Article on HELLO! Indonesia, Edisi Mei 2015. Dwi Sasono & Widi Mulia
SUAKA JIWA
DWI SASONO & WIDI MULIA
BERKONSEP MODERN GREEN LIVING 
Bagi pasangan ini rumah adalah bagian dari jiwa, tempat di mana mereka bisa menciptakan kebahagiaan bersama keluarga dan juga menjadi diri sendiri.

Dwi Sasono & Widi Mulia bersama dengan ketiga buah hatinya

Bangunan kediaman bercat putih dengan langit-langit tinggi dan halaman yang rimbun menghijau menyambut HELLO! Indonesia. Kehangatan sebuah keluarga juga sangat terasa ketika pertama kali kaki melangkah masuk ke dalam rumah milik pasangan Dwi Sasono dan Widi Mulia. Dengan tema utama eklektik industrial mereka pun mencoba memadankan konsep modern dan green living dalam hunian mereka.

“RUMAH ADALAH KAMI”
Ruang depan rumah Dwi dan Widi yang didominasi dengan warna putih
Proses pengerjaan rumah seluas 330 meter persegi yang berdiri di atas tanah seluas 700 meter persegi ini diakui oleh sang pemilik sempat terlantar dalam kurun waktu yang terbilang lama. “Sekitar dua tahun pembangunan rumah ini benar-benar terhenti. Sampai terus terpikirkan oleh saya kira-kira kapan pembangunan rumah ini selesai,” tutur personel B3, Widi Mulia membuka perbincangannya dengan HELLO! Indonesia sore itu.

“Untungnya rumah ini rampung juga setelah tiga setengah tahun kami menunggu,” ujarnya lagi. “Ada uang, pembangunan berjalan, kalau sedang tidak ada uang ya pembangunan dihentikan dulu untuk sementara. Pernah juga rumah ini dibongkar tanpa menyisakan atap sama sekali,” sambung sang suami Dwi Sasono sambil tertawa. Unsur metal dan kayu sangat kental dalam rumah ini, bahkan tiang baja yang biasanya digunakan dalam membangun pabrik tampak menyangga kokoh di dinding tengah rumah. “Ada kisah tersendiri di balik tiang baja ini.

Saya sempat ditegur oleh tetangga sekitar, mengingat total panjang baja ini sekitar 12 meter dan dibawa oleh truk kontainer. Nah, truk tersebut sulit masuk ke dalam pekarangan, akhirnya dari depan gang menuju ke rumah saya, tiang itu diangkat menggunakan gerobak dan saat menurunkannya cukup menghebohkan karena sontak berbunyi ‘klontang’!,” kenang Dwi sambil tergelak. “Walaupun sempat terbersit dalam benak bahwa penggunaan tiang baja ini terkesan berlebihan, namun tiang baja ini akhirnya menjadi karakter dalam rumah ini. Dan apabila rumah ini hendak ditinggikan menjadi empat lantai, maka pondasinya sudah siap,” lanjutnya lagi.

Berbincang mengenai tema rumah, pasangan ini mengaku bahwa mereka mengadaptasi gaya eklektik industrial dengan sentuhan benda-benda berkonsep raw design di sekelilingnya. “Tema itu sebenarnya belum lama saya temukan, tapi dari awal membangun rumah tidak pernah terpikirkan untuk membangunnya dengan konsep khusus. Rumah ini mencerminkan gaya kami,” ungkap Widi.

Sentuhan kayu dominan diberikan pada pemilihan perabotan
“Yang pasti tidak bisa ditawar-tawar lagi saat itu adalah saya ingin rumah ini memiliki banyak jendela besar dan juga atap yang tinggi!” tegasnya. “Saat membeli rumah ini saya yakin bahwa kondisi bangunan rumah ini memungkinkan untuk dibuat sesuai dengan konsep tersebut. Setelah itu, kami mulai mencoba mengingat tempat-tempat yang pernah kami kunjungi seperti restoran, kafe, dan juga berselancar di internet. Ternyata kami itu selalu cocok dengan gaya yang industrial dengan raw design. Bukan dengan sesuatu yang terlihat fancy,” tutur Widi lagi. “I have nothing againts fancy things, hanya ternyata yang kami suka justru lokasi-lokasi yang terlihat belum selesai, dengan sentuhan yang masih mentah dan terkesan unfinished. Akhirnya kami kumpulkan dan setuju untuk membuat rumah dengan konsep tersebut,” lanjut perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1979 tersebut. Sempat dikagetkan oleh angka yang ditawarkan oleh beberapa kontraktor di awal pembangunan hunian ini, keduanya memutuskan untuk membangun sendiri tanpa bantuan arsitek. “Selain itu, rumah ini kami bangun tanpa gambar. Kami malah sempat berganti kontraktor hingga tiga kali. Kontraktor pertama..yah itu cerita lama. Lalu kontraktor kedua bukannya menyelesaikan proyek, melainkan menyisakan baja-baja raksasa. Akhirnya kami bertemu dengan kontraktor ketiga yang cukup cerdik menjadikan baja ini sebagai karakter terkuat dalam rumah. Kami pun lalu ‘menjahit’ rumah ini bersama-sama,” tutur lelaki kelahiran Surabaya ini.

“Toh pada dasarnya kami menginginkan rumah yang tidak rumit, yaitu hanya satu ruangan utama tanpa sekat dengan atap tinggi, karena kami tidak ingin menggunakan pendingin ruangan. Ukuran kamar tidur juga biasa saja asalkan fungsional. Saya hanya ingin jendela-jendela besar tersebar di sekeliling rumah,” kata Widi menambahkan. Dwi Sasono menceritakan juga bahwa saat ia membangun rumah ini ia juga di bantu oleh sahabatnya, Dendy, salah satu founder distro merk UNKL347 dan Larch Studio di Bandung. Larch dipercaya pasangan ini untuk mengerjakan lansekap taman, green wall serta beberapa mural yang tampak cantik menghiasi dinding dalam rumah.

