sedang sakit. Tapi sejauh ini aman-aman saja.”
Adakah mimpi tersendiri dalam bermusik?
“Mimpi saya dalam bermusik, masih banyak sekali. Saya ingin sekali bisa membuat satu project yang berbeda dari biasanya. Ingin bisa mengadakan konser dan membawakan lagu milik saya dan juga lagu-lagu yang memberi inspirasi saya dalam bermusik. Lagu-lagu milik BjÖrk misalnya, kebetulan BjÖrk adalah salah satu penyanyi yang menjadi panutan saya saat bermusik.”
Kalau target pencapaian penghargaan tertentu?
“Penghargaan, hmm…saya rasa tidak. Jujur, bagi saya penghargaan itu layaknya bonus. Saat sesuatu yang kita kerjakan diapresiasi oleh orang lain hingga mendapatkan satu penghargaan, ya itu adalah bonusnya. Pada dasarnya saya hanya ingin berkarya saja, entah mendapatkan penghargaan atau pun tidak.”
Bagaimana dukungan keluarga Anda terhadap karier bermusik?
“Dukungan mereka sangat besar. Apalagi suami saya, dia salah satu orang yang memberikan dukungan terbesar bagi saya. Dia memahami bahwa menyanyi adalah salah satu hal yang bisa membuat saya bahagia, jadi tidak pernah melarang saya untuk bernyanyi walaupun saat ini kami sudah memiliki anak. Yang dia minta hanya kemauan saya untuk bisa menyadari porsi yang ada sekarang. Kalau dulu saat masih sendiri saya bisa bekerja hingga tidak pulang seminggu, tetapi kalau sekarang sehari saja tidak pulang sudah ada yang mencari. Ya memang harus ada yang dikorbankan, tetapi saya pribadi dengan kondisi yang ada saat ini juga tidak mungkin bisa pergi berhari-hari begitu saja. Sehari tidak bertemu anak saya, saya sudah sangat rindu.”

Apakah arti cinta menurut Astrid?
“Cinta itu adalah salah satu hal terpenting yang harus kita miliki dalam kehidupan. Jika seseorang tidak memiliki rasa cinta dalam hidupnya, mungkin lebih baik mati saja. Buat saya bahkan jika cinta dibandingkan dengan uang, uang itu menjadi tidak ada artinya. Walaupun memiliki banyak uang tetapi tidak memiliki rasa cinta, you will feel empty inside. Tidak akan ada kebahagiaan yang bisa dirasakan jika tidak ada orang yang kita cintai, mengingat tidak ada orang yang bisa kita ajak berbagi.”
Sosok Astrid dalam tiga kata?
Perfectionist, moody dan tomboi. Sisi tomboi saya itu mulai jelas terlihat saat saya duduk di bangku SMA. Hasilnya masih terbawa hingga saat ini, walaupun sudah menjadi seorang ibu. Perfectionist, saya selalu ingin semuanya serba teratur, jangan sampai ada yang terlewat, terlebih untuk pekerjaan. Bahkan untuk hal yang kecil, saya berusaha untuk selalu disiplin. Dari masalah ketepatan waktu hingga ke barang yang saya bawa. Saya harus mengetahui dengan jelas masalah penataannya, jangan sampai ada yang berpindah dari tempatnya. Kalau tiba-tiba penataannya berubah maka mood saya akan juga berubah. Semuanya akan menjadi tidak efektif.”
 
TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO/DI: HANAFI
PENATA GAYA: LISTYA DIAH
TATA RIAS WAJAH & RAMBUT: NITA JS (087883040818)
BUSANA: DIANE VON FURSTENBERG


Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, February 2015 Edition
Rubrik: Di balik Layar
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Februari 2015. Ben Kasyafani
BELAJAR DARI MASA LALU
BEN KASYAFANI
TAK GENTAR HADAPI MASA DEPAN
KEHIDUPAN CINTANYA
“Pengalaman hidup mengajarkan saya bekerja untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang saya cintai”

Cukup susah mencari waktu luang dari seorang Ben Kasyafani. Aktor berumur 31 tahun ini tengah disibukkan oleh kegiatan syuting sinetron dan juga menjadi presenter beberapa acara jelang kualifikasi untuk Piala Euro Prancis 2016 mendatang. Namun akhirnya mantan VJ MTV ini menyediakan waktunya bagi Tim HELLO! Indonesia, dan menuturkan bagaimana ia menghadapi kehidupan cinta setelah semua hal yang dialaminya.
 
CINTA ITU ADALAH KATA KERJA 
Ben Kasyafani, sosok aktor tampan dan juga ramah ini tersenyum simpul saat ditanyakan mengenai pandangannya mengenai cinta setelah melewati masa-masa getir yang dialaminya beberapa waktu yang lalu. Ia mengaku bahwa hingga saat ini pandangannya tentang cinta tidak pernah berubah, baik dari saat ia mulai mengenal cinta hingga sekarang. “Urusan cinta, urusan hati dan segala hal yang berhubungan dengannya, saya pribadi merasa tidak pernah berubah. Dari awal saya mengenal kata cinta, menjalin hubungan dengan seseorang, menikah, pemahaman akan makna kata yang satu itu tidak berubah, namun justru berkembang,” ujar Ben mengawali perbincangan pagi itu.

“Dulu awalnya hanya cinta kepada pasangan. Setelah menikah, jelas bentuk cinta saya berkembang menjadi cinta kepada seorang istri, dan yang terbaru bagi saya adalah cinta kepada anak. Ini adalah satu hal yang sama, namun bentuknya berbeda. Pada akhirnya, bagi saya makna cinta itu hanya satu. Sedikit berbeda dengan kebanyakan orang yang meyakini bahwa cinta adalah salah satu kata sifat. Bagi saya, cinta itu adalah kata kerja. Kenapa kata kerja? Karena kita harus bekerja untuk bisa merasakan, mempertahankan dan mendapatkan cinta. Ada usaha, pengorbanan dan juga kerja keras di dalamnya sehingga kita bisa mendapatkan dan merasakan cinta itu sendiri,” lanjutnya lagi.

Bagi pria penggemar klub sepak bola Manchester United ini cinta adalah hal yang harus dijaga, karena cinta bukanlah sesuatu yang bersifat kekal. Sejalan dengan waktu perasaan tersebut bisa saja memudar atau bahkan hilang. “Saat kita pertama kali merasakan tertarik kepada seseorang, pasti kita akan merasa berbunga-bunga. Kita melakukan segala sesuatunya untuk bisa mendapatkan balasan perasaan yang serupa dari orang yang kita cintai. Tapi saat hubungan itu sudah berkembang, sudah menikah dan sudah menjalin hubungan dalam kurun waktu yang cukup lama dan menjadi satu rutinitas, perasaan tersebut bisa saja berkurang. Banyak orang yang juga merasa bahwa perasaan mereka menjadi berkurang, ada kobaran api asmara yang lambat laun memudar, bahkan beberapa merasakan hal itu menghilang,” papar Ben lagi. “Saya telah mengalami dan menjalani berbagai momen tersebut, hal itu juga yang meyakinkan saya bahwa kita harus bekerja untuk cinta, bukan hanya supaya bisa mendapatkannya, tetapi juga untuk bisa merasakannya. Untuk bisa merasakannya itu kita harus bisa memberi untuk mendapatkan cinta itu sendiri. Cinta itu bukan hal yang main- main, bukan hanya sekadar sesuatu yang diucapkan tetapi benar- benar butuh usaha untuk bisa mewujudkannya,” ujar Ben sambil tersenyum.