Halaman belakang yang juga dihiasi dengan taman gantung
ADAPTASI KONSEP GREEN LIVING
Suasana rumah pasangan Dwi dan Widi semakin terasa asri berkat sebuah kolam renang berukuran sedang serta paviliun yang terpisah dari rumah utama. Sebuah hammock bahkan menggantung di pohon kelapa yang ditanam di halaman belakang rumah. Sekejap semua itu mengingatkan kami pada suasana Pulau Dewata. “Ubud dan Yogyakarta adalah lokasi liburan favorit keluarga kami. Jadi kami memang sempat bercita-cita ingin membangun rumah dengan suasana halaman yang memiliki kemiripan dengan suasana di sana,” tutur Dwi saat ditanya mengenai konsep halaman belakang rumah mereka.

Selain unsur kayu dan metal, tanaman hijau jelas menjadi bagian dominan di hunian ini. Widi menjelaskan bahwa dirinya mencoba mengadaptasi konsep green living ke dalam rumah. Selain tren rumah hijau, Widi meyakini bahwa keberadaan tanaman hijau di dalam satu hunian pasti akan memegang peranan dan memberikan manfaat yang sangat penting. “Saya rasa ini waktu yang tepat bagi saya untuk memulai hubungan yang baik dengan tanaman. Di sekolah anak-anak juga ada pelajaran menanam. Sebelumnya, Mas Dwi sangat menyukai kegiatan bercocok tanam karena sudah diajarkan oleh bapaknya sejak dulu. Jadi, saat saya berkata ingin memiliki taman, dan membawa taman ke dalam rumah, dia sangat senang,” lanjut perempuan yang telah menjadi ibu dari dua orang putra dan seorang putri.

Ruang santai di bagian belakang rumah
Rumah ini didesain secara ramah lingkungan. Di halaman belakang, pasangan ini membangun satu kebun hidroponik yang hasilnya bisa dikonsumsi keluarga. Belum lagi green wall yang terlihat cantik menghiasi ruang baca dan ruang makan. “Green wall cantik ini harus selalu saya jaga, sekitar dua hari sekali saya harus mengeluarkan tanamannya. Karena mereka juga butuh cahaya matahari. Ya memang untuk sebagian orang pasti terlihat sangat merepotkan, tetapi saya menyukai kegiatan ini,” papar Widi. “Konsep rumah hijau ini merupakan bagian dari cita-cita kami. Rumah pertama kami itu terkesan biasa, tetapi kerap dikunjungi banyak orang. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membangun satu rumah yang dapat menjadi contoh gaya hidup yang lebih baik bagi semua yang berkunjung. Kebetulan, I’m so into ecoliving, sehingga terciptalah rumah dengan konsep green living ini,” ungkapnya bersemangat. “Pokoknya kami bikin sesuatu di rumah kami yang layak diunggah di media sosial,” kata Dwi sambil berkelakar.

MEMANFAATKAN BARANG LAMA
Arti dari green living tidak hanya bersahabat dengan tanaman, tetapi juga bersahabat dengan bumi, yaitu menghargai sesuatu yang telah bumi berikan dalam kehidupan. Hal itulah yang membuat lelaki yang sedang bermain dalam sinetron komedi berjudul Tetangga Masa Gitu ini senang dengan kebiasaan yang dimiliki oleh sang istri. “Widi itu tipe orang yang bisa memanfaatkan kembali barang-barang lama,” tuturnya yang disambut senyum manis sang istri. “Banyak perabot dalam rumah ini yang diberikan sentuhan personal olehnya. Dia bahkan pergi sendiri ke Pasar Cipadu untuk mencari bahan yang akhirnya dia jadikan gorden dan juga sarung-sarung sofa. Bahkan ada satu bangku yang tadinya berwarna cokelat kemudian dicat ulang olehnya menjadi warna kuning,” ungkap Dwi lebih lanjut.

“Ya, untungnya saya bertemu dengan Mas Dwi yang perilakunya tidak jauh berbeda dari saya. Mas Dwi sudah menabung kayu sejak lama dan dia mampu membayangkan kayu-kayu tersebut hendak dibuat menjadi apa. Dia bahkan membuat kreasi sebuah lampu gantung dari roda bajak bekas,” sela Widi. “Jadi dia bilang kalau saya punya chandelier kristal, dia juga punya chandelier roda bajak,” lanjutnya sembari tertawa. “Kami mempergunakan kembali perabot lama yang difungsikan menjadi sesuatu yang baru. Kami harus bertanggung jawab atas barang-barang lama kami,” tegasnya.

Dwi Sasono & Widi Mulia berpose di depan mural keluarganya
RUMAH DENGAN FENG SHUI YANG BAIK
Di antara dominasi warna putih di sekeliling rumah ternyata rumah ini juga memiliki pintu berwarna ungu tua dan pegangan pintu unik berbentuk dua belah tangan. “Dendy yang memberikan pegangan pintu yang dibelinya saat dia traveling. Dia membeli dua pasang pegangan pintu dan satu pasang ditawarkan kepada saya,” tutur Dwi. “Bagi saya filosofi pegangan pintu ini sangat positif, tangannya seperti orang berdoa, dan juga seperti mempersilakan orang masuk ke rumah, bukan mengusir. Kebanyakan pegangan pintu berbentuk tangan itu berbentuknya telapak tangan ke arah luar, seperti mengusir, ” ungkapnya lagi. Sementara pintu berwarna ungu diakui Widi menjadi pilihan ketiga mereka setelah dua pintu sebelumnya yang berwarna merah dan jingga. “Saya adalah pecinta warna ungu. Saya pernah membaca feng shui dari pintu ungu ternyata bagus, terlebih lagi bagi pintu rumah ini yang menghadap ke selatan,” ujar Widi menjelaskan.

“Kebetulan dari awal, feng shui rumah ini sudah bagus. Kami hanya mengembangkannya,” jelas Dwi yang meyakini bahwa rumah adalah tempat untuk memberikan energi cinta dan kasih, bukan hanya sekadar tempat untuk tidur. Sudut menarik dari rumah ini terlihat dari lukisan mural yang menghiasi beberapa dinding rumah. Salah satunya adalah lukisan mural yang sepertinya sengaja dibuat untuk menggantikan peran foto keluarga. “Saya ingin rumah saya berbeda dengan rumah-rumah kebanyakan.Lagipula saat itu saya sedang mengandung dan rasanya tidak akan ada waktu untuk melakukan foto keluarga. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat mural di dinding rumah yang menggambarkan keluarga kami,” ungkap Widi yang menganggap rumah itu sebagai tempat para anggota keluarga menjadi diri sendiri. “Ya betul, akhirnya kami mencari referensi bersama, lalu muncul dengan konsep gambar yang bisa melukiskan kami, satu keluarga asal Indonesia yang berpikir secara global tanpa meninggalkan nilai tradisi yang ada,” tutur Dwi menambahkan. “Modern tetapi tetap berbudaya. Memiliki masa depan yang cerah tetapi selalu up-to-date. Budaya itu adalah hal yang akan kami bawa sampai kapan pun. Gambar balon udara dalam mural itu sebenarnya adalah penggambaran cita-cita kami yang setinggi langit,” papar Widi sambil menutup percakapan seru kami sore itu.

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: INSAN OBI
PENGARAH GAYA: LISTYA DYAH
TATA RIAS: NITA JS (087883040818)
BUSANA DWI SASONO: T.M. LEWIN
BUSANA WIDI MULIA: COAST & TOMODACHI

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, May 2015 Edition
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Juni 2015 . RoCA (Restaurant of Contemporary Art)
SENSASI RAGAM PADUAN RASA 

Jakarta memang layak menyandang gelar surga kuliner dunia mengingat beragam makanan dari seluruh penjuru dunia bisa ditemukan di kota ini. Tidak hanya itu, Jakarta juga menghadirkan berbagai restoran yang menawarkan menu dengan konsep perpaduan makanan antar bangsa, atau lebih tenar dengan nama fusion cuisine, seperti yang ditawarkan RoCA.

Menghadirkan variasi menu makanan fusion Nusantara dan mancanegara, Restaurant of Contemporary Art (RoCA) yang terletak di lantai dasar Hotel Artotel Jakarta bisa memperkaya pilihan para penikmat kuliner ibu kota.

Restoran yang dibuka sejak bulan Oktober tahun 2013 silam ini dikepalai oleh Chef Faisal Irfan, chef asli Indonesia kelahiran 26 Desember 1975. Sempat menjelajahi dunia f & b Tanah Air dan juga mancanegara, chef lulusan jurusan tata boga SMKN 3 Bogor ini mengaku memiliki ketertarikan tersendiri terhadap menu makanan fussion. Setahun belakangan ini ia terus mengembangkan masakan khas Asia termasuk Indonesia dan memadukannya dengan masakan Eropa. Salah satunya menu Nasi Goreng Kemangi yang terinspirasi oleh basil pesto khas Italia. “Kalau pesto Italia menggunakan daun basil, saya menggunakan daun kemangi yang memiliki keharuman khas. Proses pembuatannya sama persis dengan pembuatan basil pesto, tetapi rasa dan aroma yang dihasilkan dari pesto kemangi ini sungguh berbeda,” jelas Chef Faisal bersemangat.

Para penggemar rasa segar bisa mencoba menu Asian Salad yang memiliki perpaduan rasa manis, asam dan pedas. “Saus yang dipakai dalam menu ini adalah hasil kreasi saya sendiri yang saya sebut Asian Sauce, bukan memakai saus Thailand yang banyak dijual di pasaran,” tuturnya sambil tersenyum. Sementara menu pasta yang terkenal sebagai makanan khas Italia pun tidak luput dari kreasi chef yang satu ini. Menu Soft Shell Crab Garlic Noodle dibuat dengan memadukan bumbu-bumbu khas Asia seperti minyak wijen dan bawang putih serta bumbu khas Italia seperti olive oil dan mentega. Kelezatan kepiting cangkang lunak yang digoreng kering juga memberikan sensasi rasa tersendiri saat menyantap menu pasta yang satu ini.

Nasi Goreng Kemangi
Bahan:
250 gram nasih putih, 50 gram pesto kemangi, 30 gram teri medan, 2 butir telur ayam, kocok lepas, 20 gram bawang putih, dicincang, 50 gram tomat, 20 gram cabai rawit merah, 5 ml kaldu ayam, 20 ml minyak sayur, 2 gram garam, 1 gram lada putih
Bahan Pelengkap:
50 gram bawang merah goreng, 30 gram kol, 30 gram acar, 30 gram kerupuk, 2 buah tempe goreng tepung, 1 sdm sambal terasi
Bahan Pesto Kemangi:
1 kg daun kemangi, 50 gram kacang mede, 50 gram bawang putih, 30 gram keju parmesan, 5 gram garam, 2 gram lada hitam, 300 ml virgin olive oil, 700 ml air.
Cara membuat: 
  1. Panaskan minyak sayur di wajan, masukkan telur, aduk-aduk lalu goreng hingga matang. 
  2. Setelah telur matang, masukkan bawang putih cincang, tumis kembali hingga harum.
  3. Masukkan nasi putih dan pesto kemangi, aduk hingga rata.
  4. Setelah rata, tambahkan ikan teri, cabai rawit merah, kaldu ayam, garam dan lada. Aduk terus hingga nasi agak mengering. 
  5. Sajikan dengan taburan bawang merah goreng, acar, kol, kerupuk, tempe goreng tepung dan sambal terasi. 
Cara membuat Pesto Kemangi: 
  1. Didihkan air di dalam panci.
  2. Setelah air mendidih masukkan daun kemangi selama satu menit lalu tiriskan.
  3. Giling halus daun kemangi yang telah direbus bersama kacang mede, bawang putih, keju parmesan, garam, lada hitam dan virgin olive oil.