“Contohnya orang yang sudah menikah dalam kurun waktu yang cukup lama kemudian merasa bahwa perasaannya menghilang. Jika sudah sampai di titik tersebut, bagi saya itu adalah saat seseorang sudah berhenti berusaha untuk mendapatkan cinta, dia hanya berharap akan diberi (cinta),” ujar ayah dari satu orang putri ini. “Bahkan mungkin ada anggapan bahwa pasangannya sudah tidak peduli lagi kepada dirinya. Kita selalu mengatakan pada orang lain, bahwa kita sudah kehilangan rasa cinta karena orang yang kita cintai sudah tidak memberikan (cintanya) kepada kita. Tapi juga ada orang yang bisa mencintai orang lain dengan begitu kuatnya, padahal cintanya itu belum tentu terbalas. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi dirinya, karena menurutnya ia melakukan hal itu bagi dirinya,” lanjut Ben.
 
“Saya meyakini bahwa kita tidak bisa terus-terusan berharap orang akan memberikan rasa cinta dan kasihnya kepada kita, karena pada kenyataannya dunia juga memang tidak seindah itu,” tandasnya lagi.


PRIORITASKAN ANAK 
Melewati berbagai macam tahapan dalam kehidupan cintanya, Ben mengatakan bahwa banyak sekali hal yang ia pelajari. Namun baginya saat ini prioritas cintanya adalah anak perempuan semata wayangnya, Sienna Ameerah Kasyafani. “Saat anak saya lahir, cara saya memaknai hidup ini pun menjadi sedikit berbeda. Tujuan hidup saya juga menjadi berbeda. Saya lebih bisa melihat nilai dan arti hidup,” ujarnya melanjutkan cerita. “Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat saya melihat Sienna. Jadi kalau ditanya apa prioritas cinta saya sekarang, ya anak saya,” lanjutnya lagi.

Pria yang menyelesaikan pendidikan tingginya di Fakultas hukum Universitas Pelita Harapan ini mengatakan bahwa ia memfokuskan kegiatannya saat ini hanya untuk beribadah, membesarkan sang buah hati dan bekerja. “Saya bekerja untuk anak dan karena anak, saya bekerja. Sementara ibadah adalah prioritas yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Jadi ibadah, anak dan bekerja adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam hidup saya saat ini,” ujar Ben sambil kembali tersenyum. “Menurut saya apa pun  yang kita usahakan di dunia ini, dibarengi dengan ibadah yang dilakukan secara asal-asalan atau setengah-setengah, kita akan mendapatkan hasil yang juga asal- asalan dan setengah-setengah. Saya sangat percaya akan hal itu. Terlebih dalam hidup ini saya juga sudah mengalami satu hal yang menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Saya harus bisa mengambil hikmah dari semua kejadian yang berlalu, supaya saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa mendatang.” ujar Ben dengan nada serius.

Saat ditanya apakah dirinya jera untuk kembali jatuh cinta, mantan penyiar radio ini mengatakan bahwa jika hal ini ditanya beberapa bulan yang lalu mungkin ia akan berkata tidak, namun sekarang kondisinya sudah berbeda. “Jera jatuh cinta, hmm semoga tidak ya, hahaha... yang pasti saat ini saya lebih berhati- hati lagi. Kondisinya kini adalah saya belum kembali bertemu dengan hal serupa. Kalau dibilang takut, saya belum tahu juga, tetapi mudah- mudahan tidak. Saya lebih ingin semua yang sudah pernah saya lewati ini bisa menjadi pembelajaran bagi saya, sebagai bahan introspeksi diri, bukan kepada rasa traumanya.” ujar Ben. “Saya ingin disaat akan memulai satu hubungan lagi saya harus bisa melihat lagi, apa yang mungkin pernah saya lakukan sebelumnya dan mengakibatkan semua hal di masa lalu itu bisa terjadi. Sekarang ini saya mencoba untuk lebih memperbaiki diri supaya menjadi orang yang lebih baik.” tegas Ben.
 
BELAJAR BANYAK DARI ORANG LAIN
Pria kelahiran Jakarta ini mengakui bahwa dia belum berencana mencari cinta baru, walaupun secara pribadi dia tidak menutup hal tersebut. “Semuanya saya jalani saja, tidak membatasi diri tetapi juga tidak membuka diri secara berlebihan. Kita tidak pernah tahu akan menemukan apa dalam kehidupan ini. Karena jodoh, mati, rezeki ada di tangan Tuhan. Saya meyakini hal itu. Jadi jika nanti saatnya tiba, saya yakin pasti akan bisa menjalani dan menerima cinta baru itu,” ujar Ben lagi.

“Jujur, saya belajar dari kisah hidup beberapa teman saya. Ada teman saya yang mengalami hal ini dan saat ditanya mengenai kemungkinan mencari cinta baru, dia langsung mengatakan tidak. Dia trauma. Jadi sekarang saya punya patokan bahwa biasanya orang yang trauma itu langsung menutup diri. Saya melihat bahwa pernikahan saya itu tidak gagal. Hubungannya mungkin gagal, tapi pernikahannya tidak mengingat sekarang sudah ada anak,” lanjutnya. “Saya juga banyak belajar dari masa lalu saya. Ada kenikmatan tersendiri saat kita mengalami hal itu, dan itu karena Tuhan menyayangi saya. Awalnya memang berat, sempat juga berpikir kenapa harus saya yang mengalami. Mengingat sebelumnya jika ada berita mengenai hal yang sama dan menimpa orang lain sempat terbersit rasa kasihan, saya tidak pernah terpikir bahwa hal itu juga ternyata akan dialami sendiri. Saya bersyukur bahwa semua kejadian yang sudah berlalu tidak memberikan efek kehancuran yang hebat kepada saya. Ya walaupun pasti sekarang ada yang berubah dari kondisi sebelumnya, ada sedikit yang kurang lengkap,” ujarnya lagi.

Bagi Ben, manusia hanya bisa menjalani kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Saat kehidupan semakin diuji oleh Yang Mahakuasa, sebagai manusia dirinya merasa harus semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kini Ben lebih memaknai hidup dengan lebih pasrah sembari tetap berusaha. “Masalah anak, saya melihat bukan kepada siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tetapi lebih kemana anak ini mau kita bawa dan bimbing. Saya menyadari bahwa anak saya perlu kehadiran kedua orangtuanya. Tetapi yang harus dihadapi saat ini adalah kenyataan bahwa hal itu tidak mungkin, jadi kita akan mencoba untuk membuat Sienna bisa tumbuh dalam situasinya sekondusif dan seideal mungkin,” ungkapnya.