Soft Shell Crab Garlic Noodle
Bahan:
80 gram spaghetti, 20 gram kepiting kalengan, 120 gram kepiting cangkang lunak goreng tepung, 30 gram yonsoi, 20 gram bawang putih, 20 gram minyak sayur, 5 gram biji wijen, 10 gram daun bawang, 5 ml kaldu ayam, 2 gram garam, 1 gram lada putih
Bahan Yonsoi: 
100 ml Soy Sauce Kikoman, 100 ml Oyster Sauce Kikoman, 50 ml minyak wijen, 50 gram gula aren

Cara membuat:
  1. Panaskan minyak sayur di dalam wajan, lalu tumis bawang putih hingga harum dan berwarna kecokelatan.
  2. Masukkan irisan daun bawang, daging kepiting kalengan, dan yonsoi lalu tumis kembali hingga semua tercampur.
  3. Tambahkan spaghetti yang telah direbus, aduk hingga rata.
  4. Sajikan dengan kepiting cangkang lunak goreng tepung. 
Cara membuat yonsoi: 
  1. Campur semua bahan menjadi satu dalam wadah.

Hospital Hater
Bahan:
30 ml jeruk nipis segar, 200 gram nanas, 50 gram brokoli, 100 ml air, 100 gram es batu
Cara membuat:

Masukkan semua bahan ke dalam blender lalu giling hingga halus. 2. Tuang ke dalam gelas, lalu sajikan dingin.


TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: VANESSA BERNADETTE (0812114169440)
LOKASI: ROCA, ARTOTEL JAKARTA, LANTAI DASAR, JL. SUNDA NO. 3, MENTENG JAKARTA PUSAT.
TELEFON: 021-31925888 WWW.ARTOTELINDONESIA.COM


Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, June 2015 Edition


Twelve Cups Cafe, Twelve My Day

Inside the cafe
 
It was a lousy night, and I have nothing to do. Me, my sister and my sister's friend, we just try to killed our time in Penang. Some said that Penang is a food paradise, too bad it was a bit hard for me to find halal food here, so I just jump from one coffee shop to another and its such a bless that we arrived in Twelve Cups Cafe that night. Well, actually I already saw this coffee shops like three times, before I finally went inside. First thing came into my mind was "Oh My God this is so CUTE!" then I decided that we will spending our night here in this cafe. Another caffeine fix in my journey.

For a regular coffee shop, this place is quite big. Black and yellow are the main colors in there. They decorated the place very well, it was neat and cute with a bit touch of industrial look. They hanging some paintings and also some artistic wall decorations around the room. A big rickshaw in the left wall, written GOOD is main decoration in the cafe. The chairs look so comfy, and yes it was. If I live here, it's possible that this place will be the place where I spend my day. I can do my "me time" here I believe.

As soon as I reached to the cashier area, I asked what best thing they have in here. She said, that they are good for mille crepes. Then  I asked, what is the best mille crepes flavor here, she said Hokkaido Chocolate is the most popular one. Then, I ordered it. A cup of Cafe Latte along with one piece Hokkaido mille crepes. While my sister order their Tiramissu mille crepes, and her friend order same Cafe latte and Matcha mille crepes.

The latte, compare to other latte I had here, this one definitely the best latte I got in Penang. The bitter taste of espresso blend so well with steamed milk, it's a decent one. Plus it served in a red coffee cup and saucer. Very Nice. Cafe latte will be a good choice if you spend your night here.

For the mille crepes, Hokkaido is really the best one, no wonder this menu is all time favorite mille crepes in Twelve Cups. I'm not a sweet tooth person, but this mille crepes met my taste. It was sweet but I can feel a dash of pleasant savory taste on it, so I think that is the taste that make this mille crepes perfect for me. I tried the Tiramissu and Matcha mille crepes, they were also amazing.

The price, well it's fair for me. You can get a pice of mille crepes for 10.50 RM while a cup of latte is for 9.90 RM. This fine right. Will come back here again if I do another trip to Penang.

Cheers... (^_^)

THE TWELVE CUPS
Inside the cafe

Inside the cafe
Cashier area




Coffee, tea or me

Cute plate decorations

Hokkaido Chocolate Mille Crepes

Tiramissu Mille Crepes

Matcha Mille Crepes

Cafe Latte


Twelve Cups
12, The WhiteAways Arcade, Beach Street, 10300 George Town, Penang 
Contact : 04-262 6812 
Email : info@thetwelvecups.co
Operating hours: 10am-12am daily 
Instagram: thetwelvecups
Article on HELLO! Indonesia, Edisi Mei 2015. Rendy Pandugo
MEMUTUSKAN UNTUK BERKARIER SOLO
RENDY PANDUGO
TERUS BANGUN IMPIAN BERMUSIKNYA 
Lelaki kelahiran Medan 7 Mei 1985 ini mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan instrumen musik gitar sejak usia muda. Ia mulai mempelajari alat musik ini sejak duduk di bangku sekolah lanjutan. Karier bermusiknya di Tanah Air dimulai pada tahun 2010, saat ia bergabung dalam duo band Di-Da. Empat tahun kemudian, Rendy Pandugo pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan musiknya seorang diri. Kepada HELLO! Indonesia, Rendy menuturkan tentang keputusannya berkarier solo dan impian yang ia terus bangun dalam kariernya tersebut. 

Apa yang membuat Anda memutuskan untuk ‘jalan sendiri’ dalam bermusik? 
“Karena tenyata saya lebih suka mengerjakan proses kreatifnya sendiri, sehingga saya bisa mengembangkan ide tanpa perlu memikirkan apa yang ada di kepala orang lain. Walaupun dalam proses merealisasikannya pasti dibantu oleh orang lain, semuanya termasuk konsep ada dalam kendali saya. Agak sedikit egois dan idealis, tetapi itulah kondisi yang nyaman bagi saya sekarang.” 

Kapan Anda memulai karier bermusik Anda secara profesional? 
“Tahun 2010. Waktu itu saya bergabung dengan duo band Di-Da. Sempat merilis album juga pada tahun 2011 berjudul Duography.” Ada cerita menarik dalam perjalanan karier musik Anda? “Saat mengeluarkan album bersama Di-Da, saya kira semuanya akan berjalan lancar, tetapi kenyataannya justru berbeda. Situasi musik Indonesia sedang tidak bersahabat untuk genre yang saya dan Iddo bawakan. Kami sudah mencoba segala cara untuk band kami namun tidak berhasil, kami bahkan tidak mendapatkan panggung sama sekali. Saya sempat putus asa, tetapi untungnya saat itu juga saya membuat akun di Soundcloud, saya mengunggah musik saya di situ dan jujur itu yang menyelamatkan hidup saya. Saya masih bisa terus berkarya di situ.” 

Bagaimana rasanya menyandang gelar sebagai artis Soundcloud? 
“Walaupun follower saya lumayan banyak di Soundcloud, saya merasa sedikit aneh menyandang gelar ini...hahaha....” Mengenai julukan Anda sebagai “John Mayer” Indonesia? “Awalnya saya bersikap santai saja menanggapi julukan itu. Tetapi belakangan ini saya mulai terganggu. Karena semua hal yang dilakukan entah kenapa pasti akan dibandingkan dengan John Mayer. Tidak saya pungkiri bahwa saya memang sangat terinspirasi oleh dirinya. Saya bisa membawakan lagunya, persis seperti yang dia mainkan. Awalnya, saya adalah gitaris, bukan vokalis dan baru bernyanyi pada tahun 2011. Jadi sosok John Mayer yang mengajarkan konsep penyanyi yang bermain gitar dengan sangat baik.” 

Impian di dunia musik dan rencana album solo? 
“Mimpi saya tidak terlalu muluk. Mungkin terdengar sedikit klise, namun saya sangat ingin musik saya bisa didengar oleh banyak orang dan yang mendengarkannya akan menyukai karya saya tersebut. Karena buat saya, sukses itu sebenarnya adalah saat Anda bisa menginspirasi banyak orang, dalam bentuk apa pun. Saya juga pastikan tahun ini saya akan mengeluarkan album.”

Apa definisi seorang Rendy Pandugo? 
“Rendy...Rendy itu seorang yang kepikiran dan pemalu. Terkadang ketika saya bermaksud bercanda dengan orang lain, tiba-tiba saya merasa takut membuat orang tersebut tersinggung. Saya termasuk tipe yang pemalu karena sejak belajar musik, saya tidak dibentuk sebagai front man, saya hanya fokus pada permainan musik saya. Kini, saya harus menjadi seorang front man, semua perkataan saya diperhatikan oleh orang lain.”

Harapan Anda terhadap musik Indonesia? 
“Semoga di masa mendatang masyarakat Indonesia tidak lagi mengotak-kotakkan musik. Karena pada dasarnya makna dari musik itu sama. Terlebih lagi, musik itu adalah bahasa yang universal.”

TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: VANESSA BERNADETTE (082114169440)
PENGARAH GAYA: LISTYA DYAH
BUSANA: FRED PERRY
LOKASI: COMMON GROUNDS

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, May 2015 Edition
Rubrik: Starlet
Article on HELLO! Indonesia, Edisi April 2015. Restoran SIGNATURES
KULINER EKSOTIK DARI BUMI PERTIWI
Tema sejarah perjuangan bangsa secara kental menyelimuti restoran yang satu ini. Foto presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang terpampang dalam bingkai berukuran sangat besar pun menjadi salah satu elemen interior restoran yang terkenal menu bubur ayamnya tersebut. Kali ini Signatures Restaurant, Hotel Indonesia Kempinski menawarkan sajian eksotik sajian asli Nusantara.


Memiliki hobi membantu sang ayah sejak kecil adalah titik awal bagi chef asal Jawa Tengah ini mulai membangun mimpinya untuk terjun serius dalam dunia kuliner. Lepas masa sekolah lanjutan atas, Chef Prasetyo Widodo pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) NHI Bandung jurusan Perhotelan. Kariernya di dunia F&B dimulai saat ia mengikuti apprenticeship program di Grand Hyatt, Jakarta. Malang melintang selama 23 tahun di dunia masak-memasak ternyata membawanya untuk tetap mencintai masakan negeri, kali ini ia menyajikan tiga makanan dari tiga daerah di Indonesia, yaitu Bali, Manado dan Jawa Tengah.
“Masakan Indonesia itu sekarang sudah memiliki penggemarnya sendiri, tidak hanya orang-orang pribumi tapi banyak orang asing yang juga mulai melirik masakan khas Indonesia,” ujar chef yang pernah berjualan sup buntut dan sate di benua Eropa ini.
“Restoran Signatures ini memang bukan restoran yang menyajikan masakan khas Indonesia saja. Kami juga menyajikan masakan dari Cina, Jepang, India dan juga (masakan) Barat. Tetapi saya ingin sekali bisa makin menonjolkan unsur masakan Indonesia dibanding masakan lainnya,” lanjutnya.
“Itu juga alasan mengapa saya memilihkan tiga menu masakan khas Indonesia dari tiga daerah yang berbeda kali ini. Mengingat masakan Indonesia itu tergolong unik, setiap daerah memiliki ciri khas rasa yang berbeda-beda. Seperti masakan Ayam Woku yang pedas dari Manado, Sate Lilit yang gurih dari Bali dan juga Asem-asem Daging yang segar dari Jawa Tengah,” ujarnya bersemangat.
“Restoran ini merupakan bagian dari bangunan bersejarah bagi bangsa ini, saya ingin masakan saya juga bisa menjadi bagian dari kenangan akan sejarah itu. Kenangan akan sesuatu bisa dirasakan oleh semua indera yang kita miliki, jadi saya ingin kenangan rasa di lidah bisa memberikan kebahagiaan tersendiri bagi orang- orang yang datang ke Signatures Restaurant,” tuturnya menambahkan.
 