Terlepas dari segala hal yang terjadi dalam kehidupannya, Ben mengakui bahwa ia sangat bersyukur masih bisa memiliki pandangan yang sangat positif terhadap cinta. “Salah satu hal yang paling saya syukuri saat ini adalah kenyataan bahwa saya bisa lebih mengerti dan dapat berpikir secara positif. Mengingat banyak orang yang juga mengalami hal seperti ini tetapi tidak menjadikannya sebagai pribadi yang lebih baik. Beberapa malah mencoba menghancurkan diri sendiri. Saya bersyukur mendapatkan dukungan dari semuanya, dari keluarga, teman, manajemen, dan juga orang- orang terdekat. Saya mencoba menjalani semuanya dengan lebih santai,” ujar pria yang memiliki kegemaran menonton film ini. “Kalau boleh jujur sekarang banyak sekali sisi positif yang saya dapatkan. Saya belajar menjadi sosok yang lebih sabar, lebih bisa mengatur dan mengendalikan emosi, lebih tenang dan juga memiliki satu pengalaman hidup yang berbeda,” lanjutnya tersenyum.

Ben menyadari bahwa pekerjaannya di dunia hiburan lah yang membuat kehidupan pribadinya sangat disorot. Ia telah melalui satu perjuangan sendiri untuk bisa memisahkan antara perasaan, logika dan juga pendapat banyak orang. “Perjuangan terbesar saya adalah untuk keluarga saya. Saya harus menebalkan telinga, karena kondisi di lapangan berita yang beredar melebar. Kalau terbawa suasana maunya klarifikasi terus, tapi kalau dipikir-pikir itu adalah hal yang percuma. Saya merasa saya hanya perlu membuktikan dan meyakinkan keluarga dan orang- orang terdekat saya, walaupun tidak sedikit juga orang-orang yang saya kenal sama kita masih tetap bertanya dan meragukan saya. Sebegitu besarnya kekuatan media sehingga bisa membuat orang mengubah pandangannya terhadap orang lain. Bahkan bisa membuat orang-orang terdekat pun merasa perlu untuk mengonfirmasi kembali kebenaran berita di luar sana,” tutur Ben.

“Itu adalah satu pengalaman tersendiri buat saya dan keluarga. Dukungan yang saya dapatkan dari keluarga benar-benar priceless. Fokus saya sekarang hanya satu, Sienna. Saya diberi kepercayaan untuk mengurus anak dan akan saya jalani dengan sebaik mungkin. Saya berharap situasi mendatang akan semakin membaik, saya juga punya target di bidang pekerjaan yang ingin dicapai. Terlebih saya masih jauh dari kata puas dalam hal berkarya di bidang pekerjaan saya.” ujar Ben mengenai rencananya ke depan dan sekaligus menutup percakapan dengan Tim HELLO! Indonesia.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO / D.I : ADI SETYO
PENGARAH GAYA: BUNGBUNG MANGARAJA
BUSANA : POPULO BATIK
LOKASI: JIMBARAN LOUNGE INTERCONTINENTAL HOTEL JAKARTA

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, February 2015 Edition
Rubrik: Heart to Heart
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Januari 2015. Restoran RASA
SENSASI RASA ASIA DI TENGAH KOTA
Restoran RASA yang berlokasi di Hotel InterContinental Jakarta hadir dengan desain interior khas Indonesia yang juga mencoba menawarkan sensasi masakan Nusantara bertaraf internasional yang menggugah selera para penikmat kuliner.

Masakan Asia merupakan salah satu masakan yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam peta kuliner dunia. Mulai dari masakan Indonesia, Cina, Jepang hingga India yang memiliki cita rasa tersendiri yang mampu memanjakan lidah setiap penikmatnya. Itulah menu yang disajikan oleh Chef Jaenal Abidin (43), Executive Chef Restoran RASA yang berlokasi di Hotel InterContinental Jakarta. Kali ini ia berbagi resep masakan Tanah Air seperti menu bebek, daging kambing dan juga ikan salmon. 
“Merasakan masakan dari berbagai penjuru dunia pastinya sangat menyenangkan. Tetapi saya pribadi sangat bangga bisa menghadirkan dan menawarkan pengalaman kuliner Asia yang beraneka ragam bagi para penikmat makanan di sini,” ujarnya. 
“Seperti menu-menu yang saya sajikan di Restoran Rasa, saya sangat ingin para pengunjung yang datang ke sini bisa terus menjelajahi cita rasa kuliner Asia, terlebih kuliner Nusantara,” lanjutnya. Pria kelahiran Subang yang sudah menekuni dunia kuliner sejak kecil ini juga mengatakan bahwa berbagai macam rempah-rempah menjadi salah satu kunci utama dalam masakan Indonesia. Tentunya didukung dengan bahan-bahan makanan yang segar. 
“Menu yang disajikan oleh saya di sini kebanyakan sudah dimodifikasi sehingga cocok disajikan sebagai menu kelas internasional. Bukan mengubah rasa, melainkan hanya mengubah tampilan sehingga tampak lebih cantik dan menarik,” papar chef yang mengenal dunia kuliner karena sering membantu ibunya yang memiliki warung makan. 
Seperti menu Roasted Duck Fill Cassava Leaf with Flowers Sambals, yang disajikan Chef Jaenal kali ini. Menu ini adalah salah satu menu jagoan restoran Rasa yang berasal dari Bali. “Bebek panggang ini salah satu best seller di restoran ini, keempukan daging bebek yang dipanggang berpadu serasi dengan rasa rempah-rempah yang ada di daun singkong rebus dan parutan kelapa. Saya jamin menu ini pasti memanjakan lidah semua penikmatnya,” ujarnya tersenyum. 
“Menu kambing yang satu ini juga jagoan saya, karena memasak dengan bahan daging kambing itu sebenarnya adalah satu tantangan mengingat tidak semua orang suka aroma daging yang satu ini, namun menu ini menjadi salah satu favorit para pengunjung,” jelasnya lagi mengenai menu Lamb Stew with Pineapple, Apple and Cashew Nut.
“Saya memang sangat menggemari dan mencintai kuliner Indonesia, hal ini juga yang akhirnya membuat saya selalu terinspirasi untuk berinovasi dan terus memperkaya menu-menu khas Indonesia,” tutupnya. 
Roasted Duck Fill Cassava Leaf with Ginger Flower Sambals
Roasted Duck Fill Cassava Leaf with Ginger Flower Sambals
Bahan:
1 ekor bebek lokal, 200 gram daun singkong rebus, 50 gram kelapa parut, 30 gram kunyit, 15 gram bawang putih, 20 gram bawang merah, 10 gram jahe, 10 gram lengkuas, 1 batang serai, 50 gram cabe merah besar, 10 gram cabe rawit, 3 gram terasi, 5 gram kemiri, 10 gram margarin, 5 gram kencur, 5 ml kecap manis, 1 gram lada hitam halus, 500 ml minyak goreng, garam dan lada secukupnya.

Bahan Sambal Kecombrang:
5 gram cabe merah keriting diiris, 10 gram bawang merah diiris, 10 gram bunga kecombrang, 2 gram terasi yang telah di bakar, 5 ml air jeruk purut, 2 sdm garam, 15 sdm minyak zaitun.

Cara membuat:
Haluskan bawang putih, bawang merah, lengkuas, serai, cabe merah besar, cabe rawit, terasi, kemiri dan kencur di dalam food processors. Panaskan margarin di dalam penggorengan, masukkan bumbu yang sudah dihaluskan, lalu tumis hingga harum. Dalam satu wadah besar, campur daun singkong rebus dan kelapa parut bersama dengan bumbu halus yang telah ditumis. Tambahkan garam dan lada secukupnya. Bersihkan bebek, baluri daging bebek dengan kecap manis, diamkan selama satu jam. Panaskan minyak goreng di dalam penggorengan, goreng bebek hingga tampak kecokelatan, angkat dan sisihkan. Masukkan campuran daun singkong dan kelapa parut ke dalam perut bebek, dan siram sisa saus ke atasnya. Bungkus bebek dengan alumunium foil dan panggang dalam suhu 100 derajat Celsius selama tiga jam.

Sambal Kecombrang

Campur semua bahan dalam satu mangkuk besar, lalu tuangkan air jus jeruk purut dan garam. Aduk rata. 

Lamb Stew with Pineapple, Apple and Cashew Nut
Lamb Stew with Pineapple, Apple and Cashew Nut
Bahan: 10 gram daging kambing diiris tipis, 25 gram potongan nanas, 25 gram potongan apel, 20 gram kacang mede panggang, 5 ml kecap Inggris (Worcestershire sauce), 1 gram jahe, iris seperti batang korek api, 1 lembar daun jeruk purut, 3 gram daun bawang, 15 gram bumbu dasar merah, 5 ml kecap manis, 1 gram lada hitam halus, 10 ml minyak goreng.
 
Cara membuat:
Panaskan minyak goreng dalam penggorengan. Masukkan bumbu dasar merah, daun jeruk purut dan irisan jahe. Tumis hingga harum. Masukkan irisan daging kambing, potongan nanas dan apel masak dengan api sedang selama 15 menit. Masukkan kecap manis, kecap Inggris dan lada hitam halus, masak lagi selama 10 menit. Setelah matang sajikan dengan taburan kacang mede panggang.

Triple Chocolate Brownies
Triple Chocolate Brownies
Bahan: 200 gram dark chocolate, 150 gram mentega, 3 butir telur, 175 gram gula pasir, 4 gram vanilla essence, 75 gram tepung terigu, 100 gram cokelat susu, 100 gram cokelat putih.
 
Cara membuat:
Masukkan dark chocolate dan masak secara bain marie, (dimasak dengan menaruhnya secara tidak langsung di atas api) lalu masukkan telur, gula dan vanilla essence, aduk perlahan hingga rata. Cacah cokelat susu dan cokelat putih, sisihkan. Campur tepung terigu dan telur, aduk perlahan hingga rata, masukkan cokelat yang telah dicacah dan campuran mentega. Aduk hingga rata. Masukkan ke dalam loyang, panggang dalam suhu 180 derajat Celsius selama 45 menit.

Seared Spicy Balinese Tuna with Pickles
Bahan: 35 gram irisan daging tuna segar
Acar: 10 gram kol putih, iris halus 5 gram wortel, iris seperti batang korek api, 5 gram kol merah, iris halus, 5 gram tauge
 
Seared Spicy Balinese Tuna with Pickles
Saus: 5 gram cabe merah, bersihkan bijinya, 3 gram ebi, 3 ml cuka, 5 gram gula pasir, 3 gram garam
Untuk Hiasan: bawang merah dikupas, irisan batang serai, irisan cabe hijau, irisan daun jeruk purut, terasi yang dipanggang, 1 butir telur puyuh rebus
 
Cara membuat:
Panggang tuna dalam penggorengan, sisihkan. Campur semua bahan acar di dalam mangkuk besar, sisihkan. Campur semua bahan saus, tuangkan di atas acar. Taruh semua hiasan di atas tuna, lengkapi dengan sebutir telur puyuh rebus.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: JOSHUA GUNADHI (081806001212), DOKUMEN ISTIMEWA
LOKASI: HOTEL INTERCONTINENTAL JAKARTA, JL. JENDERAL SUDIRMAN KAV 10-11, MID PLAZA JAKARTA PUSAT 10220. TELEPON: (021) 2510888

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, January 2015 Edition
Rubrik: Resep
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Januari 2015. Raline Shah
DOA TAHUN BARU
RALINE SHAH
INGIN MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK
Bermula dari panggung pemilihan Putri Indonesia 2008, karier Raline Shah kian menanjak seiring waktu. Mendapatkan peran dalam film Supernova, Raline pun semakin mengukuhkan namanya di jagat perfilman Tanah Air.


Raline Shah, dara cantik kelahiran Jakarta 29 tahun silam ini mulai dikenal oleh publik Indonesia setelah ia menjadi salah satu finalis dalam ajang Puteri Indonesia pada tahun 2008 lalu, saat itu juga ia berhasil memenangkan kategori Puteri Kepulauan Sumatera, Puteri Terfavorit dan juga dianugerahi sebagai Puteri Lingkungan Hidup. Setelah itu paras cantiknya pun tampak semakin sering hadir di jagat pertelevisian Tanah Air, namun film 5 cm besutan sutradara Rizal Mantovani lah yang sukses membuat Raline Shah mengukuhkan namanya dalam dunia perfilman tanah air. Kemajuan kariernya di dunia film Tanah Air pun tidak diragukan lagi, belum lama ini Raline sukses memerankan tokoh Rana dalam film Supernova yang diangkat dari novel sukses milik Dee Lestari. Kali ini Tim HELLO! Indonesia berkesempatan berbincang tentang cita-citanya dalam karier dan mimpi yang ingin dicapainya di tahun 2015.

MENJADI ORANG YANG LEBIH BAIK
Ditemui oleh Tim HELLO! Indonesia disela-sela kesibukannya setelah mempromosikan film terbarunya Supernova, Raline mengatakan bahwa ia tidak memiliki target tertentu baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan kariernya di tahun 2015. Segala sesuatu selalu ia jalankan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. “Kalau berbicara tentang target di tahun 2015, jujur saya tidak memiliki target tertentu. Karena menurut saya, segala sesuatu yang dijalankan dengan baik dan juga dengan usaha terbaik pasti akan berjalan dengan sangat baik. Jadi biarkan hal itu mengalir apa adanya saja. Terlebih bagi saya yang memang menjalani karier di dunia seni peran, saya pasti harus menunggu tawaran yang ada. Jadi, ya jalani saja semuanya sebaik mungkin,” ujar Raline. “Sedangkan target pribadi, saya ingin menjadi seseorang yang lebih baik, lebih disiplin dan lebih sehat.” lanjutnya sambil tersenyum simpul.

Mulai dikenal publik Indonesia sejak tahun 2008 silam, dara cantik yang menghabiskan masa remajanya dengan bersekolah di negara tetangga Malaysia dan Singapura ini sebenarnya mulai berkiprah di dunia model sejak ia berusia 16 tahun. Raline kerap menghiasi berbagai iklan produk- produk internasional di Malaysia dan Singapura, walaupun ia mengaku tidak pernah sama sekali bermimpi bisa menjadi seorang model atau pun aktris layar lebar.