AYAM WOKU 
Bahan:
250 gram ayam, 10 ml air jeruk nipis, 50 gram serai, 50 gram tomat, 20 gram daun jeruk limau, 50 gram daun bawang, 100 gram cabai merah, 100 gram daun kemanggi, 10 gram gula pasir, garam secukupnya.
Bumbu yang dihaluskan:
150 gram bawang merah, 100 gram bawang putih, 150 gram cabai merah, 50 gram cabai rawit, 50 gram jahe, 50 gram serai, 10 gram kunyit.
Bahan pelengkap:
Nasi putih, bawang merah goreng, emping melinjo, daun kemangi, irisan cabai merah.
Cara membuat:
1. Rendam ayam dalam air jeruk nipis dengan garam selama 15 menit, sisihkan. 
2. Iris tomat, daun bawang, cabai merah, dan serai. 3. Panaskan minyak dalam wajan, masukkan bumbu halus, lalu tumis hingga harum. 4. Setelah bumbu mengharum, masukkan ayam, bumbu yang telah diiris, daun kemangi, serai dan gula. 5. Masak hingga air berkurang dan ayam matang. 6. Angkat lalu sajikan bersama dengan nasi putih hangat, bawang merah goreng, emping melinjo, dan kemangi serta irisan cabai merah.
SATE LILIT 
Bahan:
250 gram ikan tenggiri, 150 gram udang, 2 gram gula merah, 5 gram daun jeruk limau, 100 gram kelapa parut, garam dan lada secukupnya.
Bumbu halus:
50 gram bawang merah, 30 gram bawang putih, 20 gram kunyit, 25 gram kemiri, 10 gram terasi, 5 gram gula merah, 15 gram cabai merah, 2 gram daun jeruk limau, 50 gram serai, 30 ml minyak kelapa.
Bahan pelengkap:
Urap sayuran, sambal matah, acar, bawang merah goreng.
 
Cara membuat:
1. Panaskan minyak kelapa di dalam wajan, lalu tumis bumbu halus hingga matang dan harum. Sisihkan. 
2. Campur bumbu halus dengan daging ikan tenggiri, udang, kelapa parut, irisan daun jeruk limau, dan tambahkan garam dan lada secukupnya.
3. Lilitkan daging ikan dan udang di sekeliling batang serai. Lalu panggang hingga matang.
4. Sajikan dengan urap sayuran, sambal matah, acar, dan bawang merah goreng.
ASEM-ASEM DAGING 
Bahan:
300 gram daging sengkel sapi, 50 gram bawang merah, 30 gram bawang putih, 20 gram serai, 100 gram belimbing wuluh, 50 gram gula merah, 100 gram tomat, 50 gram cabai merah, 50 gram cabai hijau, 100 ml kecap manis, garam dan lada secukupnya.
Bahan pelengkap:
Nasi putih, bawang goreng merah, sambal cabai hijau, irisan jeruk nipis.
 
Cara membuat:
1. Rebus daging sapi hingga empuk, sisihkan.
2. Tumis bawang putih, bawang merah, serai hingga harum lalu masukkan ke dalam panci berisi daging dan kaldu sapi dari rebusan daging sapi.
3. Masak hingga kaldu mendidih, lalu masukkan cabai merah, cabai hijau, belimbing wuluh, gula merah dan tomat.
4. Tambahkan kecap manis. garam dan lada. Masak hingga matang.
5. Sajikan dengan nasi putih dan sambal hijau.

GINGER LEMONADE 
Bahan:
4 buah jeruk lemon, 3 sdm gula pasir, 100 gram jahe segar di parut, es batu, air mineral.
 
Cara membuat:
1. Peras air jeruk lemon, lalu campurkan dengan parutan jahe, kocok, kemudian saring.
2. Masukkan es batu ke dalam gelas, tuang air lemon dan air mineral.
3. Beri hiasan ceri merah dan irisan lemon.




 
TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: MULIA SEPTIARNI
LOKASI: SIGNATURES RESTAURANT, JL. MH THAMRIN NO 1. LOBBY LEVEL, HOTEL INDONESIA KEMPINSKI, JAKARTA PUSAT 10310.


Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, April 2015 Edition
Rubrik: Resep
Article on HELLO! Indonesia, Edisi April 2015. Elvara & Jay Subyakto
RUMAH CAHAYA
ELVARA & JAY SUBYAKTO
BAGIAN SEJARAH HIDUP MEREKA BERDUA


Menyambangi rumah perancang busana Elvara serta sang suami yang merupakan salah satu seniman terbaik negeri, Jay Subyakto, HELLO! Indonesia dikejutkan oleh udara pegunungan yang seketika menerpa saat pintu gerbang town house tempat rumah mereka berada dibuka. Meski berlokasi di kawasan timur Jakarta dan tidak jauh dari pusat kota, hawa sejuk yang melingkupi rumah itu seakan-akan membawa kita ke daerah Puncak. Kepada HELLO! Indonesia, Elvara Subyakto menuturkan kisah rumah cahaya nan asri ini. 

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Sebuah bangunan berwarna abu-abu yang didominasi oleh warna hijau dari tumbuhan merambat yang tampak menjulur subur di sekitar rumah serta dinding kaca besar tampak menyambut kedatangan HELLO! Indonesia kali ini. Lukisan besar karya Eko Nugroho tampak menjaga lorong menuju pintu masuk rumah. Unsur baja dan kayu pun muncul menjadi dua unsur utama yang digunakan dalam rumah yang memiliki luas 450 meter persegi ini. Sang pemilik mengatakan bahwa ia dan keluarga memang belum begitu lama menghuni rumah tersebut, namun ia sudah jatuh cinta kepada rumah ini sejak pandangan pertama.