Semuanya dimulai saat salah seorang teman mengajaknya pergi casting ke sebuah biro iklan. “Alhamdulillah, saya mendapatkan pekerjaan tersebut. Lalu pada suatu kesempatan saya mendapatkan satu pekerjaan iklan tentang produk perawatan kulit yang iklan tersebut dibuat dalam bentuk mini drama. Dari sutradara iklan itulah saya disarankan agar mau mencoba ‘menceburkan’ diri ke dunia akting, karena menurut dia akting saya bagus,” tutur Raline.

“Hal itulah juga yang menjadi titik awal saya memberanikan diri untuk menerima tawaran bermain di film 5 cm, walaupun memang saya sudah lama belajar akting melalui teater namun tidak pernah menyangka bahwa saya memiliki bakat untuk berakting di depan kamera. Saat diberikan kesempatan itu, saya menjalaninya sebaik mungkin.” lanjut perempuan yang ternyata memiliki kegemaran travel dan memasak ini. Raline juga mengatakan bahwa mimpinya adalah bisa menjadi yang terbaik di bidang yang dia tekuni. Walaupun dia tidak pernah secara khusus menentukan apakah bidang yang akan ditekuni. Dia hanya menjalani apa yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta dengan baik.

Mengingat ia sudah pernah membintangi satu iklan produk kecantikan yang ditayangkan untuk pasar Asia Pasifik, wajah cantik Raline sesungguhnya tidak hanya dikenal di Indonesia saja, namun Raline mengaku bahwa dirinya belum memiliki target untuk melebarkan kariernya ke dunia internasional. Baginya bisa turut serta berperan dalam kemajuan perfilman Indonesia adalah hal yang akan sangat membahagiakan. “Saya memang memulai karier saya di negara tetangga, tetapi saya sangat cinta pada Indonesia. Hal itu juga yang membuat saya memutuskan untuk kembali, tinggal dan mengembangkan karier saya di Indonesia. Terlebih lagi saya rasa kita masih membutuhkan banyak orang untuk memajukan perfilman Indonesia,” tutur Raline.

“Lagipula mendapatkan satu pengakuan dari dunia internasional pun tidak semudah itu. Kita ambil contohnya Amerika, jangankan kita para pekerja seni dari Indonesia, masih banyak juga para pekerja seni yang bertalenta dan sudah terjun ke dalam satu film besar di sana saja masih susah mendapatkan satu pengakuan untuk bisa naik (kariernya). Jika pekerja seni Indonesia bisa mendapatkan satu pengakuan dari dunia internasional, maka pastinya ke depannya akan lebih mudah. Tetapi menurut saya yang terbaik saat ini adalah kita harus mencoba segala sesuatu yang terbaik di negara kita, Indonesia. Kalau memang di masa mendatang ada rezeki ke arah itu, mengapa tidak,” lanjutnya.

“Kalau saya pribadi hingga saat ini memang belum terpikir sama sekali untuk keluar dari Indonesia, terlebih lagi saya masih terbilang cukup prematur di jagat perfilman Tanah Air. Tetapi yang pasti saya akan melakukan hal yang terbaik untuk sesuatu yang saya kerjakan saat ini,” tegas dara cantik yang juga gemar bermain sepak bola ini.


BELAJAR AKTING LEWAT POLITIK
Memiliki ayah seorang diplomat membuat Raline sangat tertarik dengan dunia politik. Ia bahkan menyelesaikan pendidikan tingkat tingginya di bidang ilmu politik di National University of Singapore. Menurut Raline, banyak hal yang bisa dipelajari lewat politik. “Saya memang sangat tertarik dengan dunia politik, dan juga banyak belajar banyak hal dari dunia politik, terutama tentang kekuasaan. Bagaimana cara kekuasaan dijalankan dan juga dikendalikan,” ujarnya.

“Menurut saya kekuasaan adalah hal yang penting, mengingat kekuasaan bisa mengatur berbagai macam hal. Selain itu juga saat belajar politik saya juga belajar bagaimana cara mendalami karakter yang sangat membantu saya mendalami peran dalam sebuah naskah,” lanjut Raline yang juga memiliki gelar diploma di bidang teater ini.

Belajar mendalami akting melalui teater dengan bahasa pengantar bahasa Inggris ternyata membuat Raline mempunyai mimpi untuk bisa mendapatkan satu peran dalam film yang menggunakan naskah berbahasa Inggris. “Saya ingin sekali bisa bermain di satu film berbahasa Inggris. Tidak perlu film Hollywood atau film dari negara lain. Film Indonesia saja, tetapi berbahasa Inggris,” paparnya. “Kebetulan saya belajar akting dalam kapasitas menggunakan bahasa Inggris, jadi saya merasa lebih nyaman dan ingin sekali memiliki kesempatan untuk bermain film berbahasa Inggris. Alhamdulillah, sebentar lagi mungkin akan segera tercapai mimpi saya ini karena pembuatan film (berbahasa Inggris) tersebut sedang on progress.” lanjut Raline sambil tersenyum lebar.

Saat disinggung masalah target mendapatkan penghargaan di bidang yang ia geluti, Raline mengaku bahwa ia pribadi tidak pernah menganggap bahwa penghargaan adalah sesuatu yang penting, “Buat saya pribadi penghargaan itu lebih kepada penilaian dari orang lain saja dan hal itu tidak penting. Kalau memang saya mendapatkan satu penghargaan ya saya syukuri, kalau tidak, ya tidak apa-apa,” tuturnya.

“Yang paling penting itu adalah bagaimana saya bisa merasa bahagia dengan semua kemajuan yang saya lakukan dan meyakini bahwa saya sudah melakukan sesuatu yang terbaik. Saya yakin bahwa semua orang ingin melakukan yang terbaik, tapi belum tentu dapat pengakuan dari orang. Tapi kalau saya terus mengejar people recognition, saya rasa hidup saya akan lebih susah dari yang sekarang. Terlebih lagi saya bukan orang seperti itu,”ujarnya lagi. 

LEBIH BANYAK WAKTU UNTUK KERJA SUKARELA
Merayakan Tahun Baru sepertinya tidak ada di kamus dara cantik yang gemar membaca buku-buku bertema dokumenter dan spiritual ini. Kebiasaan yang dia lakukan saat tahun baru adalah berkumpul bersama keluarga dan berdoa. “Tahun baru, biasanya saya pulang ke rumah di Medan, berkumpul bersama keluarga dan berdoa. Karena kebetulan anniversary Papa dan Mama juga berdekatan dengan Tahun Baru (tanggal 25 Desember-red),” ujarnya.

“Harapan saya di Tahun 2015 semoga bisa lebih bersyukur lebih baik lagi, dalam artian saya bisa lebih banyak lagi melakukan kegiatan amal dan berbagi kebahagiaan yang saya raih dengan orang banyak. Saya sudah bahagia dengan yang saya dapatkan saat ini, so I don’t need to be international artist or something. Kalau memang ada rezekinya dan kalau memang ada tawaran serta Tuhan mengizinkan, saya akan menjalankannya dengan bahagia,” tutur Raline menambahkan.