“Awalnya saya mengetahui tentang keberadaan proyek Tanah Teduh ini dari salah satu teman saya Yori Antar, seorang arsitek. Yori mengatakan bahwa sang pengembang, Ronald Akili sedang mengerjakan satu proyek town house unik, berbeda dari town house kebanyakan,” tutur Elvara membuka perbincangan sore itu. “Ternyata perbedaannya itu karena setiap rumah yang dibangun akan dikerjakan oleh arsitek yang berbeda, di antaranya yang saya tahu adalah Yori Antara, Adi Purnomo, Andra Matin, dan Antony Liu,” lanjutnya lagi.

Turut diundang dalam peluncuran proyek town house ini, Elvara sempat merasa kecewa karena ternyata sang pengembang belum akan menjual rumah-rumah di dalam kompleks Tanah Teduh ini. “Tetapi ketika tiba-tiba saya diberitahu bahwa rumah-rumah di Tanah Teduh akan segera dipasarkan, saya langsung membeli rumah ini, maklum saja saya sudah benar-benar jatuh cinta pada rumah ini sejak pertama kali melihatnya,” tuturnya lagi sambil tersenyum.

LIGHT & LIGHT HOUSE 
Pilar-pilar tinggi berwarna abu-abu, tangga metal dan juga dinding kayu berpadu apik dengan kolam kecil yang menghiasi sekeliling rumah yang diberi nama L&L House ini, kependekan dari Light & Light House. “Dinamakan Light & Light House karena rumah ini banyak disinari oleh cahaya alami dari alam. Kaca-kacanya juga besar, banyak ruang terbuka di atasnya dan juga ceiling yang tinggi. Rumah ini memang lain dari yang lain,” lanjut perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di bidang fashion di London ini.

“Rumah ini saya beli dalam kondisi bangunan jadi, namun interior di dalam masih kosong. Akhirnya saya dan Mas Jay pun turun tangan sendiri untuk memilih perabotan yang akan mengisi dan juga menghiasi rumah kami. Mas Jay mendesain beberapa rak yang ada di dalam rumah, ada juga perabot yang saya pesan langsung dari Inggris,” jelas Elvara menambahkan. “Beberapa perabot juga kami beli di Jakarta, yaitu di Designclopedia. Kebetulan saya dan Mas Jay suka sekali dengan barang-barang yang dimiliki oleh mereka. Selebihnya hiasan di rumah ini adalah lukisan-lukisan, baik milik kami atau pun warisan dari ayah Mas Jay, beberapa benda seni hasil karya Mas Jay, barang-barang vintage, dan beberapa barang koleksi kami yang kami bawa dari rumah lama,” jelasnya.

SEJARAH DALAM RUMAH 
Memiliki suami seorang pelaku seni membuat Elvara belajar banyak tentang arti pentingnya sejarah, ia mengaku bahwa Jay selalu menekankan pentingnya sisi sejarah dalam rumah. “Meskipun rumah itu adalah rumah baru, tetap harus ada sentuhan sejarahnya. Mengingat rumah itu adalah bagian dari diri kita, jadi kita harus selalu menyertakan unsur-unsur yang sudah pernah kita lewati sebelumnya. Bagi kami, sejarah itu tercermin dari barang-barang seperti lukisan yang sudah ada sejak saya dan Mas Jay kecil, benda seni yang pernah dipamerkan oleh Mas Jay, buku-buku yang merupakan kombinasi antara buku fashion milik saya dan buku film serta musik milik Mas Jay,” ungkap Elvara sambil sesekali mengajak bercanda sang putri, Kaja Anjali Subyakto yang belum lama pulang dari sekolahnya.

Melihat ke sekeliling rumah, hanya satu foto yang dipajang di rumah ini, “Memang tidak terlalu banyak foto yang dipajang di rumah ini, karena kami tidak ingin rumah seperti rumah orang kebanyakan. Karena menurut saya, terlalu banyak foto malah bisa merusak estetika rumahnya.

Lagi pula dari dulu kami memang tidak pernah mengekspresikan sesuatu melalui foto, tetapi lebih memilih pernyataan diri lewat lukisan atau buku,” tuturnya lagi. Elvara juga mengaku bahwa ia dan suami memiliki kegemaran berburu benda-benda antik, hal ini terlihat dari banyaknya benda antik yang tersebar di sekitar rumah, mulai dari berbagai hiasan gantung kuningan yang berasal dari India yang menghiasi meja makan dan juga gantora dari Bali yang diletakkan di meja halaman belakang rumah. “Kami memang lebih memilih barang antik dibanding yang baru, karena takutnya terlalu sama desainnya dengan rumah orang lain. Hal ini membuat kami sering berburu benda- benda antik saat kami berada di luar kota atau pun luar negeri. Seperti misalnya jika kebetulan kami berada di Inggris, kami akan singgah ke Portobello, atau jika sedang mampir ke Solo kami mendatangi Pasar Antik Triwindu. Tempat yang terkenal dengan barang antiknya, rata-rata sudah kami kunjungi,” papar Elvara. “Tetapi meski kami menggemari barang antik, benda yang kami pilih selalu berhubungan dengan desain dan elemen utama rumah ini. Itu juga alasan kami tidak menyewa jasa desainer interior. Karena menurut kami, kami adalah orang yang lebih memahami rumah ini,” tuturnya lagi.

Berbicara tentang arti sebuah rumah, Elvara mengatakan bahwa baginya dan suami, rumah adalah gambaran jiwa. “Sebuah rumah bukanlah sebuah tempat, buatlah rumah ada di dalam jiwa dan pikiran kita, sehingga seluruh kenangan, cinta dan pembelajaran ada juga di dalamnya. Dengan demikian rumah akan selalu hadir kemana pun kita melangkah,” papar perempuan yang memulai kariernya di bidang seni pada tahun 1990.