“Saya juga berharap semoga saya bisa lebih bersyukur lagi dengan melakukan volunteer work, karena tahun ini saya benar-benar tidak sempat melakukan kegiatan tersebut. Saya sangat berharap di tahun yang baru ini saya bisa meluangkan waktu jauh lebih banyak lagi untuk melakukannya. Saya memang terbiasa melakukan kegiatan kerja sukarela dari kecil, mengingat Mama saya memiliki Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YCAP) di Medan dan Papa juga aktif di Palang Merah Indonesia (PMI),” tutup Raline sambil tersenyum.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: HANAFI
PENGARAH GAYA: LISTYA DIAH
MAKE UP & TATA RAMBUT: RICHARD THEO (082123899188)
BUSANA: BCBG MAXAZRIA & KOLEKSI PRIBADI
LOKASI: HOTEL INDONESIA KEMPINSKI

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, January 2015 Edition
Rubrik: Celeb News


Article on HELLO! Indonesia, Edisi Januari 2015. Isabella Fawzi
MENJADI PEMBAWA ACARA BERITA
ISABELLA FAWZI
MERASA LEBIH BISA MEMBUKA DIRI


Berbeda dengan kedua orangtuanya yang berkarier di jagat hiburan Tanah Air, Isabella Fawzi, putri pertama pasangan artis Marissa Haque dan Ikang Fawzi memilih untuk terjun sebagai pembawa acara berita. Mengawali kariernya sejak tahun 2009, perempuan kelahiran Jakarta 28 Januari 1988 ini mengaku bahwa profesi yang ia tekuni saat ini telah membuatnya menjadi pribadi yang jauh lebih terbuka. Tim HELLO! Indonesia berkesempatan berbincang dengannya tentang profesi dan ketertarikannya terhadap negara India.  
Sejak kapan Anda mulai terjun ke dunia pembawa acara berita?
“Saya mulai terjun ke dunia pembawa acara berita pada tahun 2009. Waktu itu saya masih mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Masyarakat. Awalnya saya hanya sekadar coba-coba ikut casting dan akhirnya mendapatkan pekerjaan di divisi berita Global TV. Tidak langsung menjadi pembawa acara berita di studio, saya juga merasakan pengalaman menjadi reporter yang terjun ke lapangan, baru selanjutnya mulai membawakan acara berita di studio. Itu adalah awal saya mulai belajar tentang dunia jurnalistik. Banyak pengalaman dan juga pengetahuan yang saya dapatkan selama menjadi pembawa acara berita. Sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk terjun ke dunia hiburan, karena sebelumnya saya juga pernah menjadi pembawa acara infotainment dan acara jalan-jalan. Tetapi sepertinya rezeki saya memang sebagai pembawa acara berita, bahkan saat saya sekarang sudah bergabung dengan NET TV, juga di divisi berita.”

Apa yang menarik di dunia pembawa acara berita?
“Banyak sekali hal yang menarik di dunia pembawa acara berita ini. Walaupun memang terkesan dunia ini lebih serius jika dibandingkan dengan dunia hiburan, saya mendapatkan banyak pengalaman yang terbilang cukup unik di sini. Melalui pengalaman di lapangan saya belajar bagaimana cara menghadapi orang banyak dengan karakter yang berbeda-beda. Sedangkan kalau di studio, saya belajar untuk mengembangkan diri dan mempelajari kapan saya harus bisa melakukan improvisasi jika terjadi kesalahan-kesalahan teknis saat proses syuting berlangsung, melakukan riset terhadap materi yang akan saya bawakan. Belum lagi kalau saya harus membawakan acara berita dengan partner, maka saya harus membangun satu chemistry dengan partner saya.”

Apa tantangan terbesar dunia pembawa acara berita?
“Hmm...tantangan terbesar ada saat saya harus selalu terlihat tenang dalam kondisi apa pun. Whatever happens the show must go on. Pada dasarnya saya itu orangnya mudah panik, maka saya benar- benar banyak belajar dari rekan pembawa acara lain untuk mengatasi hal ini. Saya juga harus banyak belajar karena saat saya muncul di depan kamera maka saya harus benar-benar memahami yang saya bicarakan.”
 

Target Anda sebagai pembawa acara berita?
“Saya ingin bisa terus menginspirasi orang lain. Sebenarnya di pekerjaan apa pun saya mempunyai prinsip untuk melakukan segala sesuatu dengan baik. Nah, sebagai pembawa acara berita saya ingin bahwa semua berita yang saya sajikan harus menjadi berguna dan bermanfaat bagi orang yang menyaksikannya. Saya juga ingin mempunyai satu acara sendiri yang lebih menggambarkan diri saya. Acara tentang India misalnya.”

Bagaimana dukungan keluarga dalam karier Anda?
“Mereka sangat mendukung karier saya di dunia pembawa acara berita, mengingat sebelumnya saya pernah terjun di dunia infotainment, justru orang tua kurang suka. Tapi begitu melihat saya membawakan news mereka lebih suka, karena semua yang dibawakan pasti ada pertanggungjawabannya. Walaupun demikian bagi saya semua pekerjaan ada risikonya. Dan pada akhirnya semua itu adalah pilihan.”

Apa kegiatan Anda di luar pembawa acara berita?
“Kebetulan saya memiliki minat yang cukup besar di bidang kesenian, dan biasanya saat saya sedang tidak syuting saya mendalami hobi mempelajari kebudayaan India seperti menari, menyanyi dan juga mempelajari bahasanya. Saya sudah menerbitkan satu buku tentang hobi saya ini, judulnya Me and My Bolly Hobby. Di buku ini saya menceritakan kegemaran saya dengan India, bagaimana serunya belajar budaya dan bahasa India, bertemu dengan teman-teman yang juga menggemari India, berkenalan dengan orang-orang India, mengunjungi negara-negara yang banyak penduduk Indianya. Selain itu juga sesekali saya mendapatkan pekerjaan untuk beauty photo shoot, tapi biasanya temanya Bollywood. Alhamdulillah, hobi ini memang membawa berkah bagi saya."

Mimpi terbesar Anda di dunia pembawa acara berita?
I love presenting, jadi mimpi terbesar saya saat ini adalah ingin terus memperbanyak jam terbang sebagai pembawa acara berita. Saya dulunya adalah pribadi yang sangat tertutup dan pemalu, tetapi sejak menjadi pembawa acara berita saya belajar banyak hal. Saya harus kenal dengan banyak orang, bisa menyesuaikan diri dengan karakter orang yang berbeda-beda. Dunia pembawa acara ini membuat saya menjadi lebih percaya diri menghadapi orang lain. Saya menjadi orang yang jauh lebih komunikatif. Ini semua berkat pekerjaan saya sekarang. That’s why I love my job.”

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO/ D.I: HADI CAHYONO
PENGARAH GAYA: BUNGBUNG MANGARAJA
TATA RIAS: NITA JS (087883040818)
TATA RAMBUT: MINAR (081289778779)
BUSANA: KATE SPADE 

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, January 2015 Edition
Rubrik: Starlet
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Januari 2015. Rossa
MENGINTIP HUNIAN TROPIS EKLEKTIK MILIK 
ROSSA
DI SELATAN METROPOLITAN

Cukup sulit mencari lokasi rumah penyanyi cantik Rossa. Karena walaupun berada di sekitar daerah Kemang Jakarta Selatan, wilayah yang dikenal sebagai salah satu lokasi pusat berkumpulnya kaum muda di Jakarta, rumah penyanyi kelahiran Sumedang 36 tahun yang lalu ini berada di lokasi yang cukup terpisah dari keramaian di sekitarnya. Kepada Tim HELLO! Indonesia Rossa menceritakan tentang betapa nyaman dan asrinya kediaman miliknya.

TERINSPIRASI SUASANA TROPIS BALI  
Pepohonan rindang dan hijau tampak menyambut tepat di halaman rumah dengan desain modern minimalis milik Rossa ini, rasa asri itu semakin terasa saat memasuki rumahnya. Kolam renang di sisi sebelah kiri rumah juga tampak hijau dengan berbagai jenis pepohonan yang menghiasi taman di sekitarnya. Nuansa arsitektur tropis modern juga tampak menonjol dari dinding kaca yang digunakan di hampir separuh dinding rumah. Belum lagi konsep ruangan tanpa sekat yang menghubungkan antara ruang keluarga, ruang makan, dapur serta mushola juga menambah kesan luas di dalam rumah ini. Sisi alami rumah tampak muncul dari pemilihan perabotan antik yang kental dengan nuansa kayu dan bambu. Sang pemilik rumah menceritakan bahwa kecintaannya terhadap Bali-lah yang membuatnya memutuskan untuk menciptakan satu hunian nyaman dengan konsep tropis yang ia sebut dengan konsep tropical eclectic.

“Rumah ini saya beli sekitar satu tahun yang lalu, kondisinya adalah bangunan yang sudah jadi, dengan konsep minimalis modern. Setelah itu saya membuat penyesuaian di berbagai sisi rumah agar sesuai dengan kemauan saya,” papar Rossa. “Saya akhirnya dibantu oleh seorang kontraktor yang biasa membantu saya mengerjakan proyek rumah saya, beliau bernama Pak Cahyo. Saya juga di bantu oleh seorang designer interior bernama Sarah dari KOTTA Interior Design. Dari awal pengerjaan saya sudah mengatakan bahwa saya ingin menghadirkan suasana Bali di rumah ini. Alasannya adalah pada dasarnya saya sangat menyukai Bali. Nuansa Bali memberi kesan sangat asri karena banyak tanaman yang biasanya menghiasi sekitar rumah dan saya memang sangat ingin tinggal di sana. Namun sayangnya dengan kondisi pekerjaan dan kegiatan sehari-hari, saya tidak memiliki banyak waktu untuk tinggal di Bali. Akhirnya diputuskan untuk membawa suasana Pulau Dewata ke sini,” lanjutnya bersemangat.

“Sebenarnya pemilihan nuansa asri ini juga karena saya ingin setiap orang yang datang berkunjung ke rumah ini merasa nyaman seperti di rumah sendiri. Dan juga saat pulang dari rutinitas sehari-hari, saya akan merasa nyaman untuk segera melepas rasa lelah,” ujarnya lagi sambil tersenyum. Rumah yang menghabiskan waktu setahun untuk merenovasinya ini memiliki luas total bangunan lebih dari 1000 meter persegi dengan total lima ruangan yang terdiri dari satu kamar utama, satu kamar anak, dua kamar tamu dan satu ruang wardrobe ini juga dilengkapi dengan roof top, mushola dan satu ruang kerja pribadi tepat di atas mushola. Hobi Rossa mengoleksi berbagai perabotan sangat berguna saat dia harus segera mengisi kediamannya ini dengan peralatan rumah sehari-hari. Dia mengatakan bahwa banyak koleksi furniture lama yang dia miliki akhirnya dimanfaatkan untuk menghias rumah barunya ini. “Saya memang memiliki kegemaran mengoleksi berbagai macam perabotan rumah, dan perabot di dalam rumah saya ini banyak yang berasal dari koleksi saya. Saya mengombinasikan koleksi furniture lama saya dengan barang-barang baru. Contohnya seperti sofa yang ada di living room, itu sudah saya miliki sejak sekitar lima tahunan yang lalu. Begitu juga dengan hiasan-hiasan dinding bernuansa kayu yang banyak tergantung di dinding rumah, itu saya bawa dari rumah sebelumnya,” ujar penyanyi yang menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Indonesia jurusan Komunikasi ini. 

“Saat saya sudah harus mulai mengisi rumah ini dengan perabotan, saya sedang tergila-gila dengan nuansa tradisional Cina, itu juga yang menyebabkan saya akhirnya membeli beberapa perabotan dengan nuansa tersebut. Mulai dari satu set meja makan antik dari Cina, begitu juga dengan credenza yang saya letakkan di living room, satu meja panjang yang saya gunakan untuk meletakkan foto-foto saya dan putra saya, serta lemari tempat menyimpan trofi penghargaan saya. Keseluruhan perabotan tersebut kental dengan sentuhan nuansa tradisional Cina,” paparnya kepada Tim HELLO! Indonesia.

Dia juga menceritakan bahwa beberapa perabotan yang ada di dalam rumahnya ini berasal dari villa pribadinya di Bali. Sementara sisanya adalah hasil saya mencari dari toko ke toko. “Hampir seluruh furniture di rumah ini saya cari sendiri, hanya ada beberapa item yang disarankan oleh sang interior design. Terdapat furniture lokal maupun impor,” lanjutnya.

Perempuan yang memiliki kegemaran merapikan rumah ini mengaku bahwa dari keseluruhan ruangan yang ada di rumahnya, dia menghabiskan biaya agak besar membeli furniture untuk ruang tamu. “Saya memang menginginkan satu ruang tamu yang bagus, tidak terlihat sembarangan. Maka furniture yang saya beli untuk ruang tamu sedikit berbeda dengan furniture di ruang lainnya. Kebetulan saya adalah penggemar merek furniture Baker, jadi perabot dengan nuansa modern dari merek tersebutlah yang menjadi pilihan saya untuk mengisi ruang tamu. Biaya yang saya keluarkan terhitung cukup tinggi jika dibanding dengan biaya untuk ruangan lain di rumah ini, tetapi saya sangat senang dengan hasilnya,” jelasnya sambil tertawa.

Pemilihan furniture klasik diakui Rossa dilakukan untuk mengimbangi aspek modern yang sudah langsung menempel pada rumah ini. “Dari segi arsitektur bangunan, rumah ini jelas memiliki struktur modern dan minimalis, maka saya mengakali penggunaan perabotan dengan nuansa klasik dan alami untuk mengimbanginya, agar nuansa rumah yang nyaman lebih terasa. Maklum saya ini kan ‘orang rumahan’. Saya kurang suka jalan-jalan kalau sedang tidak ada kegiatan atau pekerjaan. Saya pasti menghabiskan waktu di rumah. Itu sebabnya saya harus membuat rumah saya benar-benar nyaman dan menyenangkan,” ujarnya lagi.