LINI FASHION DAN PERSIAPAN KONSER 
Selain sibuk dengan kesehariannya mengurus rumah dan juga beryoga, Elvara Subyakto masih tetap disibukkan dengan kegiatan lainnya seperti mendesain baju yang merupakan label fashion miliknya sendiri, label Tiga. “Proyek ini kebetulan saya mulai dengan kedua saudara perempuan saya. Kami memasok hasil desain kami ke Alun-Alun Indonesia (salah satu department store di Jakarta- red),” ungkapnya. “Semua proses saya lakukan sendiri, mulai dari proses sketsa desain awal, pemilihan motif dan juga warna. Kebetulan juga kami memiliki workshop sendiri di bilangan Iskandarsyah,” paparnya.

“Sementara Mas Jay jauh lebih sibuk daripada saya. Mas Jay sedang mempersiapkan pertunjukan Teater Gandari bersama Gunawan Mohammad. Gunawan berperan sebagai penulisnya, sementara Mas Jay sebagai sutradara dan sutradara kreatif. Ia juga sedang mempersiapkan sebuah konser,” tutur Elvara sambil menutup percakapannya dengan HELLO! Indonesia sore itu.
 
TEKS: SYAHRINA PAHLEVI
FOTO: GANANG ARFIARDI
PENGARAH GAYA: LISTYA DIAH
PENATA RIAS: NITA JS (087883040818)

Sumber: Majalah HELLO! Indonesia, April 2015 Edition
Rubrik: Home Swet Home

City Tour ala Jakarta, kata kuncinya: SABAR


Called me norak, or whatever you want but I freakingly happy when finally able to try the double decker bus city tour Jakarta..yeaaaaaaaaaaaaaah!! Semuanya bermula dari jadwal long weekend minggu lalu, tanggal merah di hari sabtu secara menggembirkan berarti bahwa kelas bahasa Korea yang saya ikuti setiap hari Sabtu juga libur. Berbekal perasaan jenuh dengan kunjungan ke (berbagai) pusat perbelanjaan yang rutin saya dan teman-teman lakukan setiap akhir minggu akhirnya kami memutuskan untuk mencoba fasilitas wisata baru di Jakarta.

Bus City Tour Jakarta yang disediakan oleh pemerintah kota Jakarta ini rasanya baru berumur kurang dari satu tahun. Satu kemajuan pastinya, akhirnya Ibu Kota Indonesia bisa mempunyai satu fasilitas wisata keliling kota yang layak bahkan bisa dibanggakan (kondisinya saat ini). Saya beserta keempat teman saya, Sri, Kiki, Danti dan Ratna menunggu bus tersebut dari depan halte bus yang berada tepat di depan gedung Sarinah di jalan Jenderal Sudirman. Setengah jam berlalu, kami masih asyik mengobrol menunggu, satu jam berlalu mulai berisik protes, satu setengah jam berlalu akhirnya kami memutuskan jika dalam tempo setengah jam lagi bus tidak datang maka kami akan langsung ke Monas saja.

Setengah jam kemudian,
Tampaknya hari itu memang rejeki kami untuk menjajal bus city tour Jakarta, bus tingkat berwarna ungu dan kuning berhenti di halte bus Sarinah. Serta merta kami pun naik ke lantai dua bus ini. Kesan pertama saat pintu bus ini dibuka adalah ramah. Petugas bus menymabut seluruh penumpang dengan senyuman lebar dan membantu seluruh penumpang yang akan naik ke dalam bus. Ada beberapa peraturan yang berlaku selama kita berada di dalam bus ini, yaitu dilarang lari-larian di dalam bus, dilarang makan dan minum, dilarang berdiri. Senangnya saat saya menyadari bahwa seluruh tampaknya mematuhi seluruh peraturan tersebut. Interior bus terlihat sangat bersih dan terjaga, tidak ada jejak vandalisme yang biasanya ada di dalam bus-bus umum di Jakarta.

Jalur yang dilalui oleh bus city tour Jakarta ini adalah Bundaran HI - Pasar Baru - Monas, sampai kemarin saya naik tarifnya adalah gratis. Kabarnya nanti ke depannya akan dikenakan biaya setiap naik bus tersebut, tapi entah kapan. Bus ini tudak bisa berhenti di sembarang tempat, bus hanya berhenti di halte-halte tertentu yaitu Monas Merdeka Barat, Balai Kota, Sarinah, Bundaran Hotel Indonesia, Museum Nasional Merdeka Barat, Pecenongan, Pasar Baru Gedung Kesenian Jakarta, Mesjid Istiqlal dan Monas Merdeka Utara. Para penumpang bisa turun di beberapa titik yang menjadi lokasi wisata seperti Museum Nasional, Pasar Baru, Masjid Istiqlal dan juga Monumen Nasional. Total waktu yang kami butuhkan untuk berkeliling kota menggunakan bus ini hanya 15 menit, mungkin juga karena lalu lintas Jakarta yang sangat bersahabat di kala weekend tiba. Kalau dihitung-hitung waktu menunggu lebih lama dibandingkan lamanya waktu naik bus, ya mungkin memang kata SABAR menjadi kunci saat ingin mencoba fasilitas yang satu ini. Semoga ke depannya jalur keliling kota ini diperbanyak begitu juga dengan armada busnya. Amin.

Menikmati pemandangan ibu kota belum lengkap rasanya tanpa mengabadikannya, berikut beberapa gambar yang berhasil saya abadikan sore itu.


The Weekenders!!
Enjoy Jakarta!!
Gedung Filateli Jakarta
Patung Kuda di Jl. Medan Merdeka
Dari seberang Menara Cakrawala

Gereja Katedral Jakarta

Istana Kepresidenan


The Famous, Monumen Nasional

Adios... ^_^