Saat ditanya mengenai ruangan yang menjadi tempat favoritnya di rumahnya ini Rossa mengaku bahwa dia tidak memiliki ruangan khusus yang menjadi tempat favoritnya. “Semua ruangan yang ada di rumah ini selalu saya pakai, jadi ya tidak ada ruang favorit. Tinggal menyesuaikan dengan kegiatannya saja. Biasanya kalau dengan teman-teman dekat saya sering menggunakan ruangan living room di tengah, karena kami sering menghabiskan waktu bersama untuk berbincang sembari makan. Sementara itu, biasanya saya sering menemani anak saya Rizki menonton televisi di ruang keluarga. Kadang juga saya sering berbincang-bincang dengan orang-orang rumah di dapur. Sementara saya sering menghabiskan waktu me-time saya di kamar utama, biasanya sih saya membaca atau menonton drama serial favorit saya,” ujar Rossa lebih lanjut.

KEGEMARAN HUNTING FURNITURE  
Saat wawancara Rossa sempat mengaku bahwa ketertarikan dirinya terhadap interior rumah itu sudah berlangsung sejak zaman kuliah. Dulu jika dirinya merasa bosan dengan kegiatan perkuliahan, Rossa sering meluangkan waktu pergi ke tempat yang memiliki kompleks perumahan dengan desain yang bagus seperti kawasan Pondok Indah. Hal serupa juga terjadi terhadap kegemarannya hunting perabotan rumah. “Saya sangat suka dengan lokasi rumah saya yang sekarang ini. Satu wilayah yang sepanjang jalannya terdapat banyak toko furniture. Karena saya sering mengunjungi toko-toko itu, mereka juga sering menghubungi saya jika sedang ada promosi potongan harga di toko mereka. Mendapatkan potongan harga saat membeli furniture adalah salah satu hal yang membahagiakan bagi saya,” ujar Rossa tergelak.

“Ironisnya, kegemaran saya membeli furniture ini kadang sulit dikelola. Pernah saya akhirnya membangun satu rumah karena saya sudah terlanjur membeli furniture nya. Saya membeli furniture tetapi karena belum tahu mau diletakkan di mana akhirnya saya titip sementara di gudang toko. Jadi saya memilih untuk membayar biaya pemakaian gudangnya,” lanjut Rossa terbahak-bahak.

“Ya mau bagaimana lagi, mengingat mendandani rumah itu memang kegemaran saya. Saya pribadi malah masih menyimpan keinginan untuk sekolah di jurusan interior design secara formal,” tandasnya. Perempuan cantik yang makin melejit kariernya lewat tembang Tegar ini juga mengatakan bahwa dia lebih menyukai furniture yang sudah jadi, kebanyakan produk perabotan di rumahnya adalah produk jadi. “Saya suka perabotan produk jadi, tetapi ada beberapa produk yang saya buat secara khusus seperti hiasan ukir kayu di kaca dan tembok rumah. Tempat tidur utama juga saya pesan khusus dan credenza yang ada di ruang keluarga itu saya pesan juga karena rata-rata ukuran credenza yang sudah jadi tidak ada yang sepanjang itu,” jelasnya.

“Bagi saya konsep sebuah rumah itu lebih kepada fungsinya, yaitu untuk tempat tinggal. Saya juga sesungguhnya masih menyimpan keinginan untuk memiliki satu rumah yang interiornya seperti sebuah galeri, tapi kembali lagi kepada konsep fungsi sebuah rumah, saya takutnya nanti malah tidak nyaman untuk ditinggali. Rumah bagi saya harus bisa menjadi satu tempat yang sangat nyaman untuk saya beristirahat, bercengkrama dengan anak, bertemu keluarga dan juga teman-teman saya,” lanjutnya lagi.

FOKUS BERBISNIS  

Saat ini Rossa sedang disibukkan dengan kegiatannya mempromosikan lagu kedua dari album Love Life and Music bersama dengan Afgan berjudul Kamu Yang Kutunggu. Selain itu Rossa juga sibuk menjalankan kariernya di dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia. “Sekarang ini saya sedang cukup sering bolak-balik ke Malaysia. Saya sedang banyak pekerjaan di sana, mulai dari konser, gala dinner, acara pernikahan dan juga acara kenegaraan. “Sementara itu mungkin saya akan kembali menjadi juri di acara X-Factor lagi, dan juga ada rencana untuk menggelar konser tunggal di Kuala Lumpur” ujar Rossa.

“Selain itu saya juga sedang mengerjakan satu kegiatan sosial bersama teman-teman untuk mendekorasi interior ruangan bangsal anak dan ibu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ruangan ini biasanya merawat anak-anak yang menderita penyakit Thalasemia, sayangnya saat ini kondisi ruangan masih jauh dari kata layak. Nah, saya dan teman-teman sedang mengumpulkan dana untuk mengisi peralatan di dalamnya, mulai dari tempat tidur, alat rontgen dan kebutuhan lainnya,” lanjutnya. Berbicara mengenai mimpi dalam hidup, Rossa mengatakan bahwa sudah tidak memiliki impian tertentu yang ingin diraihnya. “Saya tidak pernah punya target yang terlalu spesifik. Saya membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Bukan berarti saya tidak bekerja keras, tetapi alhamdulillah hoki saya memang ada dalam pekerjaan saya sekarang ini. Kalau boleh jujur, dulu saya tidak pernah menyangka akan seperti sekarang ini,” tutur Rossa lebih lanjut kepada Tim HELLO! Indonesia.

Sukses dengan album Love Life and Music yang juga mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil menembus penjualan album 100.000 kopi dalam waktu sehari, Rossa juga masih memfokuskan diri dengan berbagai bisnis yang dia lakukan. Mulai dari bisnis jual beli rumah dan juga DIVA Karaoke yang sudah memiliki 46 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Saya pastinya akan terus disibukkan oleh pekerjaan dan juga bisnis saya. Untuk tahun 2015 saya berencana untuk menambah bisnis saya dengan mengeluarkan line clothing Rossa for Paloma, satu koleksi pakaian ready to wear. Alhamdulillah sejauh ini bisnis saya lancar, saya menyadari bahwa sepertinya Allah memberikan jalan saya untuk bekerja keras jika ingin mendapatkan hasil. Untungnya semua kerja keras itu saya lakukan di bidang yang memang saya sukai dan juga menyenangkan,” ujar Rossa menutup percakapan sore itu.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO/ D.I: HARY SUBASTIAN
PENGARAH GAYA: LISTYA DIAH
TATA RIAS: NITA JS (087883040818)
TATA RAMBUT: MINAR (081289778779)
BUSANA: BILLY TJONG, LOTUZ BY YOSEP  SINUDARSONO FOR FASHION FIRST,  NOOM NO’OMI FOR FASHION FIRST

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, January 2015 Edition
Rubrik: Home Sweet Home